SBY dan Band 'Gaya Taruna' Tampil Perdana 1967

Lia N. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
SBY dan Band 'Gaya Taruna' Tampil Perdana 1967

Gambar atau konten salah?

Di ujung barat daya Jawa Timur, ada sebuah kabupaten kecil bernama Pacitan. Di sana, pada era 1960-an, menikmati musik bukanlah perkara mudah. Akses terbatas. Fasilitas hampir tidak ada. Tapi empat remaja belasan tahun punya tekad lain. Mereka adalah Sutopo, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Joko Darmanto, dan Suhardjito. Keempatnya tinggal di Kecamatan Pacitan dan sudah berteman sejak lama.

Bagi mereka, musik adalah bahasa persahabatan. Kecintaan pada musik begitu besar. Mereka nekat membentuk band dengan peralatan seadanya. Sutopo, yang kini sudah sepuh, masih ingat betul awal mula semuanya. "Awal-awal belajar (bermain) gitar. Pada saat itu memang saya lebih dulu bisa main musik. Kemudian satu kelompok, termasuk Pak SBY itu sering ke rumah saya, hampir tiap hari ke rumah, belajar gitar," ujarnya.

Satu-satunya alat musik yang ada di rumah Sutopo saat itu hanyalah gitar. Keempat pemuda itu saling mengasah kemampuan memainkan alat musik petik tersebut. Permainan gitar mereka mulai terdengar rancak. Tapi ada satu instrumen yang kurang: drum. Mereka pun berakal. Alat musik tabuh mirip genderang atau tambur menjadi solusi. Dari latihan yang serius dan kekompakan, sejumlah lagu berhasil mereka mainkan dengan apik.

Momen penting tiba pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI tahun 1967. Itulah ajang pertama mereka unjuk kebolehan di depan penonton. Mereka mengusung nama 'Gaya Taruna' untuk band yang baru dibentuk. Penampilan perdana itu di luar dugaan. Sambutan penonton meriah. Alunan lagu-lagu Koes Bersaudara yang mereka sajikan mampu mengundang riuh tepuk tangan. "Pertama kali tampil di lapangan, sekarang belakang Gedung Gasibu. Lagu-lagunya ya seperti Dara Manisku, Telaga Sunyi, Senja, dan sebagainya," kenang Sutopo ditemui di teras rumahnya, Jl Dr Sutomo.

Setahun kemudian, keempat remaja itu melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTA. Pilihannya jatuh pada Sekolah Menengah Atas (SMA) 271, yang kini dikenal sebagai SMAN 1 Pacitan, di Jl Letjen Suprapto. Padatnya waktu belajar di sekolah maupun kegiatan ekstrakurikuler tak membuat persahabatan mereka renggang. Semangat berlatih musik tak pernah surut. Di sela belajar kelompok atau mengerjakan tugas, Sutopo, SBY, Joko Darmanto, dan Suhardjito tetap menyempatkan diri bermain musik.

Tahun 1966 menjadi tonggak penting perjalanan band 'Gaya Taruna'. Kala itu TNI Angkatan Laut (AL) mengadakan kegiatan di Pacitan. Salah satu agendanya adalah pentas musik di Pendopo Kabupaten. Topo, sapaan Sutopo, dan kawan-kawan ikut hadir menyaksikan tontonan langka itu. "Saat itu ya cuma nonton," lanjut Sutopo.

Ternyata, kiprah para seniman muda yang tengah naik daun di daerah yang kini memiliki tagline '70-Mile Sea Paradise' telah menjadi buah bibir. Cerita itu sampai ke telinga pihak TNI AL melalui Kepala Sekolah SMA 271 kala itu, Sunaryo. Respons pihak TNI AL sangat mengejutkan. Mereka serta merta menghibahkan seperangkat alat musik yang digunakan bermain kepada pihak sekolah. "Yang diserahkan saat itu antara lain gitar rhythm, gitar melodi, bass, drum, dan dua unit power amplifier besar," papar Sutopo tentang seperangkat alat musik yang kelak rutin mereka gunakan untuk latihan.

Komplek SMA 271 saat itu belum semegah sekarang. Hanya ada dua bangunan memanjang dan satu Kantor Guru dan Tata Usaha (TU). Bangunannya sangat sederhana dengan dinding terbuat dari bilik bambu. Karena tidak ada tempat penyimpanan, seperangkat alat musik tersebut akhirnya dititipkan di rumah Sunaryo di Jl Panglima Sudirman. Sejak itu, lokasi latihan pun pindah ke rumah Sunaryo dengan jadwal rutin tiap malam Minggu.

Mulai saat itu pula band 'Gaya Taruna' memiliki personel tetap. Sutopo sebagai pemain gitar melodi. Joko Darmanto gitar rhythm. SBY memainkan bass. Drum ditabuh oleh Gatot Joko Supeno. Adapun Suhardjito sebagai pelantun vokal. Dua nama pertama kelak mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). SBY berkarir di militer hingga puncaknya menjabat Presiden RI dua periode. "Sedangkan Pak Joko Supeno terakhir bekerja di pabrik kertas di Probolinggo, dan Pak Djito (Suhardjito) bekerja sebagai PNS di pemkab sampai pensiun," imbuh Sutopo yang pernah memangku beragam jabatan, mulai camat hingga Ketua DPRD Pacitan.

Selama masa SMA, formasi band 'Gaya Taruna' kian solid. Sejumlah penyanyi wanita pun kerap tampil mewarnai aksi panggung mereka. Semuanya merupakan siswi SMA 271. Deretan nama yang beken kala itu di antaranya Yuni Setyaningsih, Siti Rochani, dan Wiwik. Lagu-lagu yang mereka bawakan pun makin beragam. Termasuk sejumlah tembang karya A. Riyanto yang dipopulerkan Tetty Kadi. Dua di antaranya adalah 'Pulau Seribu' dan 'Teringat Selalu' yang masih legendaris hingga kini.

Cerita ini menunjukkan bagaimana keterbatasan bukanlah halangan. Empat remaja di sebuah kota kecil, dengan alat musik seadanya, mampu menorehkan kenangan yang bertahan puluhan tahun. Dari latihan di rumah sederhana hingga panggung pendopo, perjalanan mereka adalah potret kecil dari semangat anak muda Indonesia. Seorang di antaranya bahkan kelak menjadi presiden. Namun di balik itu semua, yang tersisa adalah kisah persahabatan yang diikat oleh nada-nada gitar dan tabuhan drum darurat.

Pacitanband Gaya TarunaSBYmusik 1960-anpersahabatanalat musik seadanyaperjalanan karier

Komentar

Memuat komentar...