Ubud Food Festival 2026: Petani Menjadi Pahlawan Rasa

Wahyu T. · 2 min baca · 11 hari lalu · 53 dibaca
Bisik.id
Ubud Food Festival 2026: Petani Menjadi Pahlawan Rasa

Gambar atau konten salah?

Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud pada tanggal 28 hingga 31 Mei 2026. Festival ini, yang sudah lama menjadi salah satu acara kuliner paling berpengaruh di Asia Tenggara, kali ini menampilkan ruang diskusi tentang cita rasa, keberlanjutan, dan identitas budaya.

Founder dan Director festival, Janet DeNeefe, mengungkapkan bahwa Ubud Food Festival 2026 akan mengusung tema Farmers: Guardians of Land and Sea. Tema ini menyoroti peran penting petani, nelayan, dan produsen pangan dalam menjaga keberlanjutan kuliner Indonesia. “Melalui tema tahun ini, kami menempatkan para petani sebagai tokoh utama,” ujar Janet DeNeefe dalam keterangan tertulis yang diterima pada Sabtu, 23 Mei 2026. Ia menambahkan, “Mereka (petani) bukan sekadar pemasok. Mereka adalah penjaga keanekaragaman hayati, pembawa pengetahuan, dan perawat budaya. Setiap hidangan berawal dari kerja dan kepedulian mereka terhadap darat dan laut,” imbuhnya.

Pengunjung festival dapat menikmati demo memasak, puluhan tenant pilihan di Food Market gratis, serta pengalaman bersantap di berbagai lokasi menarik di Ubud. Program festival juga mencakup diskusi kuliner, masterclass interaktif, dan tur kuliner yang menampilkan ragam hidangan Nusantara maupun internasional.

Tahun ini, Ubud Food Festival menghadirkan talenta kuliner dari dalam maupun luar negeri. Salah satu chef internasional yang turut meramaikan acara adalah Chef Prin Polsuk dari Thailand. Ia dikenal lewat risetnya terhadap resep-resep tradisional Thailand, dan restoran miliknya pernah meraih penghargaan Samrub Samrub Thai. Selain Prin Polsuk, hadir pula Chef Ben Devlin asal Australia, Executive Chef sekaligus pemilik Pipit. Ia dikenal lewat pendekatan pada hasil laut pesisir dan teknik memasak menggunakan api kayu.

Tak ketinggalan, Kate Reid, pendiri Lune Croissanterie di Melbourne, yang dikenal lewat inovasi pastry dan croissant-nya yang mendunia, turut tampil. Chef Frank Camorra asal Spanyol, pemilik restoran ikonik MoVida di Melbourne, juga akan hadir membawa pengaruh tapas Spanyol modern di Australia. Dari Australia, Darren Leane, mixologist asal Caretaker's Cottage, dijadwalkan turut meramaikan festival.

Di tingkat lokal, Chef Jovan Koraag dari restoran Mata Karanjang di Jakarta akan membawa cita rasa sajian masakan Manado yang kaya rempah dan pedas. Sementara itu, Agung Widyastuti, petani kakao asal Bali, akan menyoroti pentingnya ketahanan pangan, keberlanjutan, dan pengetahuan lintas generasi melalui dedikasinya terhadap kakao Bali.

“Kami menghadirkan para chef, petani, produsen, dan pemikir untuk menciptakan lebih dari sekadar festival. Ini adalah perayaan seluruh ekosistem pangan,” ucap Janet DeNeefe. “Dengan tema Farmers: Guardians of the Land and Sea, kami juga mengingat tanggung jawab bersama untuk menjaga bahan pangan, tradisi, dan masa depan kuliner di Indonesia maupun di dunia,” pungkasnya.

Festival ini menegaskan komitmen terhadap keberlanjutan dan penghargaan terhadap para pelaku utama dalam rantai pasok makanan. Melalui kolaborasi antara chef internasional, chef lokal, dan petani, Ubud Food Festival 2026 menampilkan kekayaan rasa sekaligus mengajak semua pihak untuk menjaga dan melestarikan warisan kuliner Indonesia.

Ubud Food Festivalkeberlanjutanpetanikuliner Indonesiachef internasionalkekayaan rasatema FarmersTaman Kuliner Ubud

Komentar

Memuat komentar...