Rumah 2 Lawrence Terrace di Troedy Dijual lewat Lelang Online

Dian P. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Rumah 2 Lawrence Terrace di Troedy Dijual lewat Lelang Online

Gambar atau konten salah?

Di tengah pepohonan lebat yang menutupi bekas permukiman, berdiri rumah yang menjadi saksi terakhir kejayaan sekaligus kemunduran sebuah desa pertambangan di Inggris. Rumah itu, bernomor 2 Lawrence Terrace, kini menjadi satu‑satu hunian yang masih tersisa di Troedrhiwfuwch, yang lebih dikenal sebagai Troedy. Desa ini telah berubah menjadi desa hantu.

Rumah ini ditawarkan untuk dijual melalui lelang daring. Harga awalnya 35.000 pound sterling, setara dengan Rp 832 juta. Broker dari Paul Fosh Auctions, Sean Roper, mengatakan properti tersebut akan dilelang secara online mulai 23 Juni hingga 25 Juni 2026 waktu setempat.

Bangunan ini memiliki dua ruang tamu, dapur, dan kamar mandi di lantai dasar. Di lantai atas terdapat tiga kamar tidur. Rumah tersebut juga dilengkapi taman di bagian depan dan belakang serta sebuah gudang.

Meski masih berdiri kokoh, rumah itu kini tampak terisolasi. Pepohonan tinggi dan lebat di sekelilingnya menciptakan kesan seolah bangunan tersebut tersembunyi di tengah hutan, jauh dari kehidupan yang pernah ramai di kawasan itu.

Di lokasi tersebut masih ada satu bangunan lain. Bangunan itu tidak lagi dihuni dan hanya berupa bekas kantor pos. Selain itu, terdapat pula sebuah tugu peringatan perang yang menjadi penanda sejarah desa tersebut.

Puluhan tahun lalu, Troedrhiwfuwch merupakan permukiman yang hidup dan berkembang berkat industri pertambangan batu bara. Sebanyak 94 rumah pernah berdiri di desa itu. Selain perumahan, desa tersebut juga memiliki berbagai fasilitas yang menunjang kehidupan masyarakat, mulai dari kapel, gereja, toko, pub, sekolah, perpustakaan, hingga kantor pos.

Rumah‑rumah warga tersebar di tiga ruas jalan utama, yakni High Street, Chapel Road, dan Lawrence Terrace. Aktivitas masyarakat berlangsung normal layaknya desa‑desa pertambangan lain di wilayah tersebut.

Namun, semuanya berubah ketika pihak dewan lokal menemukan ancaman geologis yang serius. Pergerakan tanah di kawasan perbukitan sekitar desa dinilai berpotensi memicu longsor besar yang dapat menghancurkan seluruh permukiman dalam waktu singkat.

Untuk keselamatan warga, pemerintah setempat meminta seluruh penduduk meninggalkan desa dan pindah ke lokasi yang lebih aman. Risiko bencana yang mengintai dianggap terlalu besar untuk diabaikan.

Seiring eksodus penduduk, bangunan‑bangunan di desa itu satu per satu diratakan. Rumah‑rumah yang sebelumnya menjadi tempat tinggal keluarga pekerja tambang dibongkar hingga nyaris tidak menyisakan jejak kehidupan. Anehnya, di antara puluhan bangunan yang dihancurkan, rumah nomor 2 Lawrence Terrace justru tetap dibiarkan berdiri.

“Mengapa rumah tiga kamar tidur biasa ini bisa bertahan sementara yang lain hancur masih menjadi misteri, tetapi mungkin ini adalah kisah yang ingin diungkap oleh pemilik baru properti tersebut,” kata Sean Roper.

Rumah itu bukan sekadar properti yang dijual kepada penawar tertinggi. Bangunan tersebut juga menjadi simbol terakhir dari sebuah desa yang pernah hidup, berkembang, lalu perlahan menghilang akibat ancaman alam.

Bagi siapa pun yang kelak membelinya, rumah itu menawarkan lebih dari sekadar tempat tinggal. Ia menyimpan jejak sejarah sebuah komunitas yang pernah tumbuh di tengah industri batu bara, sebelum akhirnya lenyap dan meninggalkan satu‑satu saksi yang masih bertahan hingga hari ini.

Rumah 2 Lawrence Terrace, dengan segala keruntuhan di sekitarnya, menjadi pengingat bahwa bahkan tempat yang tampak tak berdaya sekalipun dapat menyimpan cerita yang tak terhitung. Ia menunggu tangan baru yang akan menelusuri jejak‑jejak masa lalu dan menulis bab selanjutnya dalam sejarah Troedy.

TroedrhiwfuwchRumah 2 Lawrence TerraceLelang onlineDesa hantuTambang batu baraLongsorSejarah

Komentar

Memuat komentar...