Warung Angkringan Jadi Pusat Pembangunan Pendidikan Desa Ngerangan

Bayu K. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 50 dibaca
Bisik.id
Warung Angkringan Jadi Pusat Pembangunan Pendidikan Desa Ngerangan

Gambar atau konten salah?

Warung angkringan atau hik tetap menjadi tulang punggung ekonomi keluarga di Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Klaten. Bisnis kuliner tradisional ini tidak pernah mati dan tidak pernah sepi pelanggan. Sekitar 70–80 persen pria di desa ini bekerja di angkringan, baik di kota besar maupun di luar pulau Jawa.

Di antara para pengusaha angkringan, Mbah Kamto (73) dari Dusun Sendang menonjol. Ia memulai usaha pada usia 30-an tahun, ketika ia berangkat ke Yogyakarta mencari peluang. “Karena untuk tani saja tidak cukup, kondisinya seperti di sini (pegunungan sawah tadah hujan). Saya buka di timur perempatan Demangan, Yogyakarta,” ujarnya.

Mbah Kamto mengakui bahwa ia menjual mulai tahun 1986 dan baru pensiun pada 2018. Ia mengatakan, “Saya jualan mulai tahun 1986 baru pensiun tahun 2018 kemarin. Ya bisa menyekolahkan anak (4 orang) lulus sarjana semua,” sambil tersenyum. Ia menegaskan bahwa penjualan angkringan menjadi sumber utama biaya pendidikan anaknya. “Ya tidak nabung tapi pas butuh nyatanya bisa bayaran. Ya nyatanya cukup, teman‑teman seangkatan saja juga bisa menyekolahkan, anaknya juga pada sarjana semua,” tambahnya.

Keputusan pensiun Mbah Kamto datang setelah ia mengalami masalah penglihatan. Ia pernah menjalani operasi katarak, namun tidak sembuh. “Operasi mata tapi tidak sembuh akhirnya saya jual ke orang lain. Sekarang pensiun di rumah,” ungkapnya. Meskipun pensiun, ia tetap menjadi contoh bagi generasi muda tentang bagaimana usaha kecil dapat mendukung pendidikan.

Ketua Pokdarwis Sumunar Desa Ngerangan, Suwarna, menegaskan bahwa tradisi angkringan di desa ini sudah berlangsung sejak tahun 1930. Ia menambahkan, “Jadi 70 persen laki‑laki warga Desa Ngerangan itu penjual angkringan dan terdata semua di desa. Dari seluruh kota pulau Jawa ada, bahkan ada yang di luar pulau Jawa juga ada.”

Suwarna melanjutkan, “Angkringan disini itu ada yang senior, sejak bujang jualan angkringan, punya anak ikut jualan angkringan dan cucunya juga jualan angkringan ada. Ada yang bisa menyekolahkan anak 4 atau 2,3 jadi sarjana semua sudah biasa.” Ia juga mencontohkan warga yang berhasil menjual gula dalam semalam. “Ada juga warga yang sukses di Purwodadi dalam semalam bisa menghabiskan gula 12 kilogram.”

Dalam contoh tersebut, tiga orang penjual angkringan berhasil mencapai omzet Rp 3–4 juta per malam. Suwarna menambahkan, “Ada juga yang pada jadi juragan.” Ia menekankan bahwa banyak perangkat desa berasal dari kalangan penjual angkringan, karena hampir semua warga pernah menjalankan usaha ini.

Foto yang diambil pada 17 Maret 2026 menampilkan monumen cikal bakal angkringan di Desa Ngerangan, menegaskan betapa pentingnya warung ini bagi identitas dan ekonomi desa. Warung angkringan tidak hanya menyediakan makanan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan dan peluang ekonomi bagi keluarga di daerah pedesaan.

Perjalanan Mbah Kamto dan Suwarna menunjukkan bahwa usaha kecil, bila dikelola dengan tekun, dapat menghasilkan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Mereka menjadi contoh nyata bagaimana tradisi kuliner dapat menjadi jembatan menuju pendidikan dan kemajuan generasi berikutnya.

Warung angkringanEkonomi keluargaPendidikan anakMbah KamtoDesa NgeranganKuliner tradisionalPensiunPenglihatan

Komentar

Memuat komentar...