Rupiah Resah, Manufaktur Tekan Biaya, Volatilitas Tinggi

Ayu W. · 3 min baca · 7 jam lalu · 22 dibaca
Bisik.id
Rupiah Resah, Manufaktur Tekan Biaya, Volatilitas Tinggi

Gambar atau konten salah?

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, menegaskan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS semakin merusak sektor manufaktur. Ia menjelaskan bahwa industri manufaktur sangat sensitif karena masih bergantung pada bahan baku dan barang impor.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pembelian bahan baku impor naik secara otomatis. Hal ini langsung memengaruhi biaya produksi perusahaan. Pada puncak kelemahan, dolar AS diperdagangkan di level Rp 18.000 namun kini sudah turun ke Rp 17.944.

“Tekanan terhadap rupiah ini juga sudah terjadi secara bertahap sejak awal tahun, sehingga dampaknya terhadap sektor riil kini semakin terasa. Bagi industri manufaktur, pelemahan rupiah menjadi sangat sensitif karena struktur produksi nasional masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap bahan baku dan barang antara impor, sekitar 70 %,” kata Shinta saat dihubungi detikcom, Rabu (10 Juni 2026).

Menurutnya, tekanan yang dihadapi industri tidak hanya berasal dari nilai tukar. Pelaku usaha juga harus menghadapi tingginya biaya logistik, energi, dan pembiayaan yang masih menjadi tantangan bagi dunia usaha. “Kondisi ini juga terjadi di tengah biaya logistik, energi, dan pembiayaan yang masih relatif tinggi. Jadi, yang dihadapi pelaku usaha saat ini bukan hanya tekanan nilai tukar, tetapi tekanan biaya berlapis atau externally driven cost pressure,” tambah Shinta.

Perusahaan harus menahan dua sisi tekanan. Di satu sisi biaya produksi meningkat, di sisi lain ruang untuk menaikkan harga jual produk terbatas karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih dan persaingan pasar masih ketat. “Kalau volatilitas nilai tukar tinggi, biaya produksi sulit diprediksi, dan tekanan eksternal terus berlanjut, maka appetite perusahaan untuk ekspansi tentu akan lebih berhati-hati. Jadi, bukan berarti semua investasi langsung berhenti, tetapi banyak perusahaan akan masuk ke mode wait and see, lebih selektif, dan menunda keputusan ekspansi sampai kondisi makro lebih stabil,” jelas Shinta.

Shinta menegaskan bahwa dampak pelemahan rupiah tidak dirasakan secara merata oleh semua sektor industri. Perusahaan yang memiliki kandungan bahan baku lokal lebih tinggi atau memiliki pasar ekspor relatif lebih mampu bertahan karena memiliki perlindungan alami terhadap fluktuasi kurs. Sebaliknya, industri yang mayoritas bahan bakunya masih impor dan produknya dijual di pasar domestik akan menghadapi tekanan lebih besar. Dalam kondisi seperti itu, margin keuntungan perusahaan dapat tergerus, arus kas menjadi lebih ketat, dan ruang untuk ekspansi semakin terbatas.

Ia berharap pemerintah bersama otoritas moneter terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat kepercayaan pasar. Ia juga meminta pemerintah menekan berbagai sumber biaya ekonomi domestik seperti logistik, energi, perizinan, hingga biaya pembiayaan. Menurut Shinta, koordinasi yang kuat antara kebijakan fiskal, moneter, perdagangan, perindustrian, investasi, dan ketenagakerjaan menjadi penting agar proses stabilisasi ekonomi dapat berjalan tanpa mengorbankan pertumbuhan industri dan penciptaan lapangan kerja.

“Dalam situasi ketika tekanan eksternal meningkat, pengurangan biaya-biaya domestik menjadi sangat penting agar industri tidak kehilangan daya saing. Pemerintah juga perlu memastikan kelancaran pasokan bahan baku dan energi bagi industri. Ketersediaan bahan baku, distribusi energi yang memadai, serta efisiensi rantai pasok menjadi kunci agar tekanan biaya tidak semakin besar,” tutup Shinta menjelaskan.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah menambah beban biaya bagi industri manufaktur, membatasi kemampuan mereka menaikkan harga, dan membuat banyak perusahaan memilih menunda ekspansi. Dukungan pemerintah dalam menjaga nilai tukar dan menurunkan biaya domestik menjadi kunci untuk menjaga daya saing industri Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.

RupiahManufakturNilai TukarBiaya LogistikEnergiEkspansiDaya Saing

Komentar

Memuat komentar...