Rumah Bukan Sekadar Tempat, Ini Kata Studi
Gambar atau konten salah?
Setiap orang punya perasaan berbeda soal rumah. Ada yang langsung ingin keluar setelah seharian penat. Tapi ada juga yang justru merasa paling tenang saat sudah kembali ke dalam rumah.
Membaca buku, ngobrol dengan keluarga, atau sekadar duduk diam menikmati kesunyian—bagi sebagian orang, rumah adalah tempat paling nyaman. Pertanyaannya, kenapa ada orang yang punya ikatan emosional begitu kuat dengan rumahnya?
Sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Environmental Psychology pada 2024 mencoba menjawabnya. Penelitian ini dipimpin oleh Benjamin R. Meagher dari Departemen Psikologi Hope College. Judulnya Predicting Home Attachment Through Its Psychological Costs and Benefits.
Studi ini melibatkan lebih dari 650 responden. Mereka dibagi dalam dua studi terpisah. Tujuannya sederhana: mencari tahu faktor psikologis apa yang membuat seseorang merasa dekat secara emosional dengan rumahnya.
Hasilnya cukup menarik. Ternyata, rasa betah di rumah lebih banyak ditentukan oleh pengalaman yang dirasakan di dalamnya, bukan semata-mata kepribadian seseorang. Bukan soal apakah kamu introver atau ekstrover. Lebih ke apa yang kamu rasakan saat berada di sana.
Tiga faktor utama muncul: pemulihan emosional, interaksi sosial yang positif, dan ketersediaan ruang pribadi yang memadai.
Pada studi pertama, peserta diminta bercerita tentang pengalaman mereka di rumah dengan kata-kata sendiri. Sebanyak 86,7 persen responden menyebut rumah sebagai tempat untuk memulihkan diri dari tekanan dan stres sehari-hari. Angka ini paling dominan dibanding alasan lainnya.
Selain pemulihan emosional, responden juga menyebut privasi, rasa aman, emosi positif, dan kesempatan melakukan berbagai aktivitas di rumah sebagai alasan mereka merasa nyaman.
Studi kedua sedikit berbeda. Peserta diminta menilai berbagai aspek rumah mereka secara lebih terstruktur. Hasilnya konsisten: pengalaman emosional yang memulihkan, hubungan sosial yang positif, dan ruang fisik yang memadai—masing-masing berkontribusi secara independen terhadap kuatnya rasa keterikatan seseorang dengan rumah.
Artinya, ukuran rumah atau tata letak memang berpengaruh. Tapi pengalaman emosional jauh lebih menentukan. Rumah bukan sekadar bangunan. Ia adalah perasaan.
Sebaliknya, orang yang sering mengalami konflik dengan penghuni rumah, tinggal di ruang sempit, kurang privasi, atau terus-menerus khawatir soal kebersihan rumah cenderung memiliki ikatan emosional yang lebih rendah dengan tempat tinggalnya.
Jadi kenapa ada orang yang lebih suka di rumah? Menurut para peneliti, jawabannya bukan karena mereka tinggal di sana. Tapi karena rumah mampu memenuhi kebutuhan emosional, sosial, dan fisik mereka.
Rumah yang memberi ketenangan, kenyamanan, hubungan hangat dengan orang-orang di dalamnya, serta ruang yang cukup—itulah yang membuat seseorang selalu ingin kembali.
Para penulis studi menyimpulkan bahwa faktor emosional, khususnya perasaan pulih dari kelelahan mental setelah berada di rumah, adalah faktor paling kuat yang membentuk rasa keterikatan seseorang terhadap rumahnya. Hubungan sosial dan kondisi fisik rumah tetap berperan, tapi pengalaman psikologis berupa rasa nyaman dan segar kembali setelah pulang ke rumah menjadi alasan utama mengapa sebagian orang lebih betah menghabiskan waktu di dalam rumah.
Studi ini menunjukkan bahwa rumah bukan sekadar tempat berteduh. Ia adalah ruang psikologis. Tempat di mana seseorang bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa tekanan. Dan bagi sebagian orang, itu adalah alasan yang cukup untuk tidak ingin pergi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
