Agen BRILink Tatang Sutardi: Rumah & Pendidikan Anak Sukses

Sari D. · 5 min baca · 1 bulan lalu · 92 dibaca
Bisik.id
Agen BRILink Tatang Sutardi: Rumah & Pendidikan Anak Sukses

Gambar atau konten salah?

Di Depok, Tatang Sutardi berusia 56 tahun tak pernah membayangkan bahwa memulai Agen BRILink pada 01 Januari 2017 akan mengubah nasib keluarganya. Sekarang, hampir sepuluh tahun berlalu, ia telah menegakkan rumah impian dan menyalurkan ketiga anaknya ke dunia pendidikan tinggi.

Pagi itu, suasana di rumahnya di Jalan Kenanga Baru, Kecamatan Sukmajaya, terasa hangat. Tatang sibuk menjaga dua keponakannya, sambil sesekali menyalurkan hobinya beternak ayam bangkok di pekarangan. Ia dan istri, Yuli, berbagi tugas mengelola Agen BRILink di Jalan Proklamasi No. 34, Abadijaya, tepat di seberang Kantor BRI Unit Proklamasi.

“Pagi ini giliran Ibu yang jaga, sore sampai tengah malam baru saya. Kalau pagi begini, saya biasa santai dulu di rumah jagain keponakan sambil iseng urus ayam,” ujar Tatang saat ditemui baru-baru ini.

Perjalanan Tatang dimulai pada 01 Januari 1998, ketika ia merantau dari Kuningan ke Depok. Pada saat itu, ia masih terlibat usaha warung kopi (warkop) gerobakan bersama teman. Lambat laun ia berhasil mengumpulkan modal dan membuka warung kopi serta kelontong sendiri di Jalan Proklamasi. Saat itu, Kantor BRI Unit Proklamasi belum ada, baru berdiri sekitar 01 Januari 2010, sehingga usahanya semakin ramai.

Berawal dari 01 Januari 2014, Tatang langsung dilirik pihak bank dan ditawari menjadi Agen BRILink. Namun pada saat itu, ia belum tertarik karena warung kelontong dan kopinya masih laris manis. Ia juga menolak karena lokasinya berdekatan, tidak yakin akan memberi keuntungan. Baru tiga tahun kemudian ia berubah pikiran.

“Awalnya ditawari sempat nggak mau. Pikir saya, masa buka di depan kantor BRI banget, apa nggak canggung? Tapi pas akhir 2017 akhirnya dicoba, eh ternyata pas dijalani enak juga,” kenang Tatang sambil tersenyum.

Keputusan membuka Agen BRILink menjadi pilihan tepat. Dalam satu tahun, ia langsung mendapat penghargaan karena mencatat nilai transaksi tertinggi. “Tahun 2018 saya langsung dapat penghargaan Agen Terbaik Pendatang Baru di Kanwil Jakarta 2. Saya lewatin tahap agen pemula langsung ke juragan,” ungkapnya.

Penghargaan demi penghargaan berlanjut hingga 01 Januari 2023. Ia pun kebanjiran hadiah dari BRI, mulai dari emas logam mulia seberat 13 gram, kulkas, kompor, hingga dua unit sepeda motor. Salah satu motor yang didapatnya sebenarnya merupakan kompensasi hadiah umrah yang batal terlaksana akibat pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.

“Harusnya dapat umrah waktu itu, tapi karena pandemi diganti jadi motor. Mungkin belum rezekinya,” ucap Tatang.

Di masa keemasannya, Agen BRILink Tatang menjadi andalan bagi masyarakat. Sekitar 80% pelanggan setianya adalah pedagang di Pasar Musi Depok yang lokasinya tak jauh dari warung kelontongnya. Sisanya datang dari kalangan pensiunan, penjual keliling, kuli bangunan, hingga ibu rumah tangga yang ingin mengirim uang, membayar tagihan, atau tarik tunai.

Ia dapat melayani transaksi dengan nominal mencapai Rp 200 juta hingga Rp 300 juta dalam satu hari. Jika diakumulasi, perputarannya bisa tembus Rp 8 miliar per bulan. Ia tidak pernah menaikkan tarif di atas admin resmi BRI untuk transaksi di bawah Rp 1 juta. Ia juga enggan membulatkan biaya admin pembayaran listrik atau air demi menjaga kepercayaan pelanggannya.

“Kalau kata orang-orang yang transaksi di tempat saya, Agen BRILink saya tuh di Depok mungkin paling murah,” ungkapnya.

Bagi Tatang, rahasia bertahannya usaha ini bukan mencari untung besar, melainkan volume transaksi yang konsisten. Selain itu, faktor lokasi dekat dengan kantor unit BRI menjadi keunggulan. “Saya kan pertimbangannya satu dekat ke unit. Kedua nyetornya kan dekat, tinggal lempar nyeberang aja. Ke CRM (mesin setor tunai) deket, ke teller dekat, jadi nggak perlu ongkos tambahan,” jelasnya.

