Delapan Pilar Pasar Johar, Saksi Bisu Kebakaran 2015 yang Tak Pernah Dicat
Gambar atau konten salah?
Semarang — Delapan pilar di Pasar Johar, Semarang Tengah, masih berdiri tegak. Warnanya kusam, berbeda dari tiang-tiang lain yang dicat putih bersih. Bagi para pedagang di sana, tiang-tiang itu bukan sekadar penyangga bangunan. Mereka adalah saksi bisu dari peristiwa tahun 2015, saat api melalap habis pasar induk tersebut.
Para pedagang kini kembali berjualan. Di antara lapak-lapak mereka, di Pasar Johar Utara dan Tengah, delapan pilar itu masih mempertahankan luka-lukanya. Noda hitam dan warna kekuningan masih menempel. Beberapa bagian penyok, seperti bekas "bopeng" yang tak kunjung sembuh. Hampir 11 tahun sudah, tetapi bekasnya tidak pudar.
Seorang pedagang bernama Ari (39) mengaku tidak bisa melupakan kejadian itu setiap kali melihat pilar-pilar tersebut. "Lihat tiang itu nggak bisa lupa kebakaran saat itu, Mas," ujarnya. Ari sudah berjualan di Pasar Johar sejak 1996. Lapaknya yang menjual barang pecah belah di Pasar Johar Tengah persis berada di depan salah satu tiang yang tidak pernah direvitalisasi.
Bersama kakak perempuannya, Ruli (47), Ari menjalani hari-hari di pasar itu. Ruli bercerita tentang ikatan mereka dengan Pasar Johar. "Kisahku iki akeh. Lahir di sini ya, Ri? Besar di sini, cilik di Johar, sekolah ning Johar, dodol ning Johar, nikah ning Johar, balik meneh ning Johar," katanya sambil menyapa adiknya. Ari pun mengalami perjalanan hidup yang sama. "Waktu SD dulu bantu mbah goreng-gorengi. Kan mbahku jualan kuliner," kenang perempuan kelahiran Klaten itu.
Sebelum kebakaran, Ari dan Ruli menjual barang bekas atau second di Pasar Maling, kawasan Pasar Johar. Tahun 2015 menjadi tahun yang mencekam bagi mereka. Kebakaran terjadi pada malam hari, saat mereka sudah pulang. "Itu kan mau lebaran ya jadi pada nyetok (barang dagangan). Malamnya kebakaran, habis semua," cerita Ari. Ia masih ingat detailnya. "Waktu itu malam minggu, aku masih ingat Sabtu siang belanja. Barang datang masuk banyak. Malam habis, laris manis (barang hangus terbakar)."
Saat menyebutkan modal yang dikeluarkan, suara Ari tersedak. Barang yang dijualnya, meski bekas, diklaim asli. "Yang terakhir (sebelum kebakaran) itu (modal belanja barang) Rp 250 juta. Kan ori-ori (asli) sport-sport (pakaian olahraga)," katanya dengan mata berkaca-kaca. Api tidak hanya melalap barang yang baru dibeli. Stok lamanya juga hangus. "Kerugian sekitar Rp 1 M (miliar) karena ada stok lama, juga aset," ujarnya.
Ruli juga merasakan kenangan pahit yang sama. Ia ingat persis kapan kebakaran terjadi. "Kejadinnya setelah Isya, ingat betul saya, setelah arisan bapak-bapak terus ditelepon 'Johar kobong'. Aku ke sini," tutur perempuan yang dulu bekerja sebagai pegawai bank itu.
Pedagang lain, Rose (48), juga mengalami nasib serupa. Penjual camilan sejak 1997 di pasar induk itu tidak sanggup bercerita banyak. "Wah kalau diceritakan malah terenyuh, malah keingat semua. Baru di rumah (saat kebakaran) barusan pulang dari pasar," kata Rose. "Terus dengar-dengar kebakaran, habis sudah, gitu aja. Kalau diingat-ingat nanti malah nangis," imbuhnya. Seluruh dagangannya hangus terbakar. Tidak ada satu pun yang tersisa. "Kena semua, nggak ada satupun yang tersisa," ungkapnya.
