Revitalisasi Satuan Pendidikan Papua Barat Daya Dijalankan

Cahyo S. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 97 dibaca
Bisik.id
Revitalisasi Satuan Pendidikan Papua Barat Daya Dijalankan

Gambar atau konten salah?

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti resmi meluncurkan program revitalisasi satuan pendidikan di wilayah Papua Barat Daya pada Kamis 28 Mei 2026. Program ini menargetkan pembangunan ruang kelas baru, toilet, perpustakaan, dan ruang kepala sekolah.

Wilayah Papua Barat Daya mencakup sekitar 160 ribu murid, lebih dari 1.200 sekolah, dan hampir 10 ribu guru. Semua tenaga pendidik dan siswa tersebar di lebih dari 900 kampung, menambah beban pemerintah pusat dan daerah dalam upaya pemerataan layanan pendidikan.

Menteri Mu'ti menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang nyaman bagi murid. “Sekolah adalah rumah kedua bagi anak-anak kita. Dengan itu, sekolah adalah miniatur Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Program revitalisasi tahun 2026 akan difokuskan pada sekolah terdampak bencana, sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sekolah dengan kerusakan fisik berat. “Dengan revitalisasi ini, tentu kami berharap tidak hanya sekolah yang kita perbaiki, tapi juga berusaha untuk dapat meningkatkan ekonomi lokal, dan tentu kita dapat bersama-sama memajukan pendidikan di tanah air kita,” tambahnya.

Di tahun 2025, 27 sekolah di Kota dan Kabupaten Sorong menerima bantuan revitalisasi. Terdapat 12 sekolah di Kota Sorong dengan total bantuan sebesar Rp 4,9 miliar, sementara 15 sekolah di Kabupaten Sorong menerima bantuan Rp 22 miliar.

Untuk tahun 2026, jumlah sekolah yang menjadi sasaran program meningkat menjadi 39. Lima sekolah di Kota Sorong akan menerima bantuan dengan total anggaran Rp 3,6 miliar, dan 34 sekolah di Kabupaten Sorong akan mendapatkan Rp 16,5 miliar.

SMK Negeri 1 Kota Sorong menjadi salah satu penerima bantuan di tahun 2025. Kepala SMK, AHP Ompusunggu, menjelaskan bahwa sekolahnya menerima fasilitas toilet dan perpustakaan. Dengan sekitar 1.600 murid, keterbatasan toilet menjadi tantangan nyata. Selain itu, pembangunan perpustakaan baru akan dikembangkan secara digital di masa depan.

Murid SMKN 1 Kota Sorong, Marlince Yadafat, mengirim surat terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto. “Surat itu sempat dibacakan di depan Mendikdasmen Mu'ti. Dalam surat tersebut, ia mengucapkan terima kasih dan menyatakan program ini memberikan dampak langsung pada kenyaman murid belajar di sekolah. Sekolahnya yang mendapat bantuan perpustakaan, membuat murid lebih semangat membaca dan belajar. Selanjutnya, pembangunan toilet yang nyaman dan bersih juga sangat disyukurinya. Ia menyebut akan menjaga dan memanfaatkan fasilitas ini dengan sebaik-baiknya. Melalui dukungan sarana pendidikan tersebut, Marlince mengaku murid di Tanah Papua dapat belajar dengan lebih nyaman dan semakin termotivasi untuk mengembangkan potensi diri.” Marlince menutup suratnya dengan ucapan terima kasih kepada Presiden dan Menteri Pendidikan.

SMA Negeri 5 Kabupaten Sorong juga menerima bantuan revitalisasi sebesar Rp 1,2 miliar. Kepala sekolah, Ficce Loppies, menjelaskan bahwa bantuan tersebut mencakup perbaikan ruang administrasi, rehabilitasi ruang kepala sekolah, tata usaha, ruang guru, laboratorium komputer, kimia, dan biologi, serta pembangunan ruang kelas baru. “Kami biasanya menerima murid sebanyak empat rombel. Di tahun ajaran 2026/2027, dengan adanya ruang kelas baru, maka kami bisa menambahkan satu rombel lagi,” ujar Ficce.

SD Negeri 21 Kabupaten Sorong mendapatkan bantuan sebesar Rp 1,2 miliar. Kepala sekolah, Alfina Lawerissa, mengungkapkan bahwa dana tersebut digunakan untuk merehabilitasi tiga ruang kelas, pembangunan ruang administrasi, dan Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Sebelumnya, kondisi ruang kelas kurang nyaman karena lantai pecah dan plafon rusak. Kini, sekolah tersebut telah rampung diperbaiki dan semakin nyaman untuk belajar.

Program revitalisasi juga menjangkau wilayah terpencil di Pulau Arar. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya, Adolof Kambuaya, menyatakan bahwa ini pertama kalinya menteri dapat sampai ke Pulau Arar. Sekolah di Pulau Arar yang menerima bantuan antara lain SMA Unimuda dan SD Inpres 27.

SMA Unimuda Pulau Arar menerima bantuan renovasi dan pembangunan kembali ruang belajar. Murid SMA Unimuda, Meske Solomina Sosir, menyebut sebelumnya banyak teman-temannya enggan ke sekolah karena kurang nyaman, tapi kini banyak yang sudah aktif kembali. “Pembangunan sudah selesai satu bulan lalu. Kelasnya sudah dimanfaatkan, sudah bisa belajar. Perasaannya sangat gembira. Setiap hari kalau pagi belum ada guru, pasti kita murid pertama datang,” ungkapnya.

SD Inpres 27 Kabupaten Sorong menerima bantuan pembangunan toilet, ruang UKS, dan rumah dinas guru. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sempat mengunjungi sekolah tersebut dan menyatakan bahwa sekolah siap dimanfaatkan.

Program revitalisasi ini menandai langkah konkret pemerintah dalam meningkatkan kualitas sarana pendidikan di Papua Barat Daya. Dengan memperbaiki fasilitas dasar seperti toilet, perpustakaan, dan ruang kelas, diharapkan tidak hanya meningkatkan kenyamanan belajar, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan memajukan pendidikan di wilayah terpencil.

Revitalisasi sekolahPapua Barat DayaSekolah 3TBantuan Rp 22 miliarPembangunan toiletPerpustakaan digitalEkonomi lokal

Komentar

Memuat komentar...