Stella Christie Dipanggil Prabowo, Cerita Harvard Terungkap
Gambar atau konten salah?
Stella Christie menjadi sorotan utama ketika dipanggil oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia adalah mantan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) sekaligus Guru Besar Tsinghua University China. Lulusan S1‑S3 dari universitas terkemuka di Amerika Serikat, ia menghabiskan 16 tahun di negeri tersebut.
Di acara Alumni United States of America yang diadakan di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, pada hari Sabtu, 11 April 2026, Stella berbagi kisah masa lalu. Ia berkata, “Saya menceritakan sebuah kisah dari masa saya di Harvard, tentu saja itu adalah salah satu masa paling berkesan dalam hidup saya yang benar-benar membentuk saya menjadi seperti sekarang ini,” kata Stella. Acara tersebut disiarkan pada hari Minggu, 12 April 2026.
Stella memulai perjalanan akademiknya dengan mengambil jurusan Ekonomi di Harvard University. Namun, pada akhir tahun kedua kuliah, ia memutuskan untuk mengganti jurusan. Ia beralih ke Mind‑Brain Behavior, yang lebih fokus pada perilaku otak dan pikiran. Keputusan ini mendapat komentar dari orang tuanya, yang menganggap perubahan tersebut beralih dari jurusan “bermanfaat” ke jurusan yang “tidak langsung bermanfaat.”
“Menemukan jawabannya secara sistematis dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” paparnya. Perubahan jurusan membuka mata Stella terhadap dunia ilmu pengetahuan. Ia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan, dan menjawabnya secara terstruktur.
Selama studi di Harvard, Stella juga belajar bahasa Mandarin. Ia mengambil mata kuliah bahasa Mandarin dan kemudian mengikuti program pertukaran setengah tahun di Fudan University di Shanghai. “Harvard memberi saya beasiswa untuk mengikuti program pertukaran dan menghabiskan setengah tahun di Fudan University di Shanghai. Itulah (cara) bagaimana saya sebenarnya tahun dan belajar bahasa Mandarin, karena saya mengambilnya (mata kuliah) ketika saya berada di Harvard,” kenangnya.
Di tahun kedua kuliah, Stella mengalami kebingungan mengenai minatnya. Ia tidak ingin terjun ke dunia politik dan pemerintahan. “I guess, never say never, right? (jangan pernah mengatakan tidak mungkin),” candanya mengingat profesinya kini menjadi wakil menteri. Meskipun begitu, ia mengambil kelas di Harvard yang bernama Moral Reasoning 62. Kelas ini mengajarkan mahasiswa bernalar kritis, memecahkan dilema etika, dan menerapkan teori moral dalam kehidupan sehari‑hari.
“Kelas penalaran moral ini membahas tentang filsafat pemerintahan. Saya membaca karya John Locke, Rousseau, Hobbes, tentang apa itu atau apa pentingnya memiliki pemerintahan, mengapa kita membayar pajak, mengapa kita ingin menjadi bagian dari masyarakat yang berada di bawah hukum umum suatu pemerintahan, dan saya terpesona oleh logikanya,” ungkapnya. Meski setelah mengikuti kelas tersebut, ia tetap tegas tidak ingin bekerja di pemerintahan. “Dan tahun‑tahun kemudian, saya bersyukur atas kesempatan yang diberikan presiden (Prabowo Subianto) saya untuk menjadi bagian darinya,” imbuh Stella.
Materi yang ia pelajari di kelas Penalaran Moral 62 memberi dasar pemahaman yang luas tentang tanggung jawab yang ia emban saat ini. Ia juga mengingat pengalaman uniknya bekerja sebagai petugas kebersihan di kampus Harvard. Meskipun menerima beasiswa penuh, bantuan tersebut hanya mencakup biaya kuliah, tempat tinggal, dan makan. “Mereka hanya membayar biaya kuliah dan biaya tempat tinggal, serta makan. Selebihnya, tanggung jawab ada di pundakmu,” katanya.
Harvard mengizinkan mahasiswa bekerja sesuai dengan persyaratan visa. Stella memilih pekerjaan sebagai petugas kebersihan di ruang toilet kampus. Pekerjaan ini memberikan upah lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan di perpustakaan. “Perpustakaan memberikan upah kepada mahasiswa sebanyak $8 per jam, sedangkan petugas kebersihan di toilet di bayar $13,50 per jam,” jelasnya. Meski jadwal kuliah dan pekerjaan menuntut banyak waktu, ia tetap dapat bersosialisasi dengan teman-temannya.
“Saya menceritakan kisah ini untuk menunjukkan bagaimana Harvard telah membuka wawasan saya terhadap berbagai lapisan masyarakat, untuk memberi saya keyakinan bahwa Anda bisa membersihkan toilet dan bergaul pada saat yang besamaan, dan tetap menjadi mahasiswa Harvard,” tandasnya. Kisah ini menegaskan bahwa pengalaman di kampus tidak hanya terbatas pada akademik, tetapi juga melibatkan interaksi sosial dan tanggung jawab pribadi.
Stella Christie memulai kariernya dengan latar belakang akademik yang kuat. Ia menempuh pendidikan di dua universitas terkemuka di Amerika Serikat, Harvard dan Northwestern, dan kemudian menempuh studi lanjutan di Tsinghua University di China. Keputusan awalnya untuk mengganti jurusan menjadi titik balik yang membuka jalur kariernya sebagai ilmuwan dan akademisi.
Pengalaman belajar bahasa Mandarin di Fudan University menambah keterampilan linguistiknya, memungkinkan ia untuk berkomunikasi secara efektif di lingkungan internasional. Meskipun tidak pernah memikirkan karier di pemerintahan, pengalaman di kelas Moral Reasoning 62 memberi pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip pemerintahan dan etika publik.
Stella juga menunjukkan bahwa beasiswa tidak selalu berarti bebas dari tanggung jawab. Pekerjaan sebagai petugas kebersihan di Harvard mengajarkannya tentang nilai kerja keras dan manajemen waktu. Ia menekankan pentingnya mengambil peluang yang ada, meskipun pekerjaan tersebut tampak sederhana.
Dengan latar belakang akademis yang luas dan pengalaman praktis di berbagai bidang, Stella Christie kini memegang peran penting dalam kebijakan pendidikan. Ia menegaskan bahwa setiap pengalaman, baik akademik maupun non‑akademik, berkontribusi pada pembentukan karakter dan pandangan hidupnya.
Kesimpulannya, perjalanan Stella Christie menyoroti pentingnya fleksibilitas dalam memilih jurusan, keberanian untuk belajar bahasa asing, dan nilai pengalaman praktis di luar kelas. Semua elemen tersebut membentuk fondasi kuat bagi peranannya sebagai pemimpin pendidikan dan akademisi di tingkat nasional dan internasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Mualem Desak Gas Andaman Diolah di Darat, Bahlil Hitung Untung Rugi
Jadwal Sholat 12 Juli 2026 untuk 38 Kota di Jatim
PKB 2026: Kunjungan Asing Naik 137 Persen
Norwegia vs Inggris di Perempat Final Piala Dunia 2026
Norwegia vs Inggris: Tiket Semifinal Diperebutkan
Klopp Resmi Latih Timnas Jerman hingga 2030
Audisi PB Djarum 2026: Super Tiket Makin Ketat
39 Ruko di Denpasar Dibongkar Rela Demi Atasi Banjir