Dengan modal Rp 20 juta, Tatang kini mampu membangun rumah baru yang nyaman untuk keluarganya. Rumah lamanya sengaja ia serahkan kepada anak yang sudah menikah. “Hasil dari BRILink ini ya alhamdulillah bisa bangun rumah walaupun kecil-kecilan. Anak-anak juga bisa kuliah semua. Dua sudah lulus jadi sarjana,” tutur Tatang.

Anak pertamanya telah menyelesaikan pendidikan hingga jenjang S2 di Universitas Gunadarma dan kini berprofesi jadi guru. Anak keduanya merupakan lulusan Universitas Nasional (Unas) yang kini jadi perawat, dan anak ketiganya kini kuliah di Banten. “Nah, kalau yang bontot sekarang baru mau masuk semester dua. Dia kuliahnya merantau agak jauh di Untirta (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa), Banten,” tambahnya.

Meski telah memetik kesuksesan, Tatang realistis mengakui bahwa lanskap bisnis keagenan sudah jauh berubah. Masa keemasan Agen BRILink telah bergeser sejak penggunaan aplikasi mobile banking meluas. “Jika sebelum tahun 2023 Tatang mampu melayani hingga 10.000 transaksi per bulan, kini jumlah tersebut menyusut hingga di kisaran 3.000 transaksi,” jelasnya. Fenomena ini terjadi karena masyarakat kini semakin melek teknologi.

“Dulu kalau hari Sabtu dan Minggu, pekerja bangunan bisa mengantre sampai 10 orang untuk kirim uang ke kampung halaman masing-masing. Kalau sekarang mereka sudah pintar, dikumpulkan ke satu orang yang punya m-banking, lalu ditransfer dari sana,” ceritanya.

Namun, Tatang tidak kehabisan akal. Kunci utamanya untuk bertahan adalah menguasai seluruh fitur mesin EDC (Electronic Data Capture) agar tidak gagap saat ada nasabah yang membutuhkan layanan non-transaksional. Kini, penopang utama pendapatan agennya beralih ke sektor produktif, salah satunya melayani setoran para petugas PNM Mekaar. Setiap sore menjelang malam, ia bisa melayani 25 hingga 30 transaksi dari para petugas lapangan PNM.

“Petugas PNM itu uang tagihannya harus masuk hari itu juga, tidak boleh mengendap untuk besok. Karena kantor unit bank sudah tutup sore hari, mereka larinya ke kami karena buka sampai jam 12 malam,” kata Tatang.

Menanyakan rencana ekspansi atau membuka cabang baru, Tatang menggelengkan kepala sambil tersenyum bijak. Menurutnya, di tengah persaingan yang semakin ketat fokus terbaiknya adalah mempertahankan apa yang sudah ada. “Bagi saya pribadi, bisa pertahankan agen sekarang dan lihat anak-anak sukses kuliah, itu sudah lebih dari cukup,” pungkas Tatang.

Di sisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperluas jangkauan layanan keuangan melalui jaringan Agen BRILink di seluruh Indonesia. Direktur Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa kehadiran Agen BRILink membuat layanan keuangan bank semakin dekat dan memudahkan aktivitas masyarakat. “Agen BRILink menjadi kanal utama BRI dalam menjangkau kebutuhan transaksi masyarakat secara luas,” ungkapnya.

Ia menambahkan, “Agen BRILink menjadi salah satu andalan BRI dalam menjangkau kebutuhan transaksi masyarakat di berbagai wilayah. Jaringan ini menghadirkan layanan yang mudah diakses oleh masyarakat dan mempercepat proses transaksi, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan. Peran tersebut menempatkan BRILink Agen sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.”

Menurut data BRI, pada 31 Maret 2026, jumlah Agen BRILink mencapai lebih dari 1,18 juta agen yang tersebar di 66.450 desa atau lebih dari 80% total desa di Indonesia. Jangkauan tersebut memperkuat peran Agen BRILink sebagai layanan keuangan berbasis kemitraan tingkat desa.

Perjalanan Tatang menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu datang dari keuntungan besar, melainkan dari konsistensi, pelayanan yang terjangkau, dan pemanfaatan lokasi strategis. Dengan tetap fokus pada pelanggan dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, ia berhasil menjaga relevansi Agen BRILink di Depok, sekaligus menyalurkan pendidikan bagi ketiga anaknya.

Agen BRILinkTatang SutardiDepokPendidikan anakKeuntungan BRIKeuangan digitalEkonomi kerakyatan

Komentar

Memuat komentar...