Tanjung Verde Tersingkir, Ekonomi Tumbuh 7,2 Persen

Eko P. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Tanjung Verde Tersingkir, Ekonomi Tumbuh 7,2 Persen

Gambar atau konten salah?

Tanjung Verde harus mengakui keunggulan Argentina dengan skor 3-2 dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia yang digelar di Miami Stadium, Florida, Amerika Serikat, pada Sabtu, 4 Juli 2026, pagi WIB. Kekalahan ini memastikan langkah mereka terhenti di turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia tersebut. Meskipun gagal melaju ke babak 16 besar, negara yang memiliki nama resmi Cabo Verde ini sempat memberikan perlawanan sengit dan memaksa La Albiceleste bekerja ekstra keras di lapangan.

Di luar lapangan hijau, Tanjung Verde menyimpan cerita yang berbeda. Negara yang terletak di pesisir barat Afrika ini memiliki prospek ekonomi yang cukup signifikan. Sektor pariwisata menjadi motor utama penggerak perekonomian mereka. Pertumbuhan ekonomi Tanjung Verde bahkan sempat melampaui angka 7 persen.

Berdasarkan data yang dikutip dari situs World Bank atau Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi Tanjung Verde mencapai 7,2 persen pada tahun 2024. Angka ini cukup impresif untuk sebuah negara kepulauan kecil. Sektor pariwisata menjadi tulang punggung utama. Jumlah wisatawan yang datang mencapai sekitar 1,18 juta orang pada tahun 2024, meningkat 16,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain pariwisata, ekspor jasa juga mencatatkan pertumbuhan yang solid, yakni 16,2 persen secara tahunan. Konsumsi swasta turut mendorong pertumbuhan ekonomi dengan kenaikan 7,3 persen year-on-year. Ketiga sektor ini menjadi pilar utama yang menopang perekonomian Tanjung Verde.

Upaya pengentasan kemiskinan juga membuahkan hasil. Tingkat kemiskinan di Tanjung Verde berhasil ditekan menjadi 14,4 persen pada tahun 2024. Keberhasilan ini didorong oleh pertumbuhan di sektor jasa, pemulihan sektor pertanian, serta pengendalian inflasi yang berhasil dijaga pada level rendah.

Inflasi di Tanjung Verde melambat secara signifikan pada tahun 2024. Harga energi dan pangan yang lebih rendah berhasil menurunkan rata-rata inflasi menjadi 1 persen, turun drastis dari 3,7 persen pada tahun 2023. Namun, defisit fiskal melebar menjadi 1,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2024. Pelebaran defisit ini disebabkan oleh tingginya investasi publik, pengeluaran yang terkait dengan pemilihan lokal, serta perluasan program sosial.

Pendapatan negara Tanjung Verde tercatat stabil di angka 24,7 persen dari PDB. Stabilitas ini didukung oleh penerimaan pajak yang lebih kuat dari perkiraan awal. Kondisi ini juga berhasil menurunkan utang pemerintah pusat sebesar 6,0 poin persentase menjadi 110,2 persen dari PDB.

Berdasarkan klasifikasi World Bank untuk periode 1 Juli 2025 hingga 30 Juni 2026, Tanjung Verde masuk dalam kelompok negara berpendapatan menengah ke atas. Klasifikasi ini menunjukkan peningkatan status ekonomi negara tersebut.

Meskipun demikian, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merevisi jumlah penduduk Tanjung Verde. Angka tersebut turun 12,8 persen dibandingkan tahun 2023. Penurunan jumlah penduduk ini secara otomatis membuat pendapatan per kapita Tanjung Verde terlihat meningkat hingga 16,8 persen.

World Bank juga mencatat adanya risiko fiskal yang perlu diwaspadai. Risiko tersebut berasal dari dukungan pemerintah untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pengeluaran yang kaku, serta biaya pembayaran utang yang masih tinggi.

Ke depan, pertumbuhan ekonomi Tanjung Verde diproyeksikan mencapai 5,9 persen pada tahun 2025. Dalam jangka menengah, proyeksi pertumbuhan diperkirakan stabil di sekitar 5 persen. Proyeksi ini didukung oleh peningkatan efisiensi sektor publik dan upaya menarik investasi swasta. Reformasi struktural yang bertujuan untuk meningkatkan lingkungan bisnis menjadi kunci utama.

Peningkatan investasi pemerintah dan berlanjutnya reformasi belanja pegawai diperkirakan akan memperlebar defisit fiskal menjadi 1,5 persen dari PDB pada tahun 2025. Namun, kondisi tersebut diproyeksikan membaik. Defisit diperkirakan menyusut menjadi 0,6 persen dari PDB pada tahun 2027. Perbaikan ini didorong oleh peningkatan penerimaan pajak, tambahan pendapatan dari restrukturisasi BUMN, serta pengendalian belanja pemerintah.

Prospek ekonomi Tanjung Verde masih dibayangi sejumlah risiko. Kenaikan harga komoditas akibat ketegangan geopolitik, tekanan inflasi, melemahnya sektor pariwisata, dan lambatnya reformasi BUMN menjadi ancaman nyata. Selain itu, tingginya kerentanan terhadap perubahan iklim juga menjadi tantangan serius bagi perekonomian negara kepulauan ini.

Secara keseluruhan, Tanjung Verde menunjukkan bahwa meskipun kalah di pentas sepak bola dunia, mereka memiliki potensi ekonomi yang patut diperhitungkan. Pertumbuhan yang solid, pengendalian inflasi yang baik, dan penurunan utang menjadi modal berharga. Namun, risiko fiskal dan tantangan struktural masih harus dihadapi untuk menjaga momentum pertumbuhan ke depan.

ekonomi Tanjung Verdepariwisatapertumbuhan ekonomiinflasidefisit fiskalutang pemerintahreformasi struktural

Komentar

Memuat komentar...