TAPG Turun 8,1% Laba, DSNG Naik 16,9% di Q1 2026 Sawit
Gambar atau konten salah?
TP Rachmat, konglomerat agribisnis, menampilkan dua emiten sawit—PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)—yang melaporkan laba bersih pada kuartal I 2026. Meskipun keduanya mencatat keuntungan, perbedaan kinerja terlihat jelas ketika data keuangan ditinjau.
TAPG mencatat laba bersih sebesar Rp 739,7 miliar pada kuartal I 2026, turun 8,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp 805,2 miliar. Perubahan ini mencerminkan penurunan laba perseroan seiring koreksi pendapatan kontrak pelanggan.
Pendapatan kontrak pelanggan TAPG mencapai Rp 2,4 triliun di kuartal I 2026, turun 4,8% dari Rp 2,6 triliun pada tahun sebelumnya. Penurunan ini berdampak langsung pada laba bersih yang berkurang.
Produk utama yang menambah pendapatan TAPG adalah kelapa sawit dan turunannya, menghasilkan Rp 2,4 triliun sepanjang kuartal I 2026, turun dari Rp 2,6 triliun tahun sebelumnya. Pendapatan lain berasal dari karet dan turunannya, mencapai Rp 5,5 miliar.
Meski pendapatan menurun, TAPG berhasil menekan beban pokok penjualan menjadi Rp 1,6 triliun, menghasilkan laba bruto Rp 856,1 miliar pada kuartal I 2026, turun dari Rp 911,7 miliar sebelumnya. Total aset perusahaan tercatat Rp 5,01 triliun hingga akhir Maret 2026, dengan liabilitas Rp 2,9 triliun dan ekuitas Rp 12,4 triliun.
Berbeda dengan TAPG, DSNG melaporkan pertumbuhan laba bersih sebesar 16,9%, mencapai Rp 430,4 miliar pada kuartal I 2026, naik dari Rp 368,1 miliar periode yang sama tahun sebelumnya.
DSNG mencatat pendapatan bersih Rp 2,8 triliun pada kuartal I 2026, naik 7,7% dari Rp 2,6 triliun tahun sebelumnya. Pendapatan ini didorong oleh penjualan CPO yang naik 18%, meski harga jual rata-rata (ASP) turun sekitar 3% pada paruh pertama tahun 2026.
Namun, beban pokok penjualan DSNG melonjak menjadi Rp 2,07 triliun dari Rp 1,8 triliun sebelumnya. Hingga akhir Maret 2026, total aset DSNG tercatat Rp 17,7 triliun, liabilitas Rp 5,6 triliun, dan ekuitas Rp 12 triliun.
Produksi DSNG juga tumbuh. TBS meningkat 2,7% menjadi 492 ribu ton, didukung oleh kebun plasma naik 6,2% dan kebun inti naik 1,8%. CPO tumbuh 2,1% menjadi 141 ribu ton, palm kernel 2,9% menjadi 27 ribu ton, dan PKO 5,7% menjadi 8,5 ribut ton.
“Perseroan menyiapkan berbagai langkah strategis dan penuh kehati-hatian, termasuk program replanting untuk menjaga produktivitas kebun. hingga saat ini, realisasi replanting mencapai sekitar 5.000an hektar,” ungkap Direktur Utama DSNG, Andrianto Oetomo, dalam keterangannya, dikutip 29 April 2026.
Perbandingan kinerja menunjukkan bahwa DSNG lebih menguntungkan pada kuartal I 2026, dengan pertumbuhan laba bersih dan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan TAPG. Namun, TAPG berhasil mengendalikan biaya dan menurunkan beban pokok penjualan, menandakan strategi pengendalian biaya yang efektif.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
PT TIMAH RUPST: Direksi Diubah, Wadirut Hapus Struktur Baru
BCA Dukung Desa Patak Banteng, Program Genera‑Z 2026
Laboratorium Baru Cipayung Uji Radioaktif Produk Perikanan
Jakarta Timur Tegur Sanksi Tiga Terduga Pencucian Uang
Tiga Terdakwa Dipidana atas Manipulasi Pajak PT GTS, Kasus
PT TIMAH Rilis Dividen Rp 656,8 Miliar, 50% Laba Bersih
Berita Terbaru
Bapenda Karawang Sosialisasi Opsen PKB & BBNKB 2026 di Kampus
DPRD Jatim Telusuri Tambang Galian C di Telaga Ngebel
Halocoko Jadi Merek Es Krim Resmi Piala Dunia 2026
16 Juni 2026: Hari Merah Nasional, 15 Juni Tetap Kerja
16 Juni 2026: Hari Libur Nasional, Tahun Baru Islam 1448 H
KemenHAM Rekrut Penggerak HAM 2026 di Desa, Kelurahan
Wushu Indonesia Pilih Pengurus Baru, Target Emas Asian Games
Edin Dzeko Usia 40, Piala Dunia 2026 Jadi Tantangan Terakhir
Pertamina Patra Niaga Jaga Pertalite di Semua SPBU
