Warna Pakaian Jumat Agung: Pilih Merah atau Hitam Berhormat
Gambar atau konten salah?
Jumat Agung adalah hari yang penuh keheningan bagi umat Kristiani. Pada hari ini, mereka mengenang penderitaan dan kematian Yesus Kristus di kayu salib. Suasana khidmat ini juga tercermin dari cara umat mempersiapkan diri, termasuk dalam memilih pakaian yang dikenakan saat mengikuti ibadat di gereja.
Menurut laman Gereja Santo Paulus dan Petrus Paroki Mangga Besar, kata “agung” dalam Jumat Agung berarti kesucian dan keagungan peristiwa yang diperingati. Hari ini dianggap sebagai puncak penderitaan dan pengorbanan Yesus untuk menebus dosa manusia.
Berbagai sumber menanyakan: Jumat Agung pakai baju apa? Untuk menjawabnya, para pendeta dan para pengurus gereja sering merujuk pada warna liturgi. Warna liturgi adalah warna yang dipakai dalam ibadah untuk menandai suasana dan makna perayaan.
Menurut penjelasan yang disampaikan melalui akun YouTube Paroki Purwokerto, warna liturgi Jumat Agung adalah merah. Jika umat ingin menyesuaikan pakaian dengan warna liturgi, mengenakan pakaian berwarna merah dapat menjadi pilihan.
"Jumat Agung itu warna liturginya merah. Jadi kalau mau disesuaikan dengan warna liturgi, berarti menggunakan merah," ujar Romo Bayu, Kamis (02 April 2026).
Warna merah melambangkan kasih, pengorbanan, kebajikan, serta darah para martir. Warna ini juga mencerminkan pengorbanan Yesus yang rela wafat di kayu salib demi keselamatan umat manusia, seperti yang dijelaskan di laman Paroki St. Arnoldus Jansen.
Meski merah menjadi warna liturgi, banyak umat yang memilih memakai pakaian berwarna hitam pada Jumat Agung. Warna hitam biasanya diartikan sebagai simbol duka atas penderitaan dan sengsara yang dialami Yesus.
Jika memilih warna hitam, hal tersebut tetap diperbolehkan. Namun, penting dipahami bahwa perubahan warna liturgi menjadi merah didasarkan pada refleksi teologis yang berkembang dalam Gereja. Jumat Agung tidak hanya dimaknai sebagai hari dukacita, tetapi juga sebagai momen kemenangan Kristus melalui salib.
"Sebelum tahun 1965 warna liturgi Jumat Agung adalah hitam. Kenapa diubah? karena merah melambangkan pencurahan darah dengan kerelaan jadi walaupun nnti merayakan duka tapi dukanya itu bukan duka 'kita layak' tapi duka karena 'saya Yesus disalib atau duka terhadap kita sendiri',"
Penggunaan warna hitam masih dapat dipertimbangkan sebagai ungkapan duka. Namun, warna merah menegaskan bahwa duka yang dirasakan bukan sekadar duka pribadi, melainkan duka atas pengorbanan Yesus.
Berbicara tentang keharusan memakai pakaian sesuai warna liturgi, Pastor Paulus R L Tobing SVD menjelaskan bahwa penggunaan pakaian sesuai warna liturgi bukanlah kewajiban bagi umat. Ketentuan tersebut hanya berlaku bagi imam dan para petugas liturgi yang bertugas dalam perayaan Ekaristi.
"Gereja Katolik tidak pernah mewajibkan umat untuk berpakaian sesuai dengan warna liturgi saat pergi atau saat mengikuti perayaan misa. Memang setiap perayaan dalam gereja Katolik itu sudah memiliki warna liturgi masing-masing, tetapi warna tersebut hanya wajib digunakan oleh imam (pastor) dan para petugas liturgi,"
Pastor Paulus R L Tobing SVD, Kamis (02 April 2026).
Ia menambahkan bahwa umat tetap diperbolehkan menyesuaikan pakaian dengan warna liturgi apabila berkenan. Hal tersebut dapat membantu umat lebih menyatu dengan suasana dan makna perayaan Ekaristi.
"Bagi umat yang ingin memakai pakaian sesuai dengan warna liturgi saat menghadiri ekaristi, ya baik juga agar umat menyatu dengan perayaan itu agar vibes dan atmosfer perayaan itu menyatu dengan perasaan umat,"
Pastor Paulus R L Tobing SVD, Kamis (02 April 2026).
Berikut ini beberapa poin penting yang dapat membantu memilih pakaian pada Jumat Agung:
• Warna liturgi resmi adalah merah, melambangkan darah dan pengorbanan.
• Warna hitam masih diperbolehkan sebagai simbol duka, namun tidak menandakan warna liturgi.
• Umat tidak diwajibkan memakai pakaian berwarna liturgi; kewajiban hanya bagi imam dan petugas liturgi.
• Menyesuaikan pakaian dengan warna liturgi dapat meningkatkan kesatuan dan kesadaran akan makna ibadah.
Jumat Agung, meski dipenuhi duka, juga menjadi momen refleksi atas pengorbanan dan kemenangan Kristus. Memilih pakaian yang sesuai warna liturgi atau tidak, yang terpenting adalah kesadaran akan makna hari tersebut dan rasa hormat terhadap tradisi gereja.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Mitos Malam 1 Suro: Tradisi Jawa dan Pandangan Islam
BMKG Prediksi Awal Kering 2026: 39,7% Wilayah Terpengaruh
Diskresi Partai: Keseimbangan Kekuatan dan Demokrasi Internal
Nenek Jumaria 70, Ikon Makkah 2026, Berhasil Haji
Buaya 2m di Kendari, Evakuasi ke Mako
Menteri Sosial Tegaskan Tanpa Korupsi di Sekolah Rakyat
Berita Terbaru
Musi Banyuasin Jadi Pusat Koordinasi Pencegahan Karhutla 2026
Mitos Malam 1 Suro: Tradisi Jawa dan Pandangan Islam
Tri Hariadi Kembali Cita‑Cita Sekda Tulungagung Pemecatan
Roberto Carlos Siap Saksikan Messi di Piala Dunia 2026
XLSmart Luncurkan AI ESTA Eco & Vision di Bravo 500 Summit
Mi Instan: Beban Sodium dan Risiko Metabolik pada Konsumen
Bupati Empat Lawang Tegaskan Anti KKN, Panggil Warga Awasi
Temuan Kepingan Emas di Candi Losari, Fokus Eksplorasi Baru
