Toga Wisuda UMM Ditarik, Mirip Kostum Bantengan

Wulan M. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Toga Wisuda UMM Ditarik, Mirip Kostum Bantengan

Gambar atau konten salah?

Desain baru toga wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menuai reaksi keras dari publik. Banyak yang menilai pakaian pelengkap wisuda ini mirip dengan kostum penari kesenian bantengan.

Kritik tajam mulai bermunculan setelah foto dan video toga baru UMM menyebar luas di media sosial. Perpaduan warna hitam dengan aksen merah menyala dan kuning dianggap sangat mirip dengan kostum kesenian bantengan yang memang identik dengan warna-warna mencolok.

Unggahan dari akun TikTok @dioricooia menjadi salah satu pemicu ramainya perbincangan. Warganet melontarkan kritik pedas. "Motivasi apa sih bikin desain toga kaya tim bantengan," tulis seorang warganet di kolom komentar.

Menghadapi banjir kritik, pihak rektorat UMM bergerak cepat. Mereka memutuskan untuk menarik kembali seluruh toga baru yang sudah dibagikan kepada calon wisudawan. Sebagai gantinya, kampus akan menggunakan desain toga lama. Langkah ini diambil demi menjaga marwah dan sakralitas prosesi kelulusan.

Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UMM, Dr. Tatag Muttaqin, memberikan penjelasan. Rencana penyegaran desain toga ini sebenarnya sudah lama digodok di tingkat pimpinan universitas. Desain lama sudah dipakai dalam waktu yang cukup panjang.

Langkah ini murni merupakan bentuk penyegaran perdana bagi kampus. Bukan sekadar mengikuti tren dari institusi lain. Namun, dalam proses realisasinya, hasil akhir toga yang diproduksi ternyata meleset dari sampel awal yang sudah disepakati.

Perbedaan itu mencakup aspek desain, kesesuaian warna, hingga kualitas bahan yang digunakan. "Tetapi realnya tidak sesuai dengan yang pertama kita contohkan. Sehingga, apa yang terjadi? Kita coba bagikan ke calon wisudawan, dan mendapat respon yang saya kira ini sangat baik sekali untuk UMM. Ini bentuk evaluasi kami, kami lihat respon, dan Pak Rektor menyikapi dengan sangat bijaksana. Ini bentuk tanggung jawab kami, maka seluruh toga yang akan kita gunakan untuk wisuda ini kita tarik semua," ujar Tatag saat dikonfirmasi.

Tatag tidak menampik bahwa riuh rendahnya komentar netizen di media sosial menjadi salah satu pertimbangan penting. Termasuk komentar yang menyamakan desain baru dengan kostum kesenian bantengan. Menurutnya, UMM sebagai kampus besar sangat menjaga standar kualitas atribut akademiknya.

"Itu juga merupakan suatu bagian, salah satu masukan dari kami. Kita menerima semua bentuk kritik karena memang ada kesalahan. Kita mengakui ada kesalahan desain, warna, dan bahan. Apalagi UMM kampus besar, kalau ada kualitas seperti itu kami juga tidak berkenan," tegasnya.

Hingga saat ini, universitas sudah berhasil mengamankan kembali toga baru yang sempat tersebar. Total ada sekitar 971 toga dari wisudawan periode 7 dan 9 yang ditarik. Dari jumlah itu, 460 toga sudah langsung dikembalikan pada hari pertama proses penarikan.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban, manajemen UMM tidak hanya mengganti penggunaan busana wisuda kembali ke modul toga lama. Mereka juga menanggung dan mengganti seluruh biaya yang sudah dikeluarkan mahasiswa terkait pengadaan toga tersebut.

Meski sempat terjadi kendala teknis pada produksi kali ini, Tatag memastikan bahwa agenda penyegaran wajah baru toga UMM akan tetap direncanakan di masa mendatang. Tentu dengan kualitas yang jauh lebih baik.

Kasus ini menunjukkan bagaimana sebuah institusi pendidikan merespons masukan publik. Keputusan menarik ribuan toga dan mengganti biaya mahasiswa menjadi bentuk tanggung jawab yang diambil UMM. Rencana penyegaran desain tetap akan berjalan, namun dengan pengawasan yang lebih ketat agar hasil akhir sesuai dengan yang diharapkan.

toga wisudaUMMkritik publikdesain barubantenganpenarikan togatanggung jawab

Komentar

Memuat komentar...