Mitos Malam 1 Suro: Tradisi Jawa dan Pandangan Islam
Gambar atau konten salah?
Malam 1 Suro adalah penanda pergantian tahun dalam kalender Jawa. Seiring dengan peringatannya, banyak mitos dan kepercayaan yang berkembang di berbagai daerah dan diwariskan dari generasi ke generasi. Mitos‑misis ini berkaitan dengan aktivitas yang diyakini sebaiknya dilakukan atau dihindari pada malam tersebut. Kepercayaan tersebut masih sering menjadi perbincangan setiap kali malam 1 Suro tiba.
Berikut ini beberapa mitos yang banyak dikenal dan diyakini oleh sebagian masyarakat, khususnya masyarakat Jawa, sebagaimana dirangkum dari jurnal “Larangan beserta Tradisi Malam 1 Suro di Surakarta” oleh Riskha Nadia Ayuputri:
- Tidak Menggelar Hajatan – Mengadakan hajatan besar pada bulan Suro, seperti pernikahan atau pesta, dianggap kurang tepat. Bulan Suro dipandang sebagai waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, melakukan introspeksi, dan berdoa, bukan untuk perayaan besar.
- Menghindari Konflik atau Pertengkaran – Dalam tradisi Jawa, bulan Suro dianggap sebagai waktu yang memiliki nilai spiritual. Karena itu, masyarakat dianjurkan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama, menghindari perselisihan, serta memperbanyak refleksi diri.
- Tidak Melakukan Perjalanan Jauh – Sebagian masyarakat percaya bahwa melakukan perjalanan jauh pada bulan Suro dapat membawa risiko atau hal-hal yang tidak diinginkan. Kepercayaan ini telah berkembang secara turun‑temurun dalam budaya Jawa.
- Menjauhi Kesenangan Duniawi yang Berlebihan – Bulan Suro sering dikaitkan dengan kegiatan spiritual, seperti puasa, tirakat, meditasi, dan doa. Oleh karena itu, aktivitas yang dianggap terlalu berorientasi pada kesenangan duniawi dinilai kurang sejalan dengan makna bulan tersebut.
- Tidak Keluar Rumah pada Malam 1 Suro – Ada kepercayaan yang menyebutkan bahwa masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah pada malam 1 Suro. Sebagian orang meyakini bahwa keluar rumah pada malam tersebut dapat mendatangkan kesialan atau hal-hal yang tidak diinginkan.
- Tidak Berisik atau Membuat Keramaian – Larangan untuk tidak berisik pada malam 1 Suro berkaitan dengan tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng yang dijalankan oleh sebagian masyarakat di Surakarta. Tradisi ini dilakukan dalam suasana hening dan penuh perenungan.
- Tidak Berkata Kasar atau Buruk – Sebagian masyarakat meyakini bahwa menjaga ucapan pada malam 1 Suro merupakan hal yang penting. Oleh karena itu, perkataan kasar, buruk, atau yang dapat menyakiti orang lain dianjurkan untuk dihindari.
- Tidak Pindah atau Membangun Rumah – Mitos lain yang berkembang adalah larangan pindah rumah atau memulai pembangunan rumah pada malam maupun bulan Suro. Aktivitas tersebut dipercaya oleh sebagian masyarakat dapat membawa kesialan atau hambatan di kemudian hari.
- Tidak Menggelar Acara Besar yang Bersifat Hiburan – Selain hajatan, berbagai acara hiburan berskala besar juga kerap dihindari pada malam 1 Suro. Sebab, malam tersebut dianggap sebagai waktu yang lebih tepat untuk melakukan perenungan dan kegiatan spiritual sesuai tradisi yang berkembang di masyarakat.
- Tidak Menggelar Acara Besar yang Bersifat Hiburan – Meskipun sudah disebutkan, beberapa masyarakat tetap menekankan pentingnya menghindari acara hiburan berskala besar pada malam tersebut, karena dianggap tidak sesuai dengan suasana spiritual bulan Suro.
Berikut pendapat para ulama tentang bulan Suro:
Prof. KH Yahya Zainul Ma'arif, yang akrab disapa Buya Yahya, pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al‑Bahjah, menjelaskan bahwa sebagian masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, kerap menganggap bulan Muharram atau Suro sebagai bulan yang keramat. Karena anggapan tersebut, sebagian orang memilih untuk tidak mengadakan hajatan besar, melakukan perjalanan jauh, atau aktivitas tertentu yang dianggap hari nahas atau sial.
Menurut Buya Yahya, keyakinan bahwa suatu waktu atau bulan tertentu membawa kesialan perlu disikapi secara hati‑hati. Dalam ajaran Islam, tidak ada bulan yang membawa sial atau musibah. Muharram justru termasuk salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam.
“Ketahuilah saudaraku bahwa sikap‑sikap di atas tidaklah keluar dari dua hal yaitu mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu. Karena keributan bahwa mengatakan satu waktu atau bulan tertentu adalah bulan penuh penuh kesialan, itu sama saja dengan mencela waktu.”
Ustaz Muhammad Abduh menyampaikan pandangan serupa. Ia menjelaskan bahwa menganggap suatu waktu sebagai penyebab datangnya kesialan termasuk bentuk keyakinan yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Menurutnya, segala peristiwa yang terjadi merupakan ketentuan Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak mengaitkan datangnya musibah dengan bulan tertentu, melainkan memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, dan bertawakal kepada Allah SWT.
