4.212 Relawan Hapus 22.076 kg Plastik di 36 Kabupaten

Dwi H. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 87 dibaca
Bisik.id
4.212 Relawan Hapus 22.076 kg Plastik di 36 Kabupaten

Gambar atau konten salah?

Run for Rivers adalah aksi penyelamatan sungai yang digagas oleh Sungai Watch. Dalam kampanye ini, para pelari menempuh rute yang melintasi lima provinsi dan tiga puluh enam kabupaten/kota di Bali dan Jawa. Tujuannya tidak hanya mengumpulkan sampah di sungai, tetapi juga memacu ekonomi sirkular.

Selama 58 hari, aksi ini berhasil mengangkat 22.076 kg plastik dari aliran sungai. Sementara itu, penggalangan dana publik di runforrivers.sungaiwatch.com telah melewati US$ 200.000 dari target tim sebesar US$ 1 juta. Setiap dolar yang disumbangkan akan langsung membiayai pengangkatan satu kilogram plastik.

Program ini akan tetap terbuka hingga akhir Juni 2026. Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk ekspansi Sungai Watch di seluruh Pulau Jawa. Rencana tersebut mencakup pemasangan jaring penghalang sungai baru, fasilitas pemilahan sampah, serta penciptaan lapangan kerja hijau di komunitas yang telah dipetakan selama lari berlangsung.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2020‑2024, Sandiaga Uno, menyambut baik gerakan ini. “Ini adalah gerakan green economy karena sungai yang bersih itu modal utama untuk memajukan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Minggu, 31 Mei 2026. Ia menambahkan, “Gerakan ini juga membawa agenda circular economy karena sampah yang diselamatkan Sungai Watch diolah lagi menjadi barang bernilai ekonomi tinggi. Dari limbah jadi berkah!

Sungai Watch memiliki fokus utama: pemasangan penghalang sampah (Trash Barriers) sederhana di berbagai aliran sungai di Indonesia. Selain itu, mereka melakukan pembersihan rutin sungai dan pemilahan sampah yang terkumpul. Sampah plastik yang didaur ulang kemudian diolah menjadi kursi, sehingga gerakan ekonomi hijau membawa nilai ekonomi berkelanjutan.

Dalam ekspedisi Run for Rivers, Sungai Watch mengerahkan 4.212 relawan. Sekitar 60% dari mereka adalah pelajar. Tim juga melakukan edukasi melalui 21 acara dengan 4.159 peserta di 13 sekolah dan komunitas.

Aksi lari ini telah membantu kami memetakan realitas sampah dan sungai di seluruh Jawa dengan cara yang tidak akan pernah bisa dilakukan oleh citra satelit. Kami sekarang tahu persis ke mana Sungai Watch harus melangkah selanjutnya,” ungkap Kelly Bencheghib.

Di setiap provinsi yang dilalui, Gary, Kelly, dan Sam duduk bersama para pemimpin daerah. Mereka menilai infrastruktur sampah setempat dan mendiskusikan bagaimana Sungai Watch dapat melakukan ekspansi ke daerah tersebut. Beberapa tokoh yang ikut mendukung gerakan ini meliputi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, Bupati Banyuwangi Ipuk Azwar Anas, dan Bupati Batang M. Faiz Kurniawan.

Di Solo, Jawa Tengah, Gary, Kelly, dan Sam bertemu dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Dalam pertemuan tersebut, Jokowi memuji karya kursi yang dibuat Sungai Watch dari daur ulang sampah plastik. Pendiri Sungai Watch dan Wapres Gibran kemudian membahas penguatan kolaborasi dalam penanganan sampah sungai dan pengurangan pencemaran plastik melalui pelibatan pemerintah, komunitas, dan masyarakat.

Wapres menyambut baik dan sangat mendukung berbagai aksi Sungai Watch dalam menjaga kebersihan sungai sekaligus membangun kesadaran masyarakat terhadap persoalan sampah, khususnya melalui pelibatan generasi muda di berbagai wilayah di Tanah Air, demikian keterangan yang disampaikan Setwapres RI.

Selama ekspedisi, tim Sungai Watch berlari di sepanjang empat dari 20 sungai paling tercemar di dunia: Brantas, Solo, Serayu, dan Progo. Sungai-sungai di Indonesia diperkirakan melepaskan sekitar 200.000 ton plastik ke lautan setiap tahunnya, menyumbang sekitar 14,2% dari total emisi plastik bawaan sungai secara global.

Momentum seputar solusi sampah belum pernah terasa senyata saat ini. Kami melihatnya secara langsung di setiap kota dan desa yang kami lewati. Masyarakat siap bertindak, para pemimpin siap berkolaborasi, dan komunitas menginginkan sungai yang lebih bersih. Itu memberi kami banyak harapan,” papar Sam Bencheghib.

Dengan kombinasi lari, pengumpulan sampah, dan edukasi, Run for Rivers menampilkan contoh nyata bagaimana aksi sederhana dapat memicu perubahan skala besar. Gerakan ini menegaskan bahwa kebersihan sungai tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga tentang menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.

Run for RiversSungai Watchekonomi sirkularsampah plastikkebersihan sungaikursi daur ulangedukasi

Komentar

Memuat komentar...