Studi: Pekerja Salon & Jahit Berisiko Kanker Ovarium

Sigit W. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Studi: Pekerja Salon & Jahit Berisiko Kanker Ovarium

Gambar atau konten salah?

Sebuah studi baru mengungkap bahwa jenis pekerjaan tertentu mungkin berkaitan dengan peningkatan risiko kanker ovarium. Selama ini, kanker ovarium lebih sering dikaitkan dengan faktor usia, riwayat keluarga, dan kondisi kesehatan tertentu. Namun, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Occupational and Environmental Medicine ini menunjukkan bahwa paparan zat di tempat kerja juga bisa menjadi faktor penting.

Penelitian yang dipimpin oleh akademisi dari University of Montreal, Kanada, menganalisis data dari 491 perempuan Kanada yang didiagnosis menderita kanker ovarium. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan 897 perempuan yang tidak mengidap penyakit tersebut. Para peneliti menggunakan Canadian Job-Exposure Matrix untuk menilai kemungkinan paparan bahan kimia di tempat kerja.

Setelah memperhitungkan berbagai faktor lain yang bisa memengaruhi hasil, ditemukan bahwa beberapa profesi memiliki risiko lebih tinggi. Perempuan yang bekerja sebagai penata rambut, tukang cukur, atau ahli kecantikan memiliki risiko sekitar tiga kali lebih tinggi terkena kanker ovarium. Pekerja di sektor konstruksi juga tercatat memiliki risiko hampir tiga kali lipat.

Sementara itu, pekerja yang membuat atau memperbaiki pakaian memiliki risiko 85 persen lebih tinggi. Asisten toko dan tenaga penjualan mengalami peningkatan risiko sebesar 45 persen. Menariknya, perempuan yang bekerja di bidang akuntansi selama 10 tahun memiliki kemungkinan dua kali lebih besar terkena kanker ovarium.

Para peneliti mengidentifikasi bahwa kelompok pekerjaan dengan risiko lebih tinggi ini cenderung lebih sering terpapar berbagai zat. Zat-zat tersebut meliputi bedak kosmetik, amonia, hidrogen peroksida, debu rambut (hair dust), serat sintetis, serat poliester, pewarna organik, pigmen, dan bahan pemutih.

"Kami mengamati adanya hubungan yang menunjukkan bahwa akuntansi, tata rambut, penjualan, menjahit, dan pekerjaan terkait mungkin berkaitan dengan peningkatan risiko," tulis para penulis studi. Mereka menambahkan bahwa masih diperlukan penelitian berbasis populasi untuk mengevaluasi potensi bahaya bagi pekerja perempuan serta berbagai jenis pekerjaan yang umumnya dijalani oleh perempuan.

Dalam editorial yang menyertai publikasi tersebut, akademisi dari National Cancer Institute di Maryland, Amerika Serikat, menyoroti bahwa perempuan masih kurang terwakili dalam penelitian mengenai kanker akibat faktor pekerjaan. Mereka menyatakan bahwa studi ini menjadi pengingat bahwa meskipun minimnya keterwakilan perempuan dalam penelitian kanker akibat pekerjaan telah lama disadari, masih diperlukan perbaikan dalam mempelajari risiko pekerjaan yang dihadapi perempuan.

Selain faktor pekerjaan, ada beberapa faktor risiko lain yang sudah diketahui untuk kanker ovarium. Usia menjadi faktor utama, di mana risiko meningkat seiring bertambahnya usia. Sebagian besar kanker ovarium berkembang setelah menopause, dan sekitar setengah dari seluruh kasus ditemukan pada wanita berusia 63 tahun atau lebih.

Faktor genetika juga berperan besar. Memiliki mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 yang diturunkan, mutasi gen langka lainnya, dan/atau riwayat keluarga kanker ovarium, payudara, rahim, atau kolorektal dapat meningkatkan risiko. Kondisi medis seperti endometriosis (pertumbuhan abnormal jaringan yang melapisi bagian dalam rahim) atau obesitas juga menjadi faktor risiko.

Faktor lain terkait kehamilan dan menyusui, seperti tidak pernah hamil, memiliki anak pertama setelah usia 30 tahun, atau tidak pernah menyusui. Obat-obatan yang berhubungan dengan hormon, seperti tidak pernah mengonsumsi pil KB dan/atau menjalani terapi penggantian hormon pascamenopause, juga disebut sebagai faktor risiko.

Studi ini memberikan perspektif baru bahwa lingkungan kerja, terutama paparan zat kimia tertentu, perlu mendapat perhatian lebih dalam upaya pencegahan kanker ovarium. Meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut, temuan ini menjadi pengingat bahwa risiko kanker tidak hanya berasal dari faktor internal seperti genetik, tetapi juga dari faktor eksternal seperti pekerjaan sehari-hari.

kanker ovariumrisiko pekerjaanpaparan zat kimiapenata rambutkonstruksiakuntansipencegahan kanker

Komentar

Memuat komentar...