15,6% Warga Malaysia Mengidap Diabetes, Banyak Tak Sadar

Bayu K. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
15,6% Warga Malaysia Mengidap Diabetes, Banyak Tak Sadar

Gambar atau konten salah?

Diabetes kini menjadi salah satu masalah kesehatan paling serius yang dihadapi dunia. Di Indonesia, data dari Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan bahwa satu dari sepuluh orang yang berusia di atas 40 tahun saat ini hidup dengan diabetes melitus.

Penyakit gula darah ini sering disebut sebagai mother of diseases atau induk dari segala penyakit. Alasannya sederhana: kadar gula darah yang tinggi secara perlahan tapi pasti merusak pembuluh darah dan saraf. Kerusakan itu kemudian memicu komplikasi berbahaya di berbagai organ tubuh. Mulai dari penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, kebutaan, hingga risiko amputasi.

Yang lebih mengkhawatirkan, kasus diabetes kini meledak di usia produktif. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga menjadi perhatian serius negara tetangga, Malaysia. Di sana, ledakan kasus diabetes dilaporkan sudah mengancam produktivitas kerja, merusak kualitas hidup sehari-hari, bahkan berpotensi mengguncang ketahanan ekonomi jangka panjang.

Isu krusial ini dibahas dalam agenda Diabetes Conference 2026 yang digelar di Kuala Lumpur baru-baru ini. Para ahli sepakat bahwa penanganan diabetes harus dirombak total dari hulu. Sebab, banyak orang tidak menyadari kondisi mereka bisa semakin parah.

Berdasarkan data National Health and Morbidity Survey (NHMS), saat ini 15,6 persen orang dewasa di Malaysia hidup dengan diabetes. Lebih miris lagi, sekitar 5,9 persen warga lainnya sebenarnya memiliki kadar glukosa darah yang sangat tinggi. Tapi mereka tidak pernah menyadarinya karena merasa tubuhnya sehat-sehat saja.

Kondisi ini diperparah oleh fakta klinis: 54,4 persen populasi dewasa di Malaysia mengalami kelebihan berat badan alias obesitas.

Banyak Orang Baru Sadar Saat Sudah Parah

Spesialis transformasi fisik sekaligus pendiri industri kebugaran Badcave Training Facility, Murad Zaidi, memperingatkan bahwa banyak orang sering keliru memahami perjalanan penyakit ini. Kebanyakan pasien baru panik mencari bantuan medis ketika kondisinya sudah masuk tahap komplikasi berat.

"Orang berpikir diabetes dimulai ketika vonis dokter ditegakkan. Padahal tidak. Diagnosis itu sering kali hanyalah momen ketika masalah tersebut akhirnya terdeteksi setelah sekian lama," tegas Murad, dikutip dari The Sun Malaysia.

Menurutnya, diabetes adalah hasil akhir dari disfungsi metabolisme jangka panjang yang berjalan secara perlahan. Saat pasien datang ke klinik, tubuh mereka biasanya sudah mengalami kerusakan. Kerusakan itu berupa resistensi insulin, kelelahan kronis, obesitas sentral atau perut buncit, gangguan tidur akut, hingga ketergantungan obat-obatan.

Pekerja Kantoran dan Pemilik Bisnis Paling Rentan

Murad menyoroti bahwa pola disfungsi metabolisme ini paling subur melanda kelompok profesional urban dan pemilik bisnis di wilayah perkotaan. Kelompok pekerja ini rentan karena terus-menerus beroperasi di bawah tekanan stres tinggi, kurang tidur, nutrisi buruk, dan minim aktivitas fisik atau sedentary lifestyle.

Ia menegaskan, fluktuasi gula darah yang tidak stabil secara klinis langsung menghancurkan performa kerja seseorang.

"Jika gula darah Anda tidak stabil, tidur Anda buruk, energi Anda tidak konsisten, dan komposisi tubuh Anda memburuk," kata Murad.

"Itu memengaruhi cara Anda berpikir atau brain fog, cara Anda memimpin, cara Anda bekerja, hingga cara Anda hadir di rumah," sambungnya.

Beberapa tanda peringatan dini dari tubuh yang kerap diabaikan oleh pekerja kantoran meliputi:

  • Penumpukan lemak atau penambahan berat badan yang berpusat di area perut.
  • Munculnya rasa lelah atau mengantuk yang luar biasa sesaat setelah makan, atau yang dikenal sebagai food coma.
  • Kabut otak atau brain fog, di mana mendadak sulit berkonsentrasi saat berpikir.
  • Keinginan kuat untuk terus-menerus makan berlebihan atau craving.
  • Proses pemulihan fisik yang sangat lambat saat tubuh kelelahan.

Sebagai solusinya, Murad menekankan bahwa perbaikan tidak bisa dilakukan hanya dengan sekadar diet atau cara instan. Memperbaiki kesehatan metabolisme membutuhkan pendekatan holistik yang komprehensif. Mulai dari manajemen stres, perbaikan kualitas tidur, gerakan aktif, hingga nutrisi seimbang.

Ia juga menekankan pentingnya menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab pribadi, di samping program kesehatan yang digulirkan oleh pemerintah.

"Tidak ada dokter, pelatih olahraga, ataupun suplemen mahal yang dapat mengatasi gaya hidup yang merusak tubuh Anda setiap hari," pungkasnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa diabetes bukan sekadar masalah medis, tapi juga masalah gaya hidup. Banyak orang yang merasa sehat ternyata menyimpan risiko tinggi. Kesadaran untuk memeriksakan diri secara rutin dan mengubah kebiasaan sehari-hari menjadi kunci utama untuk mencegah ledakan kasus ini semakin parah.

diabetesgula darahkomplikasiobesitasgaya hidupmetabolismekesadaran

Komentar

Memuat komentar...