Tempe, Superfood Kognitif Lansia, Lihat Manfaatnya

Sigit W. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 77 dibaca
Bisik.id
Tempe, Superfood Kognitif Lansia, Lihat Manfaatnya

Gambar atau konten salah?

Tempe, yang selama ini hanya dipandang sebagai lauk sederhana di meja makan Indonesia, kini mulai mendapat sorotan sebagai superfood berkat kandungan gizinya yang kaya dan manfaat kesehatannya yang luas. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi tempe dapat berhubungan dengan fungsi kognitif yang lebih baik, terutama pada lansia.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Dementia and Geriatric Cognitive Disorders menemukan bahwa lansia yang lebih sering mengonsumsi tempe memiliki performa memori yang lebih baik dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya. Temuan ini didukung oleh penelitian intervensi yang dimuat di Frontiers in Nutrition, yang melaporkan peningkatan skor kognitif sekitar satu hingga dua poin setelah konsumsi tempe dalam periode tertentu. Peningkatan tersebut terutama terlihat pada kemampuan memori (recall).

Fungsi kognitif pada lansia umumnya menurun secara bertahap. Sebuah studi longitudinal dalam Journal of the American Geriatrics Society melaporkan bahwa skor kognitif seperti MMSE dapat menurun sekitar 0,1–0,3 poin per tahun pada lansia sehat, dan hingga satu hingga dua poin per tahun pada kelompok dengan gangguan kognitif ringan. Dalam konteks ini, peningkatan skor kognitif yang teramati setelah konsumsi tempe menjadi menarik karena menunjukkan adanya perbaikan fungsi memori dalam periode intervensi. Namun, hasil ini masih terbatas pada jangka pendek dan belum dapat disimpulkan sebagai efek jangka panjang, termasuk dalam memperlambat penurunan kognitif seiring bertambahnya usia.

Di balik manfaat tempe terhadap fungsi kognitif, para peneliti menyoroti peran penting kandungan gizinya, terutama yang terbentuk selama proses fermentasi. Menurut data USDA FoodData Central, dalam 100 gram tempe terkandung:

  • Protein: ±18–20 gram
  • Lemak: ±10–11 gram
  • Karbohidrat: ±7–9 gram
  • Kalori: ±190 kkal
  • Folat (vitamin B9): ±24 mcg

Tempe juga mengandung vitamin B12 dalam jumlah kecil yang terbentuk selama fermentasi, yaitu sekitar 0,06–0,12 mikrogram per 100 gram. Vitamin B12 berperan penting dalam fungsi saraf dan pembentukan neurotransmiter, serta diketahui berkaitan dengan kesehatan kognitif pada lansia. Selain itu, tempe mengandung isoflavon sekitar 30–60 mg per 100 gram, senyawa bioaktif dari kedelai yang memiliki sifat antioksidan. Isoflavon bersifat mirip hormon estrogen dan dalam jurnal Nutritional Neuroscience disebut berpotensi membantu melindungi sel saraf serta mendukung fungsi memori.

Proses fermentasi tidak hanya meningkatkan nilai gizi, tetapi juga memudahkan penyerapan nutrisi oleh tubuh dan menghasilkan senyawa bioaktif baru. Tempe juga mengandung mikroorganisme yang dapat mendukung kesehatan usus, yang terhubung dengan otak melalui jalur gut‑brain axis. Sebuah studi dalam Frontiers in Aging Neuroscience menunjukkan bahwa keseimbangan mikrobiota usus dapat memengaruhi fungsi kognitif melalui berbagai jalur biologis.

Selain peningkatan fungsi kognitif, tempe juga mulai diteliti dalam kaitannya dengan penyakit Alzheimer. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Journal of Ethnic Foods menunjukkan bahwa ekstrak tempe mampu menurunkan ekspresi sejumlah gen yang terkait dengan Alzheimer, seperti PSEN1, Gsk3b, cdk5, dan TNF. Gen-gen ini berperan dalam pembentukan plak beta‑amyloid, peradangan otak, serta kerusakan sel saraf. Tempe juga menunjukkan aktivitas anti‑asetilkolinesterase, mekanisme yang membantu menjaga kadar neurotransmiter asetilkolin yang penting untuk memori. Mekanisme ini serupa dengan cara kerja beberapa obat yang digunakan dalam terapi Alzheimer.

Studi yang sama juga menunjukkan bahwa tempe memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi, yang dapat membantu menekan stres oksidatif dan peradangan—dua faktor yang berkontribusi pada perkembangan penyakit neurodegeneratif. Meskipun hasil ini terlihat menjanjikan, sebagian besar penelitian masih dilakukan pada tingkat laboratorium (sel), sehingga efeknya pada manusia masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Karena itu, tempe lebih tepat dipandang sebagai bagian dari pola makan sehat yang berpotensi mendukung kesehatan otak, bukan sebagai cara pasti untuk mencegah Alzheimer.

Tempe tetap menjadi pilihan ekonomis bila dibandingkan dengan manfaatnya. Harga tempe yang terjangkau membuatnya mudah diakses oleh berbagai lapisan masyarakat. Dengan kandungan protein, lemak sehat, vitamin, dan bioaktif yang lengkap, tempe dapat menjadi tambahan yang berguna bagi diet harian, terutama bagi mereka yang ingin menjaga fungsi otak dan kesehatan jangka panjang.

Menambahkan tempe ke dalam menu harian tidak memerlukan perubahan drastis. Satu porsi tempe, biasanya sekitar 100 gram, sudah cukup untuk memberikan nutrisi penting dan bioaktif yang dapat mendukung fungsi kognitif. Cara penyajian pun beragam: tumis, bakar, goreng, atau bahkan dipadukan dalam salad. Dengan variasi rasa dan tekstur, tempe dapat tetap menarik bagi selera.

Walaupun belum ada bukti kuat bahwa tempe secara langsung dapat mencegah Alzheimer, penelitian menunjukkan bahwa konsumsi tempe dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan penyakit neurodegeneratif. Kombinasi nutrisi, antioksidan, dan mikroorganisme probiotik dalam tempe dapat bekerja secara sinergis untuk menjaga kesehatan otak.

Kesimpulannya, tempe bukan hanya lauk tradisional, tetapi juga potensi sumber nutrisi yang mendukung fungsi kognitif. Meskipun masih perlu penelitian lebih lanjut, tempe dapat dianggap sebagai tambahan yang bermanfaat bagi pola makan sehat, khususnya bagi lansia yang ingin menjaga memori dan kesehatan otak. Dengan harga yang terjangkau dan kemudahan dalam penyajian, tempe tetap layak menjadi pilihan dalam menu harian bagi siapa saja yang peduli kesehatan otak dan kesejahteraan jangka panjang.

TempeKognitifLansiaFermentasiIsoflavonMikrobiotaAlzheimer

Komentar

Memuat komentar...