Tikus Berjambul Afrika: Pengerat Beracun Terunik di Dunia

Ani R. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 87 dibaca
Bisik.id
Tikus Berjambul Afrika: Pengerat Beracun Terunik di Dunia

Gambar atau konten salah?

Lophiomys imhausi, yang dikenal sebagai tikus berjambul, tikus bersurai dan tikus berjambul Afrika, adalah satu-satunya pengerat beracun yang diketahui di dunia. Ia dapat menyerap racun tanaman dan menyimpannya sebagai pertahanan.

Seorang tikus berjambul dewasa dapat tumbuh hingga 360 mm dari kepala ke ujung ekor, dan panjang total dapat mencapai 530 mm. Tubuhnya menyerupai sigung kecil berbulunya tebal, dengan garis hitam dan putih yang membentang sepanjang tubuh.

Garis-garis ini membentuk sejenis surai. Ketika terancam, bulu-bulu ini berdiri tegak, menandakan kesiapan pertahanan. Surai ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan racun yang cukup kuat untuk mematikan hewan yang nekat menggigitnya.

Spesies ini hidup di hutan, sabana, dan semak belukar. Mereka suka medan berbatu dan membangun sarang di batang pohon berongga, lubang, atau cekungan. Populasi telah diamati di Somalia, Etiopia, Sudan, Republik Persatuan Tanzania, Kenya, Jibuti, dan Eritrea.

Mayoritas tikus berjambul hidup sendiri, namun kadang membentuk kelompok kecil yang terdiri dari jantan, betina, dan anak-anaknya. Betina biasanya melahirkan satu hingga tiga anak dalam satu kelahiran.

Makanan utama tikus berjambul adalah tumbuhan: daun, buah, akar, serta serangga dan daging kecil. Mereka tidak tergantung pada satu sumber makanan, sehingga dapat bertahan di habitat beragam.

Keunikan utama tikus berjambul terletak pada mekanisme pertahanan yang memanfaatkan racun dari spesies lain. Ia memakan kulit pohon panah beracun Afrika, Acokanthera schimperi, yang mengandung acovenoside A dan ouabain, dua senyawa cardenolide yang mempengaruhi jantung.

Setelah memakan kulit pohon tersebut, tikus berjambul menjilati bulu-bulu di sepanjang kelenjar di kedua sisi jambulnya. Air liur yang tercampur dengan senyawa cardenolide menempel pada bulu, yang memiliki struktur khusus untuk menyerap dan menyebarkan cairan.

Jika pemangsa menyerang, bulu-bulu yang terpapar akan melepaskan racun ke dalam mulut pemangsa. Racun ini masuk cepat ke aliran darah, menyebabkan muntah, kejang, kesulitan bernapas, bahkan henti jantung. Racun ini cukup kuat untuk menumbangkan gajah dewasa.

Meski tujuan utama tikus berjambul adalah membuat pemangsa sakit dan belajar untuk tidak menyerang lagi, korban tetap terjadi. Anjing yang menyerang tikus berjambul dapat mati keracunan, sementara yang selamat menunjukkan ketakutan pada pertemuan berikutnya.

Belum ada penjelasan ilmiah lengkap tentang bagaimana tikus berjambul dapat mengonsumsi racun tanpa merusak tubuhnya. Namun, pengerat dari superfamili Muroidea memiliki variasi biokimia yang membuat mereka lebih tahan terhadap senyawa tersebut. Ada juga teori bahwa bakteri di lambungnya dapat mengurai cardenolide secara aman.

Secara keseluruhan, Lophiomys imhausi menunjukkan contoh evolusi pertahanan yang unik. Dengan memanfaatkan racun tanaman dan menyimpannya dalam bulu, tikus berjambul menjadi makhluk yang menakutkan bagi predator, sekaligus menyoroti kompleksitas interaksi antara hewan dan tumbuhan di ekosistem Afrika.

Lophiomys imhausitikus berjambulracun tanamancardenolideAcokanthera schimperipertahanan berbuluAfrika

Komentar

Memuat komentar...