Imunisasi Terlewat, Remaja Disabilitas di Samarinda Patah Tulang

Ani R. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Imunisasi Terlewat, Remaja Disabilitas di Samarinda Patah Tulang

Gambar atau konten salah?

Di Samarinda, Kalimantan Timur, seorang remaja perempuan bernama Danisa harus memulai lagi perjuangannya untuk bisa bergerak. Selama bertahun-tahun, ia belajar merangkak dan berpegangan pada dinding rumah. Tapi sekarang, semuanya harus dimulai dari nol.

Penyebabnya? Danisa mengalami patah tulang setelah kejang. Bocah berusia 13 tahun ini adalah penyandang disabilitas. Ibunya, Siti Khadijah, bercerita bahwa Danisa tidak pernah mendapat imunisasi saat bayi.

"Kondisi kami waktu itu susah, fasilitas kesehatan juga jauh, jadi Danisa tidak sempat imunisasi," kata Siti di rumahnya di Jalan Poros Samarinda-Bontang, Kelurahan Sungai Siring, Samarinda Utara, pada Sabtu, 4 Juli 2026.

Menurut Siti, ekonomi keluarga sedang sulit. Akses ke puskesmas atau rumah sakit juga jauh dari tempat tinggal mereka. Itulah kenapa Danisa tidak diimunisasi.

Ayah sambung Danisa, Yulifiadi, menambahkan bahwa patah tulang itu terjadi beberapa waktu lalu. Sehari sebelumnya, Danisa masih bisa bermain dengan adik-adiknya. Ia juga menonton video di ponsel seperti biasa.

"Paginya istri saya teriak karena Danisa kejang. Saya kira cuma digigit serangga. Waktu mau diangkat, ternyata kakinya sudah patah dan bengkok," ujar Yulifiadi.

Danisa lahir prematur. Sejak kecil, ia punya keterbatasan fisik. Ia tidak bisa berjalan normal. Tapi perlahan, ia mulai bisa merangkak. Ia juga bisa berpindah tempat sambil berpegangan pada dinding.

"Karena patah tulang itu, yang tadinya mulai bisa jalan jadi tidak bisa. Selain berobat, Danisa juga harus belajar bergerak dari awal," jelas Yulifiadi.

Bukan cuma soal fisik. Danisa juga beberapa kali kejang tanpa demam. Keluarga belum tahu apakah kejang itu terkait dengan kondisi kesehatannya yang lain.

"Ini masih kami bawa kontrol ke dokter. Jadi masih menunggu penjelasan dari dokter, apa penyebab kondisinya," kata Yulifiadi.

Karena keterbatasan fisiknya, Danisa belum pernah sekolah formal. Yulifiadi bekerja sebagai buruh bangunan. Meski Danisa bukan anak kandungnya, ia mengaku sudah menganggap Danisa seperti anak sendiri sejak menikah dengan Siti Khadijah. Apalagi, ayah kandung Danisa sudah meninggal sejak Danisa masih kecil.

"Saya cuma berharap dia cepat sembuh, bisa ceria lagi, dan bisa jalan lagi," pungkas Yulifiadi.

Kondisi Danisa menunjukkan betapa pentingnya imunisasi sejak dini. Akses ke fasilitas kesehatan yang jauh dan ekonomi yang sulit bisa membuat anak-anak rentan terhadap penyakit. Danisa harus berjuang dua kali lipat—dari keterbatasan fisik yang sudah ada, dan sekarang dari patah tulang yang membuatnya kembali ke titik awal.

Danisapatah tulangkejangimunisasidisabilitasakses kesehatanSamarinda

Komentar

Memuat komentar...