Toyota Belum Tertarik Bawa PHEV ke Hilux
Gambar atau konten salah?
Toyota belum menunjukkan minat untuk menghadirkan teknologi plug-in hybrid (PHEV) pada pikap andalannya, Hilux. Meskipun beberapa pesaing dari China sudah lebih dulu meluncurkan produk serupa, Toyota menilai teknologi PHEV saat ini belum cocok untuk pekerjaan berat.
Sebenarnya, Toyota bukan pendatang baru di dunia elektrifikasi. Pabrikan asal Jepang ini sudah memiliki banyak model hybrid dan PHEV. Namun, untuk Hilux, mereka memilih tetap setia pada mesin diesel, mild hybrid, dan versi listrik murni (BEV). Dua tahun lagi, Hilux dijadwalkan mendapatkan varian fuel cell electric vehicle (FCEV).
Ray Munday, Senior Manager Product Planning and Pricing Toyota Australia, mengatakan bahwa Toyota terus mempelajari kemungkinan menghadirkan Hilux PHEV. Tapi mereka tidak mau terburu-buru meluncurkan produk yang belum benar-benar siap.
Menurut Munday, tantangan terbesar teknologi PHEV saat ini adalah bobot kendaraan yang bertambah karena baterai. Hal ini berdampak langsung pada kemampuan angkut (payload) dan kapasitas menarik beban (towing). Dua aspek ini sangat penting bagi pengguna Hilux.
Toyota khawatir Hilux PHEV tidak mampu menyamai performa versi diesel yang bisa menarik beban hingga 3.500 kg dengan daya angkut sekitar 1 ton. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Hilux BEV yang sudah diperkenalkan hanya memiliki kapasitas towing 2.000 kg.
"Jadi, sampai teknologinya benar-benar siap, kami tidak akan meluncurkan produk secara terburu-buru. Saat ini, tantangan utama PHEV maupun teknologi elektrifikasi lainnya adalah bobot kendaraan yang bertambah," ujar Munday, dikutip dari Carscoops, Rabu (07 Agustus 2024).
"Hal itu mengurangi kapasitas angkut (payload) sekaligus kemampuan menarik beban (towing). Teknologi yang ada saat ini juga belum mampu memenuhi standar kami terkait kemampuan menarik beban berat yang diharapkan pelanggan Hilux," tambahnya.
Karena itu, Toyota sementara masih memfokuskan pengembangan teknologi PHEV pada mobil penumpang dan SUV. Sementara untuk kendaraan niaga seperti Hilux, Toyota akan menunggu hingga teknologi tersebut benar-benar matang dan mampu memenuhi kebutuhan pelanggan yang mengandalkan pikap untuk pekerjaan berat.
Keputusan Toyota ini menunjukkan bahwa meskipun elektrifikasi terus berkembang, tidak semua teknologi siap diterapkan pada semua jenis kendaraan. Untuk kendaraan kerja berat seperti Hilux, performa dan daya tahan masih menjadi prioritas utama dibandingkan efisiensi bahan bakar atau emisi yang lebih rendah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Toyota Panggil Produsen Jepang Bersatu Lawan Mobil China
Tragedi Indramayu: 12 Tewas Akibat Pikap Angkut Manusia
BYD Tabrak Kaca Gedung SCBD, Sopir Salah Injak Pedal
Mitsubishi Luncurkan XForce Hybrid, SUV Irit Pertama
Recall Stiker, Subaru Tarik 541 Ribu Mobil di AS
Rincian Tarif SWDKLLJ 2025, Dari Motor hingga Truk
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
