Gambar atau konten salah?
Sudah lebih dari satu dekade, mukbang – istilah yang berasal dari Korea Selatan – tetap menjadi tren di media sosial. Pada dasarnya, kreator video menampilkan diri mereka makan dalam porsi besar sambil berbincang dengan penonton.
Awalnya, mukbang muncul sebagai siaran langsung (live streaming) di mana penonton dapat menyaksikan proses makan secara real‑time. Seiring waktu, format ini berubah menjadi konten yang lebih terstruktur, menampilkan makanan dalam jumlah yang sangat banyak hanya untuk menarik perhatian.
Popularitasnya membuat banyak kreator terdorong membuat video dengan porsi yang semakin besar. Akibatnya, mereka sering makan meski tidak merasa lapar. Kondisi ini menimbulkan berbagai keluhan fisik, seperti perut kembung, kelelahan, dan pola makan yang tidak teratur.
Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan berkalori tinggi secara berulang dapat memberi tekanan pada tubuh. Dampaknya meliputi gangguan metabolisme, rasa lelah berkepanjangan, serta masalah pencernaan seperti nyeri ulu hati dan produksi gas berlebih.
Pola makan berlebihan juga mengganggu kemampuan tubuh mengenali sinyal lapar dan kenyang. Dalam jangka panjang, kreator dapat kesulitan menentukan batas konsumsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan tubuhnya.
Efeknya tidak hanya terasa secara fisik. Tekanan psikologis menjadi tantangan tersendiri. Banyak kreator bergantung pada respons audiens untuk mempertahankan popularitas. Ketika respons menurun, beberapa di antaranya terdorong membuat konten yang lebih ekstrem demi menarik perhatian.
Akibatnya, aktivitas makan yang semula kebutuhan sehari‑hari berubah menjadi bagian dari pekerjaan. Kondisi ini dapat memicu fluktuasi berat badan, kelelahan, dan kecemasan terkait performa di depan kamera.
Contoh nyata datang dari kreator mukbang bernama Madhuri Lahiri, yang dikenal dengan nama Maddy Eats. Ia mengaku harus menjalani program penurunan berat badan, termasuk menggunakan suntikan Mounjaro untuk membantu mengelola berat badannya.
Pengalaman pribadi Madhuri menunjukkan bahwa risiko kesehatan tidak hanya bersifat fisik. Program penurunan berat badan dan penggunaan obat menandakan betapa seriusnya dampak pola makan ekstrem bagi kreator yang terus menerus melakukan mukbang.
Sejak 10 Juni 2026, laporan ini menyoroti bahwa tren mukbang masih berlangsung, namun risiko kesehatan yang mengintai semakin jelas. Kreator dan penonton harus sadar bahwa menonton atau melakukan mukbang secara rutin dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang bagi tubuh dan pikiran.
Dengan pemahaman ini, para kreator dapat menyesuaikan konten mereka, menjaga pola makan yang sehat, dan mengurangi tekanan psikologis. Penonton juga disarankan untuk menonton mukbang dengan bijak, mengingat dampak kesehatan yang mungkin tidak terlihat pada layar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
