Prancis Catat Lonjakan Kematian 29% Akibat Gelombang Panas Ekstrem
Gambar atau konten salah?
Prancis mengalami lonjakan angka kematian yang signifikan akibat gelombang panas ekstrem yang melanda negara tersebut. Otoritas kesehatan setempat mencatat peningkatan jumlah kematian hampir 30 persen pada pekan yang dimulai 22 Juni 2026, saat suhu mencapai puncaknya.
Badan kesehatan masyarakat Prancis melaporkan kenaikan angka kematian sebesar 29,1 persen. Ini berarti ada sekitar 2.025 kematian tambahan dibandingkan pekan sebelumnya. Namun angka tersebut kemungkinan masih lebih rendah dari kondisi sebenarnya karena data masih terus diperbarui.
Wilayah Paris menjadi daerah yang paling parah terdampak. Di kawasan tersebut, jumlah kematian melonjak hingga 62 persen selama periode yang sama. Lonjakan serupa juga terjadi di wilayah Pays de la Loire.
Gelombang panas yang melanda Prancis sepanjang Juni berlangsung sekitar 11 hari. Suhu di banyak wilayah menembus lebih dari 40 derajat Celsius. Kondisi ini menjadikannya salah satu heatwave paling ekstrem yang pernah terjadi di negara tersebut.
Situasi ini kembali memicu kritik terhadap pemerintah. Sejumlah politikus menilai langkah antisipasi menghadapi suhu ekstrem masih belum memadai. Partai Hijau Prancis bahkan mengajukan mosi tidak percaya terhadap pemerintahan Perdana Menteri Sebastien Lecornu.
Pemerintah sendiri menilai dampak heatwave kali ini masih lebih ringan dibandingkan bencana gelombang panas pada 2003. Saat itu sekitar 15 ribu orang meninggal dunia, sebagian besar merupakan lansia yang tinggal di panti jompo.
Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist mengatakan jumlah korban jiwa akibat heatwave tahun ini kemungkinan tidak akan menyamai tragedi 2003. Direktur Jenderal Sistem Rumah Sakit Paris Nicolas Revel juga memperkirakan angka kematian akibat gelombang panas Juni 2026 akan lebih rendah dibandingkan 2003.
Namun Revel menyebut jumlah korban kemungkinan tetap lebih tinggi dibandingkan gelombang panas tahun lalu yang dilaporkan menewaskan sekitar 5.700 orang.
Gelombang panas ekstrem di Prancis tahun 2026 ini menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Meskipun pemerintah mengklaim dampaknya lebih ringan dibandingkan tragedi 2003, lonjakan kematian di Paris yang mencapai 62 persen dan suhu di atas 40 derajat Celsius selama 11 hari tetap menjadi peringatan serius. Kritik politik yang muncul juga menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi cuaca ekstrem masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pramono Resmikan RS Mayapada, Target Pasien Berhenti Berobat ke Luar Negeri
5 Minuman Sehat Pengganti Soda
BMKG: Puncak Kemarau 2026 Juli-September
Penuaan Biologis Lebih Cepat pada Generasi Muda Picu Lonjakan Kanker
Miliarder Bryan Johnson Didiagnosis Lambung 'Memakan' Dirinya
Dokter Anak: Warga Sekitar TPA Jatiwaringin Harus Segera Mengungsi
Berita Terbaru
Warga Antre Air Bersih Saat Kemarau di Sukabumi
Kades Situbondo Tersangka Korupsi Dana Desa Rp289 Juta
Rian Ardianto Mulai dari Nol Lagi
Adaksi Usul Gaji Dosen Rp20-50 Juta per Bulan
Persebaya Gaet 5 Pemain Asing Baru untuk Super League 2026/2027
Bom Diduga Peninggalan PD II Ditemukan di Sungai Blitar
Penjaringan Calon Siswa Sekolah Rakyat Jatim Masih Berlangsung
Instruktur Terbang Lompat dari Pesawat, Murid Mendarat Sendiri
Dua Tersangka Korupsi Dana Hibah KONI Dilimpahkan ke Kejaksaan
