Pola Makan Antiinflamasi Turunkan Risiko Demensia 29%

Ningsih R. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Pola Makan Antiinflamasi Turunkan Risiko Demensia 29%

Gambar atau konten salah?

Selama ini, kita sering mendengar bahwa menjaga pola makan sehat itu baik untuk otak. Sekarang, ada bukti baru yang lebih spesifik. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa pola makan yang bisa menekan peradangan di tubuh, atau yang dikenal dengan istilah antiinflamasi, ternyata juga berpotensi menurunkan risiko terkena demensia. Kabar baiknya, manfaat ini juga dirasakan oleh orang-orang yang secara biologis memang memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit tersebut.

Riset ini dipublikasikan di jurnal JAMA Network Open. Peneliti melibatkan lebih dari 1.800 partisipan di Swedia. Usia mereka semua di atas 60 tahun dan saat penelitian dimulai, tidak ada satu pun dari mereka yang didiagnosis demensia. Para peneliti kemudian memantau kebiasaan makan partisipan selama enam tahun. Mereka menggunakan kuesioner yang sangat detail. Selain itu, mereka juga mengukur tiga jenis biomarker dalam darah. Biomarker ini berkaitan dengan penyakit Alzheimer dan cedera otak. Setelah fase penilaian selesai, partisipan terus dipantau hingga 15 tahun ke depan. Tujuannya jelas: untuk melihat siapa saja yang akhirnya mengalami demensia.

Hasilnya cukup menarik. Dari ribuan partisipan, sebanyak 240 orang didiagnosis demensia selama masa pemantauan. Ketika data dianalisis, ditemukan pola yang jelas. Partisipan yang pola makannya memiliki potensi inflamasi rendah cenderung memiliki risiko demensia yang lebih kecil. Ini berlaku secara umum. Namun, temuan yang paling menonjol ada pada kelompok yang memiliki kadar biomarker Alzheimer p-tau217 yang tinggi. Pada kelompok ini, mereka yang disiplin menjalani pola makan antiinflamasi mengalami penurunan risiko demensia hingga 29 persen. Penurunan risiko serupa juga terlihat pada partisipan dengan biomarker lain yang menandakan cedera sel saraf dan peradangan.

Dr. Leana Wen, seorang dokter spesialis kegawatdaruratan dan profesor klinis di George Washington University, memberikan tanggapannya. Menurutnya, temuan ini memberikan secercah harapan. "Ini merupakan pesan yang menggembirakan karena kita masih memiliki faktor risiko yang bisa dimodifikasi. Kita tidak dapat mengubah usia atau faktor genetik, tetapi kita bisa membuat pilihan yang berkaitan dengan kesehatan yang lebih baik," ujarnya kepada CNN.

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan pola makan antiinflamasi? Wen menjelaskan bahwa tidak ada satu pun diet resmi yang bernama "diet antiinflamasi". Istilah ini lebih merujuk pada kebiasaan makan yang secara umum dikaitkan dengan tingkat peradangan kronis yang lebih rendah di dalam tubuh. Dalam penelitian ini, partisipan tidak diminta untuk mengikuti diet tertentu. Para peneliti justru menghitung apa yang disebut dietary inflammatory index. Indeks ini dihitung berdasarkan jenis makanan yang benar-benar dikonsumsi oleh partisipan sehari-hari.

Lalu, seperti apa pola makan dengan potensi inflamasi rendah? Secara umum, pola makan ini kaya akan:

  • Sayuran dan buah-buahan
  • Kacang-kacangan dan biji-bijian utuh
  • Polong-polongan

Sebaliknya, konsumsi beberapa jenis makanan justru dibatasi. Makanan yang dimaksud antara lain:

  • Minuman manis
  • Makanan ultra proses (ultra processed food/UPF)
  • Daging merah

Menurut Wen, pola makan ini memiliki banyak kesamaan dengan diet Mediterania. Diet Mediterania sendiri dikenal menekankan konsumsi buah, sayuran, ikan, minyak zaitun, dan lemak sehat lainnya. "Pesan utamanya bukan bahwa hanya ada satu pola makan yang ideal, tetapi memilih makanan utuh yang minim proses dan membatasi makanan ultra proses tampaknya memberikan manfaat bagi banyak aspek kesehatan, termasuk kesehatan otak," katanya.

Perlu dipahami bahwa peradangan sebenarnya adalah respons normal tubuh. Tubuh kita bereaksi seperti itu saat melawan infeksi atau memperbaiki cedera. Masalah muncul ketika peradangan ini terjadi secara ringan tetapi berlangsung terus-menerus, selama bertahun-tahun. Peradangan kronis semacam ini diduga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit terkait penuaan. Wen menjelaskan lebih lanjut. Peradangan kronis dapat merusak pembuluh darah. Ia juga bisa melukai sel-sel saraf. Selain itu, peradangan kronis mengaktifkan sel imun di otak yang pada akhirnya berkontribusi terhadap penurunan fungsi kognitif.

Meski temuan ini menjanjikan, Wen mengingatkan bahwa demensia adalah penyakit yang kompleks. Peradangan hanyalah salah satu bagian dari teka-teki. Faktor genetik, penyakit pembuluh darah, gangguan pendengaran, kebiasaan merokok, hingga konsumsi alkohol berlebihan juga turut memengaruhi risiko seseorang terkena demensia. Jadi, pola makan antiinflamasi bukanlah satu-satunya kunci, melainkan salah satu alat penting yang bisa kita gunakan.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa apa yang kita makan setiap hari memiliki dampak nyata pada kesehatan otak jangka panjang. Meskipun kita tidak bisa mengubah faktor risiko seperti usia atau riwayat keluarga, pilihan gaya hidup seperti pola makan tetap berada di tangan kita. Ini adalah pengingat bahwa langkah kecil, seperti memilih lebih banyak sayuran dan mengurangi makanan olahan, bisa menjadi investasi berharga untuk masa depan otak kita.

pola makan antiinflamasidemensiarisiko demensiaperadangan kronisbiomarker Alzheimerdiet Mediteraniamakanan ultra proseskesehatan otak

Komentar

Memuat komentar...