493 Titik Panas Terdeteksi di Sumsel Selama Awal Juli

Bima J. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
493 Titik Panas Terdeteksi di Sumsel Selama Awal Juli

Gambar atau konten salah?

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan melaporkan temuan sebanyak 493 titik panas atau hotspot selama sepuluh hari pertama bulan Juli 2026. Angka ini tersebar di sejumlah wilayah, dengan empat daerah mencatatkan jumlah tertinggi.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengungkapkan bahwa wilayah dengan hotspot terbanyak adalah Musi Banyuasin (Muba), Muara Enim, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Ogan Komering Ulu (OKU). "Dalam 10 hari pertama pada Juli, hotspot yang terdeteksi di Sumsel sebanyak 493 titik. Secara harian masih terpantau puluhan titik. Hotspot terbanyak terpantau di Muba, Muara Enim, OKI, dan OKU," ujarnya pada Sabtu, 11 Juli 2026.

Rinciannya, di Muba terpantau 89 titik panas. Muara Enim menyusul dengan 71 titik. OKI mencatat 67 titik, dan OKU sebanyak 65 titik. Wilayah lain yang juga menunjukkan angka tinggi adalah Lahat dengan 38 titik, Ogan Ilir 37 titik, PALI 27 titik, OKU Timur 22 titik, dan Banyuasin 20 titik. Sementara itu, dua kota besar, Lubuklinggau dan Palembang, nihil atau tidak terdeteksi hotspot sama sekali selama Juli ini.

Jika dilihat secara akumulasi sepanjang tahun 2026, total hotspot di Sumsel mencapai 2.342 titik. Lonjakan tertinggi terjadi pada Juni dengan 755 titik, disusul Mei sebanyak 708 titik. Dua bulan tersebut mencatatkan jumlah hotspot tertinggi sejak 2015.

Sudirman menjelaskan bahwa peningkatan jumlah hotspot ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang semakin kering. Intensitas hujan di sebagian besar wilayah Sumsel berkurang, sehingga memicu munculnya titik-titik panas. Namun, ia menekankan bahwa hotspot bukan berarti sudah pasti terjadi kebakaran. "Hotspot merupakan indikator awal yang harus segera ditindaklanjuti. Karena itu kami terus melakukan patroli darat dan pemantauan agar setiap potensi kebakaran bisa ditangani sedini mungkin," katanya. Verifikasi di lapangan tetap diperlukan untuk memastikan apakah titik panas tersebut benar-benar berubah menjadi api.

Pihak BPBD mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di tengah kondisi cuaca kering seperti sekarang. Masyarakat juga diminta segera melapor kepada petugas jika menemukan titik api. Tujuannya agar api tidak sempat meluas menjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang lebih besar. "Peran masyarakat sangat penting dalam mencegah karhutla. Kami berharap semua pihak bersama-sama menjaga agar jumlah kebakaran tidak terus meningkat selama musim kemarau," ungkap Sudirman.

Data ini menunjukkan bahwa musim kemarau tahun 2026 telah memicu peningkatan signifikan titik panas di Sumsel, terutama di daerah-daerah yang secara historis rawan kebakaran. Patroli dan respons cepat menjadi kunci utama, mengingat jumlah hotspot pada Juni dan Mei sudah melampaui rekor tahun-tahun sebelumnya.

titik panashotspotBPBD Sumselkebakaran hutankarhutlaMusi Banyuasincuaca kering

Komentar

Memuat komentar...