TikTok Shop dan Shopee Perkenalkan Biaya Logistik Baru

Hari W. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 226 dibaca
Bisik.id
TikTok Shop dan Shopee Perkenalkan Biaya Logistik Baru

Gambar atau konten salah?

1 Mei 2026 menandai perubahan penting di TikTok Shop. Mulai hari itu, platform e‑commerce akan mengenakan biaya layanan logistik—yang biasa disebut ongkos kirim atau ongkir—yang sepenuhnya ditanggung oleh penjual. “Biaya ini ditanggung oleh penjual dan tidak akan ditampilkan kepada pembeli saat pembayaran (checkout),” tulis pengumuman TikTok Shop kepada para penjual, dikutip Rabu (6 Mei 2026).

Biaya ini mencakup seluruh proses, mulai dari pemrosesan pesanan, koordinasi dengan pihak logistik, hingga pengiriman akhir ke tangan pembeli. TikTok Shop menjelaskan bahwa kebijakan ini dimaksudkan untuk memperkuat jaringan logistiknya agar tetap berkualitas tinggi dan berkelanjutan, sekaligus melayani penjual dan pelanggan dengan lebih baik di tengah perubahan kondisi global.

Berikut rincian tarif ongkir yang akan diberlakukan. Untuk pengiriman standar, tarif mulai dari Rp 690 hingga Rp 4 350 per pesanan ketika paket dikirim dari Pulau Jawa ke Jakarta. Jika tujuan berada di Pulau Jawa selain Jakarta, tarifnya berkisar Rp 990 hingga Rp 5 060. Sedangkan pengiriman standar ke Kalimantan dikenakan biaya antara Rp 3 440 dan Rp 5 060. Untuk opsi ekonomi, tarifnya mulai Rp 3 130 hingga Rp 5 060 ketika dikirim dari Jawa ke Kalimantan, dan Rp 3 540 hingga Rp 5 060 ketika menuju Papua dan Maluku.

Pengiriman kargo juga memiliki tarif tersendiri. Dari Jawa ke Jakarta, ongkir kargo berkisar Rp 1 420 sampai Rp 4 850 per pesanan. Untuk tujuan di Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Maluku, tarif maksimalnya adalah Rp 5 060.

Sementara itu, ShopeeIndonesia memulai penyesuaian biaya layanan pada program Gratis Ongkir XTRA mulai 2 Mei 2026. Biayanya ditentukan berdasarkan ukuran paket—produk ukuran biasa dan produk ukuran khusus—serta kategori produk.

Produk ukuran biasa diartikan sebagai barang dengan berat di bawah 5 kg, panjang/lebarnya kurang dari 60 cm, dan volume kurang dari 20 000 cm³. Untuk kategori ini, biaya layanan berada di kisaran 1 %–8 % dari harga produk.

Produk ukuran khusus mencakup barang dengan berat ≥ 5 kg, panjang/lebarnya ≥ 60 cm, atau volume ≥ 20 000 cm³. Biaya layanan untuk produk ini berkisar 2,5 %–9,5 %.

Contoh penerapan tarif: barang elektronik seperti earphone, headphone, headset, media player, mikrofon, dan perangkat audio dikenakan 5,5 % jika masuk kategori produk ukuran biasa, dan 7 % jika masuk kategori produk ukuran khusus. Untuk aksesoris—cincin, dasi, gelang tangan, ikat pinggang, kacamata—biaya layanan adalah 8 % pada ukuran biasa dan 9,5 % pada ukuran khusus.

Shopee memberikan ilustrasi perhitungan biaya layanan dalam program Gratis Ongkir XTRA. Rumusnya adalah: Biaya Layanan Gratis Ongkir XTRA = (Harga Asli Produk – Diskon Produk dan/atau Voucher Diskon Ditanggung Penjual) × Persentase Biaya Layanan Sesuai Kategori Produk.

Pengumuman ini memicu reaksi di media sosial. Banyak penjual mengeluhkan beban tambahan biaya yang kini harus mereka tanggung. Diskusi ini menjadi sorotan karena menyoroti bagaimana platform e‑commerce menyesuaikan struktur biaya untuk menyeimbangkan kebutuhan logistik dan kepuasan pelanggan.

Perubahan ini menandai langkah signifikan bagi kedua platform besar di Indonesia. TikTok Shop menekankan bahwa biaya logistik akan membantu mereka meningkatkan jaringan pengiriman, sedangkan Shopee menyesuaikan tarif berdasarkan ukuran dan kategori produk. Meskipun tujuan kedua platform sama—menyediakan layanan yang lebih baik—kebijakan ini menambah kompleksitas bagi penjual yang harus menghitung ulang margin dan strategi harga. Di tengah persaingan ketat, penjual kini harus menilai kembali model bisnis mereka, mempertimbangkan biaya tambahan ini, dan menyesuaikan strategi penetapan harga agar tetap kompetitif di pasar yang terus berkembang.

TikTok ShopShopeeongkirpenjuallogistikbiaya layananukuran produk

Komentar

Memuat komentar...