Banyuwangi Miliki Pusat Penetasan 20.000 Telur Penyu

Hari W. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Banyuwangi Miliki Pusat Penetasan 20.000 Telur Penyu

Gambar atau konten salah?

Banyuwangi tidak hanya terkenal karena keindahan alamnya yang memukau. Kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Jawa ini juga memiliki komitmen serius dalam menjaga kelestarian laut. Di Bumi Blambangan, terdapat satu-satunya pusat penetasan telur penyu buatan di Indonesia, bahkan di dunia, dengan kapasitas raksasa mencapai 20.000 butir telur.

Fasilitas konservasi modern ini digagas dan dikelola oleh Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF). Sejak didirikan pada tahun 2011 di bawah pimpinan Wiyanto Haditanodjo, yayasan nirlaba ini secara konsisten menjadi ujung tombak dalam menyelamatkan reptil laut purba dari ancaman kepunahan.

Pria yang akrab disapa Wiwit ini mengatakan, setiap musim penyu bertelur tiba, BSTF berhasil menyelamatkan puluhan ribu butir telur. Telur-telur itu kemudian ditetaskan dan dilepaskan kembali ke lautan luas.

Keberadaan pusat penetasan ini menjadi sangat penting mengingat posisi geografis Banyuwangi yang unik. Antara bulan Februari hingga Agustus, pesisir Banyuwangi sering menjadi tujuan kawanan penyu untuk bertelur.

"Hebatnya, Banyuwangi menjadi satu-satunya kabupaten di Indonesia yang menjadi habitat pendaratan 4 jenis penyu sekaligus dari total 7 spesies yang ada di dunia. Ada Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea)," ungkap Wiwit, Kamis, 09 Juli 2026.

Membiarkan telur penyu menetas secara alami di pantai kini menghadapi risiko kegagalan yang sangat tinggi. Di alam liar, potensi kematian embrio maupun tukik (anak penyu) dipicu oleh banyaknya predator alami serta aktivitas manusia.

Namun, ada ancaman baru yang jauh lebih mengerikan, yakni Pemanasan Global (Global Warming). Suhu pasir yang semakin panas akibat perubahan iklim memicu fenomena ketidakseimbangan antara penyu jantan dan betina. Suhu tinggi menyebabkan mayoritas telur menetas menjadi penyu berjenis kelamin betina.

"Secara biologis, rantai reproduksi penyu sangat unik. Untuk bisa memproduksi telur yang subur, satu penyu betina membutuhkan pembuahan dari 4 sampai 6 penyu jantan," ujar pendiri BSTF, Wiyanto Haditanodjo.

Jika tren kelahiran didominasi betina akibat suhu bumi yang memanas, maka penyu akan kesulitan melakukan regenerasi di masa depan. Hal ini akan mempercepat kepunahan mereka. Untuk mengatasi masalah kritis tersebut, BSTF mengevakuasi telur-telur dari pantai ke sebuah ruang khusus yang dinamakan Ruang Intan (Incubation Tank/Ruang Penetasan).

Di dalam ruangan terkontrol ini, suhu dan kelembapan diatur sedemikian rupa agar rasio kelahiran antara penyu jantan dan betina tetap seimbang. Telur-telur juga terlindungi dari serangan predator.

"Kami sudah berkali-kali menjalani penelitian ilmiah dari Universitas Airlangga (UNAIR), ruang Intan ini sudah menetaskan ratusan ribu telur dan dari hasil riset menunjukkan probabilitas atau tingkat keberhasilan hidup telur penyu yang ditetaskan mencapai 85%-87%," terang Wiwit.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat keberhasilan penetasan alami di alam liar yang rentan mengalami kegagalan. Melalui sinergi antara dedikasi komunitas, inovasi teknologi, dan validasi ilmiah, Banyuwangi kini tidak hanya menjadi destinasi wisata, melainkan juga episentrum harapan baru bagi kelestarian penyu di dunia.

Banyuwangi memiliki posisi strategis sebagai tempat pendaratan empat dari tujuh spesies penyu yang ada di dunia. Dengan kapasitas penetasan 20.000 telur dan tingkat keberhasilan 85-87%, pusat konservasi ini menjadi model bagi upaya penyelamatan penyu di Indonesia. Ancaman perubahan iklim yang mengubah rasio kelamin penyu menjadi tantangan serius yang dihadapi oleh para konservasionis.

konservasi penyuBanyuwangipusat penetasan telurperubahan iklimrasio kelamin penyuBSTFRuang Intan

Komentar

Memuat komentar...