BCA Latih Gastronomi Desa Bakti di Labuan Bajo

Jaka M. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
BCA Latih Gastronomi Desa Bakti di Labuan Bajo

Gambar atau konten salah?

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjalankan program pemberdayaan masyarakat di wilayah Indonesia Timur melalui inisiatif corporate shared value (CSV) yang disebut Bakti BCA. Program ini berfokus pada peningkatan keterampilan gastronomi bagi para pengelola desa Bakti BCA yang berada di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Sebanyak sembilan pengelola desa Bakti BCA mengikuti program ini. Tujuannya sederhana: memaksimalkan potensi yang dimiliki masing-masing desa, khususnya di bidang gastronomi. Program ini dirancang untuk memberdayakan para pengelola desa yang memiliki keunggulan di bidang kuliner. Bukan sekadar soal memasak, program ini juga mendalami hubungan antara kuliner lokal dengan sejarah, seni, dan budaya setempat.

Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, menjelaskan dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 11 Juli 2026, bahwa kuliner lokal merupakan potensi yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat desa. "Melalui workshop ini, kami ingin mendorong para pengelola Desa Bakti BCA untuk semakin percaya diri menyajikan cita rasa dan budaya khas daerahnya dengan standar penyajian yang lebih baik, sehingga dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat desa," ujarnya.

Workshop ini menggunakan pendekatan penyajian gastronomi end-to-end. Peserta belajar dari awal hingga akhir. Mulai dari memilih dan mengolah bahan baku lokal, teknik memasak, hingga cara menata dan menyajikan hidangan agar terlihat lebih menarik di mata wisatawan. Semua tahapan dipraktikkan langsung oleh peserta. Mereka didampingi oleh Dapur Tara, sebuah pelaku usaha kuliner berbasis budaya Flores yang berlokasi di kawasan Labuan Bajo. Dapur Tara bertindak sebagai fasilitator dalam workshop ini.

Hera menambahkan bahwa BCA memberikan pembinaan yang holistik. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat desa. Program-program yang dijalankan mencakup pengelolaan keuangan, rumah pangan hidup (RPH), revitalisasi kebun kopi, dukungan sertifikasi, dan berbagai program pengembangan lainnya. Semua ini dilakukan secara terstruktur.

Inisiatif Desa Bakti BCA sendiri memiliki tiga pilar utama. Pertama, usaha berbasis kemasyarakatan. Artinya, usaha desa Bakti BCA harus dimiliki dan dikelola oleh masyarakat lokal di masing-masing daerah. Kedua, peningkatan kapasitas. BCA menyelenggarakan pelatihan secara berkala untuk memperkuat kualitas SDM dan kelembagaan tata kelola usaha desa. Ketiga, akses pasar. BCA memberikan dukungan promosi dan perluasan akses pasar melalui berbagai saluran ekosistem BCA serta misi penjualan.

"Kami percaya bahwa penguatan kapasitas masyarakat desa harus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan agar dampaknya benar-benar terasa. Karena itu, setiap program dirancang untuk saling terhubung dan mendukung pengembangan potensi lokal secara menyeluruh," tutup Hera.

Program ini menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan perbankan mencoba terlibat langsung dalam pengembangan ekonomi desa. BCA tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan. Fokus pada gastronomi di Labuan Bajo cukup strategis, mengingat daerah ini merupakan salah satu destinasi wisata super prioritas di Indonesia. Dengan meningkatkan keterampilan penyajian kuliner lokal, diharapkan masyarakat desa bisa menarik lebih banyak wisatawan dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan mereka. Pendekatan tiga pilar—usaha milik masyarakat, pelatihan berkelanjutan, dan akses pasar—menjadi kerangka kerja yang saling mendukung. Tanpa salah satu pilar, program ini mungkin tidak akan berjalan efektif.

BCABakti BCApemberdayaan masyarakatgastronomiLabuan Bajoketerampilan kulinerekonomi desa

Komentar

Memuat komentar...