Berikut beberapa amalan yang dapat dilakukan pada malam 1 Suro atau malam 1 Muharram:
- Membaca Doa Akhir Tahun – Doa ini dibaca setelah sholat Ashar atau sebelum masuk waktu sholat Maghrib. Artinya, doa akhir tahun bisa mulai dibaca pada Senin, 15 Juni 2026 sebelum masuk waktu Maghrib. Berikut bacaan doa akhir tahun dalam Islam:
اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتَبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْهَا عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَانَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْ لِي وَمَا عَمِلْتُ فِيهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْتَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيمُ.
Arab Latin: Allaahumma maa 'amiltu min 'amalin fii haadzihis sanati maa nahaitanii 'anhu wa lam atub minhu, wa halumta fiihaa 'alayya bi fadhlika ba'da qudratika 'alaa 'uquubatii, wa da'autanii ilat taubati min ba'di jaraa-atii 'alaa ma'shiyatik. Fa innistaghfartuka faghfir-lii wa maa 'amiltu fiihaa mimmaa tardhaa, wa wa'attanii 'alaihits tsawaaba, fa as-aluka an tataqabbala minnii wa laa taqtha' rajaa-ii minka yaa kariim.
Artinya: “Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang, sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu, sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِي الْقَدِيمُ الْأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيمِ وَجُودِكَ الْمُعَوَّلِ. وَهَذَا عَامٌ جَدِيدٌ قَدْ أَقْبَلَ إِلَيْنَا، نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ وَجُنُودِهِ وَالْعَوْنِ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَالْاشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَبْهِ وَسَلَّمَ.
Arab Latin: Washallallaahu 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihii wa shahbihii wasallam. Allaahumma antal abadiyul qadiimul awwalu wa 'alaa fadhlikal 'azhiimi wa juudikal mu-awwal. Wa haadzaa 'aamun jadiidun qad akbala ilainaa. Nas-alukal 'ishmata fiihi minasy syaithaani wa auliyaa-ihi wajunuudihii wal 'auni 'alaa hadzihin nafsil ammaarati bissuu-i wal ishtighaali bimaa yuqarribunii ilaika zulfaa yaa dzal jalaali wal ikraam, yaa arhamar raahimiin. Washallallaahu 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'aala aalihi wa shahbihii wasallam.
Artinya: “Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, serta keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan, hanya kepada anugerah-Mu yang agung dan kedermawanan-Mu yang menjadi tempat bergantung. Dan, inilah tahun baru yang benar‑benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, pembantu‑pembantunya, dan bala tentaranya. Dan, kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan, dan agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara mereka yang mengasihi. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW serta keluarga dan sahabatnya.”
Doa di atas dibaca sebanyak 3 kali saat memasuki tahun baru Hijriah.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَسِرِينَ.
Arab Latin: Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa illam tagfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin.
Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang‑orang yang rugi.” (QS Al‑A'raf: 23)
“Sungguh dia telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang Agung, yang apabila diminta dengan menyebut-Nya,pasti akan diberi dan apabila berdoa dengan menyebut-Nya pasti akan dikabulkan.”
Berikut bacaan doanya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَ لَكَ بِأَنَّكَ أَنتَ اللَّهُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ.
Arab Latin: Allaahumma innii as-aluka bi-annaka antallaahul ahadus shamadu, alladzii lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakul lahu kufuwan ahad.
Artinya: “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, bahwasanya Engkau adalah Allah Yang Maha Esa, Yang Bergantung pada-Nya segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.”
Berikut bacaannya:
اللهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.
Arab Latin: Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illa anta khalaqtanii wa anaa 'abduka wa anaa 'alaa 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. A-'uudzu bika min syarri maa shana'tu abuu-u laka bini'matika 'alayya wa abuu-u laka bi-dzanbii, faghfirlii fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta.
Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah Menciptakanku dan aku adalah hamba‑Mu. Aku menetapi perjanjian‑Mu dan janji‑Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada‑Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada‑Mu dan aku mengakui nikmat‑Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab, tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain‑Mu.”
Itulah mitos di malam 1 Suro yang banyak diyakini masyarakat. Semoga menambah wawasan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BMKG Prediksi Awal Kering 2026: 39,7% Wilayah Terpengaruh
Diskresi Partai: Keseimbangan Kekuatan dan Demokrasi Internal
Nenek Jumaria 70, Ikon Makkah 2026, Berhasil Haji
Buaya 2m di Kendari, Evakuasi ke Mako
Menteri Sosial Tegaskan Tanpa Korupsi di Sekolah Rakyat
Gubernur Sulawesi Tengah Raih CSR Rp 355 Miliar untuk Jalan
Berita Terbaru
Mitos Malam 1 Suro: Tradisi Jawa dan Pandangan Islam
Tri Hariadi Kembali Cita‑Cita Sekda Tulungagung Pemecatan
Roberto Carlos Siap Saksikan Messi di Piala Dunia 2026
XLSmart Luncurkan AI ESTA Eco & Vision di Bravo 500 Summit
Mi Instan: Beban Sodium dan Risiko Metabolik pada Konsumen
Bupati Empat Lawang Tegaskan Anti KKN, Panggil Warga Awasi
Temuan Kepingan Emas di Candi Losari, Fokus Eksplorasi Baru
Piala Dunia 2026 Meksiko: Brazil Siap Hadapi Grup C
