Sate Ayam Barokah Mayestik Naik 4 Kali, Rencana Cabang Baru
Gambar atau konten salah?
Di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, aroma daging ayam dan kambing khas Madura menari di udara. Aroma itu, bersatu dengan asap arang yang terbakar di atas trotoar, menunggu siapa‑sama‑si yang lewat. Di antara keramaian, pedagang satai bernama Mochamad Haidir tampak sibuk mengayun kipas bambu, menjaga arang tetap menyala. Kegiatan sederhana itu, yang dulu hanya sekadar mencari nafkah, kini menjadi ladang peluang.
Haidir memulai usahanya pada tahun 2013. Pada saat itu, ia masih mengandalkan gerobak satai keliling, menjual di trotoar. Ia merasakan ketidakpastian: di satu sisi, Satpol PP menegur, di sisi lain, sesama pedagang menolak. “Dulu saya buka awal‑awal di sini, banyak yang usir. (Pedagang) yang dari Pasar Mayestik aja nyamperin ke sini. Sesama tukang sate itu jarang akur,” ungkapnya saat ditemui.
Namun Haidir memilih bertahan. Ia tahu Mayestik, dikelilingi kantor‑kantoor, menawarkan potensi pasar yang besar. Ia sudah berada di lapak itu sejak awal, sehingga ia merasa memiliki hak atas tempat itu. Ketekunan membuahkan hasil: pelanggan mulai datang, dan nama Sate Ayam Barokah Mayestik mulai dikenal.
Ujian datang ketika pandemi COVID‑19 melanda. “Satu‑satunya yang bikin jualan sepi itu waktu COVID. Itu benar-benar bikin saya stres, sampai pernah saya tawarin lapaknya ke orang. Saya bilang, saya mau udahan, bayarin aja,” jelas Haidir. Pada saat itu, lapaknya sempat ditawar seharga Rp 50 juta, jauh di bawah harga yang ia minta, Rp 150 juta. Ia menolak, takut kehilangan peluang bisnis yang lebih besar.
Titik balik terjadi pada akhir 2025. Sebuah ruko kosong di depan lapaknya ditawarkan sewa. Haidir memutuskan untuk pindah, karena ia tidak ingin melewatkan momentum. Namun, sewa ruko tinggi memaksa ia mencari tambahan modal. Ia mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. “Kemarin kebetulan untuk biaya sewanya ngambil ke BRI. Saya ambil Rp 200 juta untuk sewa ruko setahun dan lain‑lain. Karena (usaha) saya sudah punya nama dan langganan, jadi saya beraniin sewa ke dalam meski risikonya gede,” ungkapnya.
Prosesnya cepat. Kantor BRI Unit Mayestik berada di samping ruko, sehingga interaksi dengan pegawai bank sangat dekat. “Prosesnya cepat ya. Apalagi BRI‑nya di samping, jadi saya dekat. Mantrinya juga sering makan di sini, jadi saya sering cerita kalau butuh biaya untuk pengembangan usaha,” tambah Haidir.
Perpindahan ke ruko membawa perubahan drastis. Sebelumnya, Haidir hanya mampu menjual sekitar 500 tusuk satai per hari. Kini, penjualan melonjak empat kali lipat, mencapai 2 000 tusuk sehari. Omzetnya naik drastis: “Omzetnya tuh masuk ke Rp 8 juta sehari. Paling sepi‑sepinya tuh di Rp 5 juta,” ujarnya.
Perubahan ini juga membuka lapangan pekerjaan. “Dulu pas jualan di trotoar saya kerja sendiri, saking ramainya sampai pembeli saya suruh kipas sate sendiri. Sekarang alhamdulillah sudah ada tiga karyawan yang bantu,” kata Haidir.
Selain permodalan, Haidir mulai mengadopsi layanan QRIS BRI untuk mempermudah transaksi. Mayoritas pelanggan kini beralih ke pembayaran digital. Metode non‑tunai membantu operasional, terutama saat pesanan membludak. Ia juga dapat mencatat keuangan secara otomatis, lebih rapi dan transparan. “Kalau kemarin saya fokus di QRIS BRI itu sebulannya bisa sampai Rp 80 juta,” ungkapnya.
