Wisatawan AS Mulai Tinggalkan Musim Panas Eropa
Gambar atau konten salah?
Washington – Kebiasaan warga Amerika Serikat untuk berlibur ke Eropa perlahan berubah. Dulu, musim panas adalah puncak favorit. Sekarang, semakin banyak yang memilih datang di shoulder season—masa transisi antara ramai dan sepi.
Banyak hal yang mendorong pergeseran ini. Suhu musim panas yang makin ekstrem. Kepadatan turis yang luar biasa. Harga tiket pesawat dan hotel yang melambung tinggi. Semua itu membuat orang berpikir ulang.
Maskapai dan pelaku industri pariwisata pun merespons. Mereka memperpanjang musim perjalanan untuk menampung permintaan yang terus naik. Bukan lagi sekadar musim panas, tapi hampir sepanjang tahun.
Beberapa maskapai besar AS mulai mengoperasikan rute ke Eropa lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya. Langkah ini diambil di tengah tekanan biaya operasional yang berat, terutama karena harga bahan bakar pesawat melonjak. Maskapai berharap bisa menjaga pendapatan dari wisatawan dengan daya beli tinggi.
Presiden Delta Air Lines, Peter Carter, mengatakan pola perjalanan internasional sekarang tidak lagi terbagi rapi. "Masih banyak destinasi di Eropa yang bisa dinikmati sepanjang tahun. Karena itu kami melihat permintaan perjalanan ke Eropa tetap kuat meski di luar musim panas," katanya.
Hal serupa disampaikan Senior Vice President Network Planning United Airlines, Patrick Quayle. Menurutnya, batas antara musim puncak dan shoulder season semakin kabur. "Periode shoulder season kini semakin panjang dan mulai menyatu dengan musim ramai," ujar Quayle.
Fenomena ini mengubah strategi operasional maskapai. Delta, misalnya, mulai menjadwalkan lebih banyak perawatan pesawat pada musim panas. Tujuannya agar armada siap melayani penerbangan pada musim gugur yang permintaannya juga tinggi.
Harga tiket kelas bisnis untuk beberapa rute bisa mencapai sekitar US$10.000 untuk perjalanan pulang-pergi. Meski masih lebih mahal dibanding tahun lalu, tren kenaikan mulai melambat. Berdasarkan data Kayak, tiket pulang-pergi AS-Athena pada 22 Juni dibanderol sekitar US$988. Lebih tinggi dari tahun lalu yang US$810, tapi lebih rendah dari dua bulan sebelumnya yang US$1.350.
Gelombang Panas Jadi Salah Satu Pemicu
Cuaca ekstrem juga ikut mengubah pola perjalanan. Beberapa tahun terakhir, Eropa dilanda gelombang panas. Pada akhir Juni, sejumlah kota mencatat suhu tertinggi dalam sejarah. Langkah darurat pun dilakukan, seperti penyediaan stasiun pendingin di Warsawa hingga Roma.
Di sisi lain, kota wisata seperti Barcelona dan Venesia menghadapi keluhan warga akibat lonjakan jumlah turis selama musim panas. Suasana jadi tidak nyaman, baik bagi penduduk lokal maupun pengunjung.
Fleksibilitas pola kerja juga memengaruhi keputusan berlibur. Banyak pekerja muda kini bisa bepergian di luar musim liburan sekolah berkat kebijakan kerja yang lebih longgar. Sementara itu, kelompok Baby Boomers yang sudah pensiun punya lebih banyak waktu untuk bepergian kapan saja.
Sisilia Jadi Andalan Baru di Luar Musim Panas
Sisilia selama ini identik dengan destinasi musim panas. Tapi maskapai melihat potensi kunjungan pada musim gugur hingga awal musim dingin. Saat itu harga hotel lebih terjangkau dan objek wisata tidak terlalu padat.
Menurut Quayle, keputusan ini bukan eksperimen berisiko. "Saya justru melihatnya sebagai langkah yang cukup aman," ujarnya. Meski beberapa hotel pesisir tutup selama musim dingin, tren kunjungan wisatawan Amerika tetap meningkat pada Maret, April, Oktober, hingga November.
General Manager Four Seasons San Domenico Palace di Taormina, Sisilia, Imelda Shllaku, mengatakan ada peningkatan pemesanan dari wisatawan Amerika pada periode tersebut dalam empat tahun terakhir. Artinya, pola ini bukan sekadar kebetulan.
Industri Yakin Tren Akan Terus Berlanjut
Pengamat industri penerbangan sekaligus pendiri Cranky Flier, Brett Snyder, menilai maskapai memang perlu memaksimalkan penggunaan pesawat berbadan lebar sepanjang tahun. Investasi armada itu sangat besar. "Jika sebelumnya pesawat-pesawat itu hanya penuh selama musim panas, kini maskapai memiliki peluang memperpanjang masa operasinya hingga shoulder season," katanya.
Presiden sekaligus Chief Financial Officer Alaska Airlines, Shane Tackett, punya pandangan serupa. Menurutnya, wisatawan kini jauh lebih fleksibel dalam menentukan waktu bepergian. Bahkan, sebagian orang tua mulai bersedia mengajak anak berlibur di luar jadwal libur sekolah. Mereka menganggap pengalaman perjalanan bisa punya nilai pendidikan.
Sementara itu, American Airlines melihat Oktober menjadi salah satu bulan dengan permintaan tertinggi untuk penerbangan ke Eropa. Meski demikian, pihak maskapai menegaskan Januari dan Februari tetap menjadi periode dengan permintaan terendah. Tidak semua bulan sama.
Perubahan pola perjalanan ini menunjukkan bahwa musim liburan ke Eropa semakin panjang. Bagi wisatawan, berkunjung pada shoulder season menawarkan sejumlah keuntungan. Harga lebih bersahabat. Kepadatan pengunjung lebih rendah. Cuaca juga lebih nyaman dibandingkan puncak musim panas. Semua faktor itu membuat shoulder season semakin diminati.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Danau Jakabaring: Rekreasi Rp2.000 di Palembang
Kampung Peneleh: Surga Sejarah di Tengah Surabaya
Singapura Dorong Tambah Rute Penerbangan Langsung ke Indonesia
Wisata Pesisir Serang Aman, Hoaks Erupsi Diluruskan
Pulau Untung Jawa, Liburan Pantai Dekat Jakarta
Liburan Sekolah? Coba Wisata ke Kota Tua Jakarta
Berita Terbaru
Wisatawan AS Mulai Tinggalkan Musim Panas Eropa
Gilberto Mora Lulus SMA Usai Tampil di Piala Dunia
Stadion Wibawa Mukti Kembali Dilirik Klub Liga 1
Antartika Simpan Tengkorak Wanita dari Abad 19
Pemprov Sumsel Bentuk Satgas Berantas Mafia BBM Subsidi
Trump Balas Iran, Serang Bandar Abbas dan Chabahar
Doa Rosario Kamis: Peristiwa Terang Lengkap
Gempa M5,0 Guncang Polman, Terasa hingga Makassar
BMKG: Sebagian Besar Jawa Tengah Berawan pada Kamis