Rupiah Menguat, Tutup Rp 17.708 per Dolar Senin, 15 Juni

Andi B. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Rupiah Menguat, Tutup Rp 17.708 per Dolar Senin, 15 Juni

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar rupiah mengalami kenaikan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026. Menurut data Bloomberg, rupiah menguat 0,85 % dan menutup pada level Rp 17.708 per dolar. Sebelum penutupan, rupiah pernah menekan dolar ke Rp 17.673,5, menguat 1,04 % pada pukul 11.26 WIB.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menguraikan dua faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang ini. Pertama, reaksi positif pasar terhadap perjanjian damai antara AS dan Iran. Kesepakatan ini menurunkan harga minyak mentah global, yang menjadi katalis bagi negara net importir seperti Indonesia.

“Turunnya harga minyak mentah dunia menjadi katalis positif penting bagi Indonesia yang berstatus sebagai net importir,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa penurunan harga minyak juga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan prospek neraca perdagangan Indonesia.

Menurut Sutopo, faktor global ini secara langsung memengaruhi indeks dolar (DXY), yang turun ke area 99,5 setelah pembukaan kembali Selat Hormuz. “Pengumuman dibukanya kembali Selat Hormuz ini secara instan meruntuhkan permintaan dolar AS sebagai aset safe‑haven dan menyeret Indeks Dolar turun ke area 99,5,” jelasnya.

Faktor kedua yang memengaruhi rupiah adalah kebijakan domestik Bank Indonesia. Pada bulan Mei, BI menaikkan suku bunga acuan (BI‑Rate) sebesar 75 basis poin. Sutopo menilai bahwa kenaikan ini memperkuat daya tarik imbal hasil aset dalam negeri.

“Kenaikan suku bunga acuan ini menjadi fondasi kuat untuk menjaga rupiah. Tanpa kebijakan agresif tersebut, rupiah disebut tidak akan cukup kuat memanfaatkan momentum pelemahan indeks dolar AS,” kata Sutopo. Ia juga menegaskan bahwa tanpa ‘benteng’ kenaikan suku bunga yang mendahului kurva, rupiah tidak akan memiliki pijakan yang cukup kuat untuk memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS secara maksimal.

Selain itu, kepastian regulasi ekspor juga menjadi faktor pendukung penguatan rupiah. Menurut Sutopo, kepastian sentralisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) tidak mengganggu kontrak komoditas berjalan, sehingga investor asing kembali percaya.

“Alhasil, kombinasi antara meredanya tekanan eksternal dan kuatnya fundamental di dalam negeri menciptakan ruang likuiditas yang besar bagi Rupiah untuk mengalami penguatan signifikan hari ini,” tambahnya.

Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa ruang penguatan rupiah ke level Rp 17.500 terbuka pekan ini. Ia menyoroti kembalinya investor asing dan fundamental ekonomi Indonesia yang kuat sebagai pendukungnya.

Menurut Ibrahim, keputusan menaikkan suku bunga acuan juga memberi momentum bagi Kementerian Keuangan untuk masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Saat ini, yield SBN tenor 10 tahun berada di posisi 7,4 %.

“Sangat terbuka sekali (Rp 17.500), karena hari ini pun juga kita lihat penguatan sudah 181 poin kan. Artinya apa? Bahwa penguatan cukup tajam, kemudian dolar pun terjadi gap down, kemudian harga minyak pun juga gap down,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa turunnya harga minyak dunia dan pelemahan indeks dolar AS mendorong investor kembali beralih ke aset safe haven, seperti logam mulia. Harga emas dunia juga mengalami kenaikan seiring turunnya harga minyak.

Ibrahim menegaskan bahwa pelemahan dolar AS hari ini terjadi hampir pada seluruh mata uang dunia menyusul kesepakatan damai AS dan Iran. Perjanjian damai tersebut rencananya akan dilakukan pada pekan depan.

“Ya, kemungkinan besar ini akan terus reli, ya kemungkinan besar akan menuju di level Rp 17.500,” pungkasnya.

Penguatan rupiah pada hari ini mencerminkan kombinasi faktor eksternal dan kebijakan domestik yang berhasil menstabilkan nilai mata uang. Kenaikan suku bunga, kepastian regulasi ekspor, dan penurunan harga minyak global menjadi pendorong utama. Sementara itu, pasar global tetap memperhatikan perkembangan perjanjian damai AS‑Iran, yang dapat memengaruhi harga minyak dan sentimen pasar ke depan. Dengan kondisi ini, rupiah menunjukkan potensi penguatan lebih lanjut, meski tetap dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global dan kebijakan moneter Indonesia.

RupiahDolar ASPerjanjian Damai AS‑IranHarga MinyakSuku Bunga BIDevisa Hasil EksporInvestor Asing

Komentar

Memuat komentar...