Dengan pencatatan otomatis, Haidir berharap dapat mempermudah pengajuan tambahan modal di masa mendatang. Ia berencana membuka cabang baru. “Kalau bisa pengajuan (top‑up) ditambahin buat buka cabang baru di pinggir‑pinggir jalan. Karena pinjaman kemarin itu habis untuk sewa ruko ini saja,” jelas Haidir. Ia memproyeksikan kebutuhan modal sekitar Rp 400 juta sampai Rp 500 juta. Ia percaya momentum saat ini tepat: merek Sate Ayam Barokah Mayestik sudah memiliki nama dan kepercayaan di mata pelanggan. “Kan kalau sudah punya nama, buka cabang itu gampang dapat pelanggannya ya. Beda kalau orang baru mulai jualan langsung buka baru, itu susahnya,” tambahnya dengan optimisme.
Kesetiaan pelanggan menjadi modal kuat bagi Haidir. Salah satu pelanggan setia, Agung, pegawai swasta berusia 27 tahun, mengaku telah menjadi penikmat satai sejak era trotoar. “Saya sudah langganan dari masih di trotoar di depan. Sering makan di sini, karena bumbu kacangnya beda, lebih manis dan gurih,” katanya. Ia juga mengingat bonus lontong yang sering diberikan Haidir. “Dulu Mas Haidir sering kasih bonus lontong kalau kita beli banyak, itu yang bikin kita merasa dihargai sebagai langganan. Jadi namanya 'Barokah' itu benar-benar terasa ke pembeli,” tambahnya.
Perpindahan ke ruko juga meningkatkan kenyamanan pelanggan. Mereka dapat menikmati makanan siang atau malam setelah kerja di sekitar Mayestik, tanpa harus menunggu di trotoar.
Di sisi lain, BRI terus memperkuat UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Sebagai penyalur utama Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Indonesia, BRI mendukung program pemerintah. Pada akhir Maret 2026, total aset BRI mencapai Rp 2 250 triliun, tumbuh 7,2 % YoY. Penyaluran kredit menunjukkan akselerasi yang solid. Hingga kuartal I‑2026, total kredit BRI mencapai Rp 1 562 triliun, tumbuh 13,7 % YoY. Segmen UMKM menjadi tulang punggung bisnis, dengan total penyaluran mencapai Rp 1 211 triliun. BRI menegaskan fokusnya pada sektor riil dan ekonomi kerakyatan. “Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portfolio pembiayaan BRI,” kata Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam konferensi pers Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, Kamis (30 April 2026).
Perjalanan Haidir menunjukkan bagaimana ketekunan, pemanfaatan fasilitas perbankan, dan inovasi pembayaran digital dapat mengubah usaha kecil menjadi bisnis yang berkembang. Dengan dukungan modal, teknologi, dan loyalitas pelanggan, ia siap menambah cabang dan memperluas jangkauan pasar. Sementara itu, BRI terus memperkuat peran UMKM, memastikan bahwa sektor ini tetap menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gaji Kacau, 80% Gerai Kopdes Merah Putih Tutup
Investasi RI Semester I 2026 Tembus Rp 1.010,6 Triliun
S&P Pertahankan Peringkat Kredit RI, Danantara Jadi Sorotan
Dirut Agrinas Buka Suara Soal Isu Kipas Angin Rp1,8 Triliun
Buffett Hentikan Donasi ke Yayasan Gates
Presiden Minta BGN Kaji Ulang Hentikan Makan Bergizi Gratis untuk Kelas Atas
Berita Terbaru
GoldenEye Kembali Malam Ini, Film Bond Perdana Brosnan
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
Turis Australia Siram Pasangan China di Pulau Padar Viral
Casillas Sebut Inggris Pengecut Usai Kalah 1-2 dari Argentina
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
