47 Kasus HIV Baru di Batu, LSL Sumbang 4
Gambar atau konten salah?
Dinas Kesehatan Kota Batu melaporkan adanya 47 kasus baru Orang Dengan HIV (ODHIV) yang tercatat sejak Januari hingga Juli 2026. Data ini menunjukkan bahwa kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL) ikut berkontribusi terhadap peningkatan angka tersebut.
Berdasarkan rincian dari Dinkes Kota Batu, kelompok LSL secara langsung menyumbang 4 kasus baru. Angka ini belum termasuk irisan dengan kategori lain. Misalnya, ada 1 kasus LSL yang tercatat dalam kelompok populasi umum. Sementara itu, kelompok populasi umum sendiri mendominasi dengan 26 kasus.
Kasus baru juga ditemukan pada pasien penyakit TB sebanyak 7 kasus. Lalu, pasangan berisiko tinggi (risti) tercatat 2 kasus. Pelanggan penjaja seks juga 2 kasus. Wanita penjaja seks (WPS) ditemukan 1 kasus. Ibu hamil dan calon pengantin masing-masing 1 kasus.
Yoni Hadi Purnomo, Pengelola Program TB dan HIV Dinkes Kota Batu, menjelaskan bahwa pelacakan terhadap kelompok kunci dan kelompok berisiko menghadapi kesulitan di lapangan. Kesulitan ini muncul karena banyak orang enggan mengakui perilaku seksual mereka secara terbuka. Ada kendala psikologis dan sosial yang menghalangi.
Akibatnya, banyak temuan kasus akhirnya dimasukkan ke kategori populasi umum. Sebab, status populasi kunci pasien belum bisa tergali lebih dalam. Orang tidak mudah mengakui perilakunya dengan jujur.
Di sisi lain, terjadi pergeseran pola penyebaran virus HIV di Kota Batu. Kelompok LGBT dan penjaja seks kini bergerak secara dinamis. Mereka tersebar di berbagai ruang publik, tidak lagi terpusat di satu lokasi. Mereka juga memanfaatkan aplikasi percakapan dan fenomena prostitusi open BO.
"Data kami memang paling banyak masuk dalam populasi umum, karena memang tren saat ini, seperti penjaja seks tidak lagi terlokalisir. Menggunakan fasilitas seperti open BO dll. Kelompok LGBT juga tersebar. Sehingga saat skrining juga ketemunya banyak dari kegiatan-kegiatan rutin," kata Yoni pada Kamis, 9 Juli 2026.
"Dari situ, populasi umum yang dimaksud ini adalah status populasi kuncinya belum tergali lebih dalam. Jadi (karena statusnya belum bisa dipastikan) kami masukkan dalam kelompok umum. Karena juga tidak mudah untuk orang itu mengakui perilakunya (dengan jujur)," tambahnya.
Secara keseluruhan sejak tahun 2017, total kasus ODHIV yang pernah ditemukan di Kota Batu mencapai 691 kasus. Dari jumlah itu, 329 pasien saat ini aktif menjalani pengobatan. Sebanyak 335 pasien tercatat gagal melakukan tindak lanjut atau follow up. Sementara 27 pasien dilaporkan meninggal dunia.
Jika melihat fasilitas kesehatan yang menemukan 47 kasus baru di tahun 2026, RSUD Karsa Husada Kota Batu menjadi yang tertinggi dengan 22 temuan. Disusul RS Bhayangkara Hasta Brata Kota Batu sebanyak 7 kasus. RS Baptis Batu menemukan 6 kasus. Puskesmas Bumiaji 5 kasus. Puskesmas Batu 3 kasus. Puskesmas Junrejo 2 kasus. Puskesmas Sisir dan RS dr. Etty Asharto masing-masing mencatatkan 1 kasus baru.
Menyikapi situasi ini, Dinkes Kota Batu tidak lagi melakukan skrining massal seremonial dalam skala besar. Fokus utama sekarang beralih pada penguatan edukasi preventif. Sasaran utamanya adalah kelompok remaja dan usia sekolah.
Petugas kesehatan juga mulai proaktif melakukan pendekatan jemput bola. Mereka melakukan skrining di sektor-sektor potensial. Misalnya di kawasan pekerja, perkantoran, perhotelan, hingga tempat wisata. Tempat-tempat ini dinilai memiliki risiko kemunculan kasus ODHIV baru.
Meski begitu, pendekatan penanganan HIV di Kota Batu tetap mengikuti prinsip Voluntary Care and Testing (VCT). Semua pemeriksaan medis dan pengobatan dilakukan atas dasar sukarela dari pasien. Tidak ada paksaan. Kecuali untuk ibu hamil dan calon pengantin. Regulasi mewajibkan mereka menjalani pemeriksaan HIV. Tujuannya untuk memutus rantai penularan sedini mungkin.
"Jadi kembali lagi sifatnya penanganan HIV adalah Voluntary Care and Testing. Periksa dan pengobatannya semua harus atas dasar sukarela. Kecuali pada ibu hamil dan calon pengantin, kami mewajibkan pemeriksaan HIV," tegas Yoni.
Dari data yang ada, terlihat bahwa sebagian besar pasien HIV di Kota Batu justru tidak teridentifikasi sebagai bagian dari kelompok risiko tinggi. Mereka tercatat sebagai populasi umum. Hal ini menunjukkan bahwa stigma dan kesulitan mengakui perilaku seksual masih menjadi hambatan besar dalam penanganan HIV. Selain itu, pergeseran pola penyebaran melalui aplikasi dan prostitusi online membuat upaya deteksi semakin rumit. Dinkes pun mengubah strategi dari skrining massal menjadi edukasi preventif dan skrining jemput bola di berbagai sektor.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
