Revisi RUPTL 2025‑2034: Adaptasi Energi Indonesia

Dewi M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 74 dibaca
Bisik.id
Revisi RUPTL 2025‑2034: Adaptasi Energi Indonesia

Gambar atau konten salah?

JakartaKementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menyiapkan revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025‑2034 untuk menyesuaikan kebijakan kelistrikan dengan kebutuhan listrik nasional yang terus berkembang.

RUPTL adalah dokumen strategis yang memetakan kapasitas pembangkit listrik dan distribusi energi selama satu dekade. Revisi ini bertujuan agar regulasi lebih adaptif terhadap perubahan teknologi dan pasar energi.

Di Gedung DPR, Tri Winarno, Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, menyatakan bahwa RUPTL akan mengalami beberapa penyesuaian. Ia mengatakan, “Ada beberapa memang untuk RUPTL itu yang memang ada koreksilah kira‑kira seperti itu. Nah kita lakukan pembahasan. Yang jelas yang seperti saya sampaikan tadi bahwa setiap regulasi kita buat supaya gimana caranya regulasi lebih adaptif lah kira‑ira gitu,” ujar Tri pada Rabu, 15 April 2026.

Tri menekankan bahwa setiap perubahan akan melalui proses diskusi mendalam agar kebijakan tetap relevan dengan dinamika energi di Indonesia.

Wacana revisi ini pertama kali diungkapkan oleh Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, saat ia ditunjuk oleh Presiden Prabowo Subianto untuk memimpin Satgas Transisi Energi Baru Terbarukan. Ia menegaskan, “Revisi ini guna mempercepat dedieselisasi hingga membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).”

Setelah rapat di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Bahlil mengutarakan, “Dan saya juga akan berencana untuk mengubah RUPTL,” kata Bahlil usai rapat pada Kamis, 12 Maret 2026. Ia menambahkan bahwa transisi ke pembangkit listrik berbahan bakar solar menjadi penting, terutama di tengah kondisi geopolitik Timur Tengah yang memanas dan memengaruhi pasokan serta harga minyak dunia.

Bahlil menegaskan, “Karena dalam kondisi geopolitik perang ini tidak bisa kita memastikan bahwa energi kita ini akan seperti apa dalam konteks jangka panjang.” Ia menekankan pentingnya mengoptimalkan potensi energi terbarukan di dalam negeri untuk menjaga ketahanan energi Indonesia di tengah gejolak global.

RUPTL 2025‑2034 baru saja diluncurkan oleh Bahlil di Kantor Kementerian ESDM pada Senin, 26 Mei 2025. Ia menjelaskan bahwa total kapasitas pembangkit listrik akan meningkat menjadi 69,5 GW, dengan komposisi 42,6 GW energi baru terbarukan (EBT), 10,3 GW storage, dan 16,6 GW fosil. Sebanyak 76% dari kapasitas tersebut akan berasal dari energi terbarukan.

Revisi ini menandai langkah strategis pemerintah untuk menyeimbangkan antara kebutuhan energi nasional dan komitmen terhadap transisi energi bersih, sambil memperhatikan ketidakpastian pasar global.

RUPTL 2025-2034Energi TerbarukanPembangkit Listrik Tenaga SuryaTransisi Energi Baru TerbarukanKementerian Energi dan Sumber Daya MineralGeopolitik Timur TengahKapasitas Pembangkit 69,5 GW

Komentar

Memuat komentar...