TPU Cikadut: Warisan Budaya Bandung yang Jadi Tempat Wisata
Gambar atau konten salah?
TPU Cikadut di Kota Bandung menyambut pagi dengan keramaian. Warga hilir mudik menumpuk di area pemakaman, baik untuk berziarah maupun sekadar mengunjungi pusara keluarga. Suasana penuh doa dan harap, di mana peziarah membersihkan daun kering dan memungut sampah plastik yang mengotori area tersebut.
Setelah membersihkan, doa dipanjatkan dengan khidmat. Beberapa peziarah terisak, meneteskan air mata dengan tisu. Mereka menaburkan bunga dari plastik transparan ke atas pusara, lalu meneteskan air dalam botol hingga membasahi nisan. Kegiatan ini berulang setiap kali pengunjung datang, menciptakan ritus sederhana namun bermakna.
TPU Cikadut tidak hanya menjadi tempat peringatan pasca Lebaran. Setiap akhir pekan, warga datang dalam jumlah besar. Tempat ini dikenal sebagai lokasi pemakaman komunitas Tionghoa, namun juga menampung area pemakaman warga muslim. Keterbukaan ini menambah warna sejarah di kawasan perbukitan Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan Mandalajati, Kota Bandung.
Kompleks pemakaman ini telah ada sejak sebelum 1905, menjadikannya salah satu pemakaman terbesar dan bersejarah di wilayah tersebut. Bagi warga lokal, tempat ini sering disebut sebagai Kuburan Cina. Banyak cerita tentang jejak komunitas Tionghoa di Bandung sejak era Hindia Belanda mengalir di sini. Makam di sini memiliki gaya arsitektur khas, menyerupai vila kecil, mencerminkan kepercayaan bahwa makam adalah rumah masa depan. Fasilitas krematorium juga sudah beroperasi sejak 1961.
Di tengah lalu lintas peziarah, berdiri tugu obelisk berwarna cokelat muda dengan ujung berbentuk piramida. Tugu dihiasi tulisan Mandarin, berdiri di sekitar kompleks pemakaman sebagai pengingat bagi para leluhur. Selain itu, terdapat Monumen Cagar Budaya Cikadut yang baru diresmikan oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Kawasan ini telah terdaftar sebagai salah satu Situs Cagar Budaya Kota Bandung berdasarkan Perda No. 7 Tahun 2018.
“Menghormati, kalau tidak ada mereka di sini, tidak akan ada kita juga. Tiap makam harus kita hormati,” kata Abah Oting kepada detikJabar, Minggu (29/9/2024). Ia menegaskan bahwa tugu tersebut merupakan upaya melestarikan lingkungan cagar budaya. Tak hanya monumen, kawasan TPU Cikadut kini ditata dengan lebih rapi.
“Ini ikon wisata, makam ini sudah ada yang lebih dari 100 tahun,” ujarnya. Abah Oting menyebut kawasan TPU Cikadut sebagai area cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi, sehingga berpotensi menjadi ikon wisata. Ia menekankan bahwa makam ini sudah ada lebih dari satu abad.
Berbagai tokoh Tionghoa Bandung dimakamkan di sini, seperti Tan Joen Liong, Kapiten Tionghoa pertama di Bandung yang wafat pada 1917. Makamnya berada di Blok Kapiten dan menjadi salah satu situs sejarah tertua di TPU Cikadut. Ada juga tokoh terkaya di Bandung dulu, makam Yok Goksi, serta makam pemilik tekstil ternama di Jalan Sudirman namanya Yostex.
“Monumen ini sebagai pengingat, kalau ada yang datang ke sini ada tujuan untuk melihat monumen dan mengetahui sejarahnya,” tambahnya. Djoni, perwakilan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa, menekankan pentingnya monumen sebagai pengingat bagi pengunjung.
“Ini monumen cagar budaya, kebudayaan ini bukan milik salah satu golongan, agama dan suku Tionghoa. Jadi kebiasaan ada nyekar, kalau di Tionghoa adalah Ceng Beng menghormati leluhur. Jadi tanpa ada leluhur, kita-kita di sini tidak akan ada,” kata salah satu perwakilan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa, Djoni. Ia menyoroti bahwa Ceng Beng adalah hari khusus untuk berziarah setahun sekali, dan monumen tersebut menjadi pengingat akan sejarah dan kebudayaan.
“Kita wajib lestarikan, jangan telantarkan makam yang ada, ini bisa jadi obyek wisata seperti di luar negeri, jadi kebanggaan dan tujuan wisata di Kota Bandung,” tuturnya. Djoni mengajak warga sekitar, Pemerintah Kota Bandung, dan Pemkab Bandung bersinergi menjaga kawasan serta sejarah TPU Cikadut. Ia berharap kawasan ini ditata dengan baik dan menghidupkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.
“Kajian tidak mudah, ini total luas 56 hektare, apakah semuanya masuk cagar budaya? Maka kajiannya harus clear, apa klasifikasinya, apa definisinya, apakah semua makam atau beberapa makam saja dan kajian ini akan disusun bersama-sama sehingga SK nya kuat,” ujar Wali Kota Bandung Muhammad Farhan usai meresmikan Monumen Cagar Budaya Cikadut. Ia menekankan bahwa penelitian ini bertujuan menentukan apakah seluruh kawasan seluas 56 hektare masuk kategori cagar budaya atau hanya sejumlah makam bersejarah saja.
“Kota Bandung itu adalah kota yang dibangun sebagai kota cosmopolitan. Salah satu ciri kota cosmopolitan adalah keberagaman budaya dan latrar belakang rasialnya yang sangat kuat. Di Kota Bandung ini ada Kampung Pecinan, ada penginggalan budaya Jepang, Arab juga ada, Belanda, Inggris, perkebunan, Sunda jelas, bahkan selain Sunda juga ada di Bandung, semua harus terlibat dalam kebinekaan latar belakang budaya kita,” pungkasnya. Farhan menekankan bahwa keberagaman budaya menjadi identitas kota Bandung.
TPU Cikadut, dengan sejarah panjang, arsitektur unik, dan monumen bersejarah, menjadi saksi bisu perjalanan budaya di Bandung. Kegiatan rutin peziarah, upaya pelestarian, dan potensi wisata menunjukkan bagaimana tempat ini tetap relevan bagi generasi sekarang. Dengan perhatian bersama, kawasan ini dapat terus menjadi tempat peringatan sekaligus destinasi wisata yang menghormati sejarah dan keberagaman budaya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
