Tanggul Lapindo Porong Tersisa 45 Sentimeter
Gambar atau konten salah?
Di titik 10.D, Kecamatan Porong, Sidoarjo, tanggul penahanan lumpur Lapindo menunjukkan kondisi yang semakin mengkhawatirkan. Lebar tanggul yang tersisa hanya sekitar 45 sentimeter, dan permukaannya sudah mulai retak. Tanggul tambahan ini dibangun dari campuran tanah dan lumpur, hanya berjarak 25 hingga 35 sentimeter dari permukaan lumpur. Tiga unit ekskavator terlihat bersiaga di lokasi, tetapi belum ada aktivitas yang dilakukan.
Sementara itu, lumpur terus dialirkan ke Sungai Porong melalui spillway di Desa Pejarakan, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Langkah ini diambil untuk mengurangi volume lumpur yang tertampung. Pelaksana dan Perencana PPLS, Arif Firmanto, menjelaskan bahwa volume semburan lumpur saat ini jauh lebih kecil dibandingkan saat awal bencana pada tahun 2006. "Pada awal tahun 2006 volume semburan berkisar 100 ribu hingga 120 ribu meter kubik per hari. Saat ini berada di kisaran 27 ribu sampai 32 ribu meter kubik per hari," kata Arif pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Arif menambahkan, lumpur tidak mengalir seperti air karena mengandung material yang berat. Saat ini, pergerakan lumpur dominan mengarah ke sisi utara dan barat, mendekati jalan raya serta jalur kereta api. Menurutnya, pergerakan ke arah barat dipengaruhi oleh penurunan tanah yang memang terjadi di kawasan tersebut, termasuk di sekitar rel kereta api yang rutin diperbaiki.
Untuk mengendalikan situasi, PPLS mengarahkan aliran lumpur ke kolam penampungan yang dilengkapi kapal keruk. "Saat ini ada empat kapal keruk yang beroperasi. Dua unit berada di kolam sisi utara dan timur, sedangkan dua unit lainnya berada di Kolam 2 dan Kolam 5 di sisi selatan. Fungsinya mengalirkan lumpur ke Kali Porong sehingga volume di kolam penampungan dapat berkurang," ujar Arif.
Meskipun kondisi tanggul di titik 10.D menjadi perhatian, Arif memastikan situasi masih aman karena telah dibuat alur khusus untuk mengarahkan aliran lumpur agar tidak keluar dari area penampungan. "Ke depan akan dilakukan kajian ulang terhadap kapasitas tampungan dan beberapa titik tanggul juga akan diperkuat kembali. Penanganan terus dilakukan secara maksimal oleh Kementerian PUPR bersama Satuan Kerja Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS)," pungkasnya.
Tim PPLS, termasuk Mas Fahmi Zamroni, terus memantau kondisi tanggul di lapangan untuk memastikan perkembangan di titik-titik yang memerlukan perhatian khusus. Meski volume semburan lumpur telah menurun drastis sejak 2006, ancaman dari pergerakan lumpur dan kerusakan tanggul masih memerlukan penanganan berkelanjutan. Perkuatan tanggul dan pengoperasian kapal keruk menjadi langkah utama untuk menjaga agar lumpur tidak meluas ke area sekitarnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
