Tembok Hijau: Pembangunan Sabuk Pohon Menahan Gurun Gobi

Guntur P. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 69 dibaca
Bisik.id
Tembok Hijau: Pembangunan Sabuk Pohon Menahan Gurun Gobi

Gambar atau konten salah?

Tembok Hijau adalah program besar yang dimulai pada tahun 1978. Program ini, secara resmi dikenal sebagai Three-North Shelterbelt Program, bertujuan menahan ekspansi gurun Gobi dan Taklamakan yang mengancam permukiman serta lahan pertanian di wilayah utara China.

Selama puluhan tahun, China menanam miliaran pohon untuk membentuk sabuk hijau raksasa. Sabuk ini berfungsi sebagai penghalang alami: mengurangi dampak angin pembawa pasir, menekan badai debu, dan menjaga kestabilan tanah di kawasan rawan desertifikasi. Satelit NASA baru-baru ini mengamati perubahan signifikan di wilayah yang dulu tandus. Sekarang area tersebut mulai ditumbuhi vegetasi, menunjukkan peningkatan aktivitas biologis, termasuk proses fotosintesis.

Para ilmuwan menemukan bahwa kawasan yang telah dihijaukan juga berfungsi sebagai penyerap karbon alami. Artinya, selain menahan gurun, proyek ini turut mengurangi dampak perubahan iklim. Salah satu peneliti yang terlibat dalam studi ini menilai temuan tersebut sebagai bukti penting bahwa intervensi manusia bisa berdampak besar terhadap lingkungan, bahkan di wilayah ekstrem.

“Untuk pertama kalinya kami menemukan bahwa intervensi manusia dapat meningkatkan penyerapan karbon bahkan di lanskap kering ekstrem,” ujar Yuk Yung, profesor ilmu planet di California Institute of Technology sekaligus peneliti senior di NASA Jet Propulsion Laboratory.

Proyek Tembok Hijau dirancang membentang ribuan kilometer, diproyeksikan mencapai panjang sekitar 4.500 kilometer saat selesai. Meskipun begitu, tantangan tetap ada. Beberapa wilayah mengalami tingkat kegagalan tanaman yang cukup tinggi akibat kondisi tanah yang sangat kering. Selain itu, penggunaan jenis pohon yang kurang beragam juga dinilai berisiko terhadap ketahanan ekosistem dalam jangka panjang.

Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, proyek ini tetap dianggap sebagai salah satu eksperimen rekayasa lingkungan terbesar di dunia. Jika terus berhasil, pendekatan ini bisa menjadi contoh global dalam menghadapi ancaman desertifikasi yang semakin meluas.

Proyek ini menunjukkan bahwa upaya manusia, meski kompleks, dapat menghasilkan perubahan lingkungan positif. Hasil nyata dari Tembok Hijau menandai langkah konkret dalam melawan degradasi tanah, sekaligus menambah kapasitas penyerapan karbon di wilayah yang paling rentan terhadap perubahan iklim.

Tembok HijauThree-North Shelterbelt Programdesertifikasipenyerapan karbonNASACalifornia Institute of Technologyintervensi manusia

Komentar

Memuat komentar...