Soto Kuning Pak Yusup: Dari Gerobak Jadi Ruko Lantai

Bima J. · 6 min baca · 1 bulan lalu · 87 dibaca
Bisik.id
Soto Kuning Pak Yusup: Dari Gerobak Jadi Ruko Lantai

Gambar atau konten salah?

Aroma rempah kaldu santan yang sedang direbus langsung tercium ketika masuk ke gerai Soto Kuning Pak Yusup di kawasan Surya Kencana, Bogor, Jawa Barat. Suasana itu membuat para pengunjung rela antre demi seporsi soto kuah kuning legendaris.

Pagi itu pukul 09.00 WIB, Iswahyudi, adik pemilik utama, tampak sibuk melayani pelanggan yang datang silih bergantian. Ia dipercaya oleh keluarga menjadi penanggung jawab operasional usaha. “Saya di sini sebagai adik dari owner (Pak Yusup). Kita dipercaya untuk mengelola usaha ini. Jadi apapun yang terjadi di lapangan, kita yang menjawab,” ujarnya di sela-sela aktivitas melayani pelanggan, belum lama ini.

Usaha ini dibangun pada tahun 1993 di Gang Aut, Surya Kencana. Sejarahnya tak lepas dari kondisi lingkungan tempat tinggalnya yang mayoritas warganya adalah pedagang. “Dulu lingkungan tempat tinggal kita kebanyakan warganya jualan soto, sampai-sampai disebut Blok Soto. Jadi satu kampung isinya penjual soto semua,” ungkapnya.

Lingkungan tersebut dipengaruhi kuatnya akulturasi budaya Tionghoa. Semangat berdagang mereka menginspirasi warga lokal untuk ikut membuka usaha kuliner. Menariknya, kesamaan menu dan lokasi berjualan tak pernah memicu konflik di antara para pedagang. “Di sini sudah biasa membaur, dari masyarakat lokal sampai keturunan Tionghoa, semuanya hidup rukun dan sama-sama merintis usaha kuliner (termasuk Pak Yusup),” jelasnya.

Di awal merintis, Pak Yusup masih menjajakan dagangannya dengan cara dipikul di pinggir jalan seperti pedagang kaki lima (PKL) pada umumnya. Lambat laun, usahanya meningkat. Ia mulai jualan pakai gerobak hingga sewa-sewa kios yang lebih strategis. Hal itu dilakukannya supaya bisa lebih banyak menarik konsumen.

Hingga saat ini, Soto Kuning Pak Yusup menjadi salah satu ikon kuliner khas di Surya Kencana, Bogor. Perkembangannya yang masif membuat para keluarga dekat ikut terlibat dalam membesarkan usaha soto ini.

Berhenti sejenak, Iswahyudi berkecimpung di dunia ritel dan distribusi sebelum mengelola penuh usaha soto keluarga. Ia pernah bekerja di Ramayana, lalu lama meniti karier di perusahaan principal produk sebagai supplier. Kesibukan sebagai pekerja itu tidak lantas membuatnya lepas tangan dari usaha keluarga. Di sela-sela rutinitasnya yang padat, ia kerap memanfaatkan waktu libur akhir pekan untuk ikut membantu operasional Soto Kuning Pak Yusup. “Waktu dulu masih kerja, saya jalani sambil ikut bantu-bantu juga. Cuma waktu itu saya ambil pas weekend saja, hari Sabtu dan Minggu pas kebetulan libur kerja,” kenangnya.

Aktivitas tersebut ia lakoni selama beberapa tahun. Namun seiring berjalannya waktu, ia akhirnya memilih melepaskan karier lamanya untuk fokus membantu usaha Pak Yusup di lapangan. Berbekal pengalamannya itu, ia kini dipercaya untuk mengelola operasional dapur yang melibatkan lima vendor dari keluarga dekat. Masing-masing vendor memiliki tugas khusus menyajikan menu pelengkap. “Di sini totalnya ada lima vendor dari keluarga semua. Khusus yang rebusan daging itu pure dipegang sama kakak saya selaku owner. Sedangkan untuk bagian goreng-gorengan itu vendornya beda-beda lagi, terus nasi juga beda lagi,” jelasnya.

Roda bisnis Soto Kuning Pak Yusup tak selamanya berjalan mulus. Sepanjang perjalanannya, hantaman pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu dirasa Iswahyudi menjadi salah satu tantangan bisnis paling berat. Kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat yang diberlakukan kala itu berdampak langsung pada operasional usaha. Kawasan Surya Kencana yang biasanya ramai mendadak sepi, daya beli menurun, omzet harian ikut anjlok. “Dukanya ya itu aja, pas lagi ada pandemi, kalau lagi daya beli kurang, omzet anjlok. Dampaknya kerasa sekali waktu itu,” kenang Iswahyudi.

Kalau begitu, ia harus memutar otak agar dapur tetap mengepul. Beruntung, di tengah situasi ekonomi yang tak menentu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menawarkan solusi permodalan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 2021-2022. Tanpa berpikir panjang, pihaknya memanfaatkan momentum tersebut untuk menutup biaya operasional dan memperpanjang sewa kios mereka yang saat itu masih berada di seberang jalan. “Waktu masih di seberang, ada pihak BRI yang menawarkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebetulan saat itu ekonomi lagi sulit-sulitnya pas pandemi. Ya sudah, kita ambil,” cerita Iswahyudi.

Yudi kemudian mengambil pinjaman modal usaha itu dalam dua tahap sebesar Rp 50 juta dan Rp 75 juta dengan tenor singkat dua tahun. Prosesnya pun terbilang cepat dan mudah. “Cuma beberapa hari itu langsung cair,” katanya.

