Viral Fat Choy Mirip Rambut, Fakta di Balik Makanan Keberuntungan

Fajar H. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Viral Fat Choy Mirip Rambut, Fakta di Balik Makanan Keberuntungan

Gambar atau konten salah?

Baru-baru ini, jagat media sosial dihebohkan dengan kemunculan fat choy. Bukan karena rasanya, melainkan bentuknya yang dianggap mirip rambut kemaluan. Berbagai konten menampilkan kue-kue modern, mulai dari croissant hingga cake, yang dihiasi topping fat choy hitam legam. Reaksi netizen pun beragam. Banyak yang menyebutnya sebagai 'makanan jorok'. Rasa jijik bercampur penasaran mewarnai kolom komentar.

Tapi, di balik tampilannya yang kontroversial, fat choy menyimpan cerita yang jauh berbeda. Bahan makanan ini bukanlah rambut atau benda asing. Justru sebaliknya, ia memiliki nilai budaya yang tinggi dan dipercaya sebagai simbol keberuntungan serta kemakmuran. Berikut lima fakta menarik tentang fat choy yang dirangkum dari unggahan Instagram @aishamaharani pada 10 Juli 2026.

1. Bukan Rambut, Bukan Rumput Laut

Meski sekilas terlihat seperti helaian rambut hitam kusut, fat choy sama sekali bukan rambut atau rumput laut. Tanaman ini adalah koloni sianobakteri (cyanobacteria) dengan nama ilmiah Nostoc flagelliforme. Ia tumbuh secara alami di kawasan gurun dan padang rumput, terutama di wilayah China bagian utara dan Mongolia. Karena bentuknya yang menyerupai rambut panjang berwarna hitam, tanaman ini mendapat julukan hair vegetable atau sayuran rambut. Setelah dipanen dan dikeringkan, teksturnya menjadi sangat ringan. Keunikan bentuk inilah yang membuat fat choy mudah dikenali dan menjadi salah satu bahan makanan paling ikonik dalam kuliner tradisional China.

2. Simbol Keberuntungan dan Kekayaan

Popularitas fat choy tidak semata-mata karena rasanya. Ada makna filosofis yang melekat kuat. Dalam bahasa Mandarin, terdapat frasa fa cai (發財) yang berarti 'memperoleh rezeki' atau 'menjadi kaya'. Menariknya, penulisan nama fat choy menggunakan karakter 髮菜 yang pengucapannya hampir identik dengan 發財. Kemiripan bunyi inilah yang membuat masyarakat Tionghoa menganggap fat choy sebagai simbol datangnya keberuntungan, rezeki, dan kemakmuran. Tak heran, fat choy hampir selalu hadir dalam hidangan Tahun Baru Imlek. Menyantapnya dipercaya sebagai doa dan harapan agar tahun yang baru membawa kelimpahan rezeki bagi seluruh anggota keluarga.

3. Harga Selangit, Bukan Kaleng-Kaleng

Jangan remehkan penampilannya yang sederhana. Fat choy termasuk bahan pangan premium dengan harga yang cukup tinggi. Untuk kualitas baik, harga sekitar 50 gram bisa mencapai Rp250 ribu hingga Rp500 ribu. Sementara itu, kemasan 100 gram dapat dijual mulai Rp500 ribu hingga lebih dari Rp1 juta, bahkan lebih mahal untuk kualitas premium. Tingginya harga ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, fat choy tumbuh sangat lambat di habitat alaminya. Proses regenerasinya membutuhkan waktu yang lama. Kedua, proses panennya tidak mudah. Tanaman ini harus dikumpulkan secara hati-hati dari kawasan padang rumput kering.

4. Nutrisi Tinggi, Tapi Tersembunyi

Meski biasanya dikonsumsi dalam jumlah sedikit, fat choy memiliki kandungan gizi yang cukup banyak. Dalam kondisi kering, bahan pangan ini mengandung serat pangan, protein, zat besi, kalsium, magnesium, hingga kalium. Serat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan, sementara mineral seperti zat besi dan kalsium berperan dalam berbagai fungsi tubuh. Sayangnya, karena penggunaannya hanya sebagai pelengkap hidangan, kontribusi nutrisinya terhadap kebutuhan harian tidak terlalu besar. Kandungan nutrisi dalam fat choy masih dianggap sebagai 'hidden gem' yang jarang disadari. Sampai saat ini, fat choy masih dipandang sebagai pelengkap makanan, bukan sebagai asupan makanan utama.

5. Dari Sup hingga Tumisan

Dalam dunia kuliner China, fat choy diolah menjadi berbagai macam masakan. Bahan ini sering dimasukkan ke dalam sup, hidangan vegetarian khas Buddha, tumisan jamur (braised mushroom), hingga isian berbagai makanan tradisional. Sebelum dimasak, fat choy biasanya direndam terlebih dahulu agar teksturnya kembali lembut. Setelah itu, bahan ini mudah menyerap cita rasa kuah maupun bumbu, sehingga cocok dipadukan dengan aneka masakan. Belakangan, fat choy memang sempat menjadi sorotan di media sosial karena digunakan untuk membuat konten makanan yang menyerupai bagian rambut kemaluan. Namun, secara budaya, fat choy tetaplah bahan pangan yang memiliki nilai simbolis dan dihormati dalam tradisi kuliner Tionghoa.

Fat choy adalah contoh sempurna bagaimana penampilan bisa menipu. Dari bahan yang dianggap 'jorok' dan aneh, ia menjelma menjadi simbol kekayaan dan keberuntungan yang dihargai tinggi. Perdebatan di media sosial hanyalah gesekan permukaan. Di baliknya, ada sejarah panjang, filosofi, dan nilai ekonomi yang membuat fat choy jauh lebih dari sekadar 'makanan rambut'.

fat choysimbol keberuntunganbahan makanan kontroversialNostoc flagelliformebudaya Tionghoaharga premiummedia sosial

Komentar

Memuat komentar...