Ribuan Warga Berebut Gunungan Hasil Bumi di Grebeg Sura

Putri N. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Ribuan Warga Berebut Gunungan Hasil Bumi di Grebeg Sura

Gambar atau konten salah?

Ribuan orang sudah memadati area sekitar Baturraden, Kabupaten Banyumas, sejak pagi. Mereka datang untuk menyaksikan Grebeg Sura, sebuah tradisi tahunan. Puncak acaranya adalah perebutan gunungan hasil bumi yang tingginya mencapai lima meter. Dalam waktu kurang dari lima menit, gunungan itu habis diserbu warga.

Pantauan di lokasi menunjukkan, warga sudah berkumpul di sepanjang jalan yang akan dilalui arak-arakan sejak pukul 08.00 WIB. Gunungan setinggi sekitar lima meter itu diarak dari wana wisata sejauh satu kilometer. Prosesi dimulai saat rombongan memasuki area lokawisata. Sebelum gunungan diperebutkan, peserta terlebih dahulu melakukan ziarah ke area petilasan bawah.

Setelah ziarah, sesaji yang dibawa kemudian dilarung ke Sungai Gumiwang yang berada di dalam area lokawisata. Tak lama berselang, doa dipanjatkan. Begitu doa selesai, masyarakat langsung berebut gunungan hasil bumi. Isinya berupa gabah dan berbagai macam sayuran. Ada warga yang nekat memanjat gunungan. Ada juga yang terlihat jatuh dan terinjak-injak. Meski demikian, mereka tetap terlihat bahagia setelah berhasil mendapatkan hasil bumi.

Utami, warga Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden, mengaku baru pertama kali mengikuti tradisi ini. "Seru tadi rebutan gunungannya. Saya dapat kacang panjang, pare sama daun bawang. Nanti mau dimasak. Ini baru pertama kali datang ke acara Grebeg Sura," katanya.

Hal serupa disampaikan Praptini, warga Desa Pabuwaran. Ia mengaku senang meski harus berdesakan saat berebut hasil bumi. "Ini nanti buat dimasak. Tadi sempat terinjak-injak waktu rebutan gunungan, tapi tidak apa-apa. Demi dapat hasil bumi ini, ngalap berkah," ujar Praptini. Ia percaya gunungan membawa berkah.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyumas, Junaidi, mengatakan festival ini menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Lokawisata Baturraden. Menurutnya, semakin banyak wisatawan yang datang, dampaknya akan langsung dirasakan oleh pemerintah daerah dan masyarakat.

Selain dampak ekonomi, Junaidi menyebut festival ini juga menjadi wadah pelestarian seni budaya Banyumas. Berbagai kesenian seperti tari lengger hingga barongsai ditampilkan sebagai hiburan bagi masyarakat. "Ini adalah seni budaya yang harus terus diuri-uri. Tugas pemerintah memberikan fasilitasi agar seni budaya yang berkembang di Banyumas tetap hidup dan dilestarikan," ujar dia.

Junaidi menambahkan, Grebeg Sura juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan masyarakat. Seluruh desa di sekitar Baturraden ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan acara, termasuk menyiapkan gunungan hasil bumi. Gunungan itu menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen. "Ini bentuk gotong royong bersama. Gunungan menjadi simbol rasa syukur kepada Allah atas hasil bumi yang dihasilkan masyarakat sekitar Baturraden. Harapannya masyarakat semakin guyub, rukun, bersinergi dan berkolaborasi mengembangkan pariwisata," kata dia.

Grebeg Sura di Baturraden bukan sekadar perebutan hasil bumi. Tradisi ini menggabungkan unsur spiritual, budaya, dan pariwisata. Warga datang bukan hanya untuk mendapatkan sayuran gratis, tetapi juga untuk merasakan kebersamaan dan keberkahan yang diyakini menyertai acara tersebut. Antusiasme yang tinggi menunjukkan tradisi ini masih memiliki tempat kuat di hati masyarakat Banyumas.

Grebeg SuraBaturradengunungan hasil bumitradisi tahunanrebutanBanyumaswisata budaya

Komentar

Memuat komentar...