Setelahnya, Soto Kuning Pak Yusup berhasil bertahan melewati masa-masa kritis pandemi. Saat situasi ekonomi kembali pulih sepenuhnya, usaha soto ini pun semakin berkembang. “Jadi kita sangat bersyukur waktu itu ada BRI. Sampai sekarang udah beres, dan nggak ada masalah, sangat-sangat terbantu,” ungkapnya.

Keputusan mengambil KUR BRI kala itu diakui Iswahyudi sebagai keputusan yang tepat. Sebab, dalam beberapa tahun setelahnya, pihaknya sudah bisa mengumpulkan modal tambahan untuk menempati ruko sendiri. Tepat pada 1 Desember 2025, usaha soto legendaris ini resmi meninggalkan status kios sewaan dan pindah ke ruko empat lantai milik sendiri yang terletak di seberang lokasi lama di Gang Aut, Surya Kencana. “Ini kita termasuk baru pindah ke sini, pas Desember 2025 sampai sekarang. Alhamdulillah, ruko ini murni hasil dari perputaran usaha soto ini,” ujar Iswahyudi dengan penuh syukur.

Tempat baru ini membawa dampak signifikan terhadap pertumbuhan omzet Soto Kuning Pak Yusup. Meski Iswahyudi enggan merinci angka pastinya, ia mengakui bahwa pendapatannya jauh lebih besar dibanding tempat sebelumnya. Penjualan bisa melonjak hingga dua kali lipat lebih banyak. Hal ini didorong oleh kapasitas tempat yang lebih luas, variasi menu yang semakin beragam, serta adanya penyesuaian harga untuk tiap menu soto.

Tak heran, geliat bisnis yang semakin besar ini membuat pihaknya turut membuka lapangan pekerjaan. Saat ini, Soto Kuning Pak Yusup memiliki 15 pekerja dari keluarga dan kerabat dekat yang mengurusi bagian dapur hingga pelayanan meja. “Pekerja ada yang bagian dapur dan pelayanan, tugasnya beda-beda. Untuk shift ini saja ada 7 orang yang bertugas, besok berganti lagi dengan tim yang lain,” jelas Iswahyudi.

Baginya, pencapaian tertinggi usaha Soto Kuning Pak Yusup ini tak hanya diukur dari ruko yang kini dimiliki keluarganya. Tapi, keberhasilan membukakan jalan pendidikan bagi anak-anaknya. Iswahyudi kini sukses mengantarkan anaknya ke perguruan tinggi dan menyandang gelar sarjana. Bahkan, dua dari tiga anaknya sudah bekerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). “Anak saya ada tiga. Alhamdulillah, yang pertama udah sarjana sekarang sudah kerja di BRI, yang kedua di BNI. Dua-duanya kerja jadi bankir,” ucap Iswahyudi dengan bangga. Sementara itu, anak bungsunya kini sedang menempuh kuliah semester enam di Institut Pertanian Bogor (IPB). Iswahyudi berharap anaknya bisa melanjutkan keberhasilan kedua kakaknya.

Di sisi lain, ketika ditanya mengenai rencana membuka cabang baru Soto, Iswahyudi memilih untuk bersikap realistis namun tetap optimis. Bagi Iswahyudi, menjaga kualitas rasa jauh lebih penting daripada sekadar mengejar kuantitas cabang. “Harapan saya ke depan sederhana saja. Pengin usaha keluarga ini selalu sukses, mengalir apa adanya, dan pelanggan bisa makin banyak lagi,” pungkas Iswahyudi.

Di kesempatan terpisah, Direktur Utama BRI, Hery Gunardi mengatakan pihaknya terus berupaya menghadirkan pembiayaan yang mudah diakses, tepat sasaran serta berkelanjutan. Menurutnya, KUR jadi instrumen strategis BRI dalam mendukung sektor usaha mikro dan sektor produktif. “Melalui KUR, BRI berupaya menghadirkan pembiayaan yang mudah diakses, tepat sasaran, serta berkelanjutan. BRI tidak hanya memberikan akses modal, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas usaha agar pelaku UMKM, termasuk petani, dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan,” ujar Hery dalam keterangan tertulis. BRI juga terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna memastikan penyaluran KUR memberikan dampak ekonomi yang nyata. Secara kinerja, sepanjang 2025 BRI menyalurkan KUR sebesar Rp 178,08 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur di seluruh Indonesia. Lebih dari 60% penyaluran dialokasikan ke sektor produksi, dengan porsi mencapai 64,49% dari total penyaluran. Pada periode Januari hingga Maret 2026, BRI berhasil menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 47,09 triliun kepada 947 ribu nasabah pinjaman. Sektor pertanian menjadi kontributor utama dengan pembiayaan mencapai Rp 19,86 triliun atau setara 42,16% dari total KUR yang sudah disalurkan.

Perjalanan Soto Kuning Pak Yusup menunjukkan bagaimana usaha kecil dapat bertumbuh melalui kerja keras, dukungan keluarga, dan akses modal yang tepat. Dari gerobak sederhana di pinggir jalan hingga ruko empat lantai, kisah ini menegaskan pentingnya ketekunan, adaptasi, dan kemitraan dalam menghadapi tantangan ekonomi. Di tengah dinamika pasar, keberhasilan Iswahyudi dan keluarganya menjadi contoh nyata bahwa usaha kuliner tradisional dapat tetap relevan dan berkembang jika dikelola dengan tekun dan didukung oleh sistem pembiayaan yang memadai.

Soto Kuning Pak YusupSurya KencanaKredit Usaha RakyatBank Rakyat IndonesiaUMKMpandemi COVID-19ruko

Komentar

Memuat komentar...