Rose menjelaskan, pilar-pilar itu dulunya berwarna putih, sama seperti tiang lainnya. Namun setelah kebakaran, warnanya menjadi kusam. "Catnya dulu sama, putih gini. Ada berapa cagak, buat tanda saja. Ada berapa yang hitam di sana, nggak dicat," sebutnya. Menurut Rose, pilar bekas kebakaran sengaja tidak dicat agar menjadi kenangan. Namun ia sendiri enggan mengingat memori pahit itu. "Itu memang buat kenang-kenangan mungkin. Nggak tak ingat-ingat setelah kejadian itu. Diingat-ingat tidak bisa kembali, malah pingin nangis," tuturnya.
Bagi Ari, pilar-pilar itu adalah memori bisu. "Itu ada buat pengingat, ya. Itu buat cagar budaya saja, buat kenangan," katanya. Sebelum terbakar, pilar-pilar itu dicat krem. Bekas-bekas tambalan masih terlihat. "Sebelumnya warnanya krem. Itu kan ada bekas tembelan gitu. Aku masih merinding setelah cerita sama lihat pilar itu," pungkasnya.
Kepala Bidang Penataan dan Penetapan Dinas Perdagangan Kota Semarang, Bagas Yuwono Ario Negoro, membenarkan bahwa kedelapan pilar itu sengaja dibiarkan setelah kebakaran. "Betul (kedelapan pilar di Pasar Johar sengaja dibiarkan usai insiden kebakaran)," kata Bagas. Tujuannya adalah agar pilar-pilar tersebut menjadi cagar budaya. Namun, penetapan resmi sebagai cagar budaya harus menunggu 50 tahun sejak kejadian. "Setelah kebakaran itu dari kita membentuk tim TACB. Dan itu menjadi cagar budaya di Pasar Johar. Memang sengaja tidak diapa-apakan lagi," jelasnya. Bagas menyebut, pada 2015 jumlah pedagang di Pasar Johar mencapai 7.346 orang. Semuanya terdampak kebakaran. "Kalau pedagang kita pada waktu itu ada 7.346. Itu terdampak semua," sebutnya.
Pasar Johar sendiri dirancang oleh arsitek Ir Thomas Karsten dan diresmikan pada 9 Juni 1939. Pilar-pilar megah di sana menyangga atap dengan desain Cendawan. Desain Karsten tidak hanya soal kemegahan, tetapi juga fungsi. Struktur cendawan itu memberi ruang sirkulasi udara di bangunan yang luas. Peninggi di atapnya memungkinkan cahaya matahari masuk, sehingga bagian dalam pasar tidak gelap. Kualitas beton bangunan Pasar Johar pernah diteliti oleh tim dari UNIKA Semarang pada tahun 2006. Hasilnya, mutu beton mencapai K400 atau berkekuatan tekan 400kg/m2. Beton itu melindungi pemuaian besi saat kebakaran. Itulah sebabnya, ketika tragedi kebakaran hebat tahun 2015 melahap seluruh isi pasar, struktur bangunan utama masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Delapan pilar itu bukan sekadar tiang. Mereka adalah penanda. Bagi para pedagang, mereka adalah pengingat akan kerugian jutaan rupiah, stok barang yang lenyap, dan mimpi yang hangus dalam satu malam. Meski pasar telah kembali beraktivitas, bekas luka itu tidak akan pernah benar-benar hilang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Empat Warga Desa Ketitang Wetan Luka Diserang Gerombolan
15 Anak Lereng Merapi Pasti Bisa Sekolah
Polisi Buru Pelaku Pembuang Bayi di Toilet Kereta Sancaka
Mu'ti Cerita Hidup dari Beasiswa ke Beasiswa
Undip Minta Maaf Larang Wartawan Liput Kuliah Umum Menkeu
Pohon Tua Tumbang Timpa Truk di Boyolali, Akses Jalan Sempat Lumpuh
Berita Terbaru
Delapan Pilar Pasar Johar, Saksi Bisu Kebakaran 2015 yang Tak Pernah Dicat
Prancis ke Perempatfinal, Mbappe Pahlawan
OJK Wajibkan BPR Punya Modal Inti Rp6 Miliar
Bupati Mesuji Minta Empat Pembunuh Tapir Dihukum Berat
Kopi Picu Gula Darah? Ini Kata Ahli Gizi
Paket Liburan Keluarga The Trans Resort Bali Mulai Rp 2 Jutaan
Pranjs vs Maroko: Perempatfinal Piala Dunia 2026