AI Gambar Gagal Paham Titik Hilang, Pakar Forensik Buka
Gambar atau konten salah?
AI image generator terus berkembang, menghilangkan cacat visual lama seperti jari tangan keriting, anatomi tubuh aneh, dan teks yang berubah menjadi huruf asing. Namun, ketika gambar AI semakin realistis, para pakar forensik gambar tidak tinggal diam. Mereka meneliti satu kelemahan dasar yang belum bisa dipahami oleh AI: hukum fisika yang mengatur cahaya dan perspektif.
Seorang profesor di UC Berkeley, Hany Farid, meneliti hal ini. Ia menegaskan bahwa model pembuat gambar AI belum belajar pelajaran paling dasar dari seni: titik hilang. Meski gambar AI tampak hidup dan sinematik, perhitungannya sering kali tidak konsisten secara matematis.
Di dunia nyata, garis-garis sejajar—seperti motif ubin lantai, papan kayu, atau koridor—selalu menyusut dan bertemu di satu titik hilang. Para pakar dapat menilai keaslian foto dengan menarik garis lurus pada objek dan memeriksa apakah mereka bertemu di satu titik. Pada gambar AI, garis-garis tersebut sering kali melenceng dan tidak menuju ke satu titik hilang.
Hukum fisika juga diuji lewat dua elemen visual yang sering dimanipulasi: pantulan dan bayangan. Untuk pantulan, garis yang menghubungkan titik pada objek asli dengan titik pada pantulan seharusnya sejajar dan bertemu di titik hilang. Pada gambar AI, arah pantulannya sering miring. Begitu pula bayangan matahari: sinar matahari, karena jarak jauh, berjalan sejajar. Garis yang ditarik dari ujung objek ke ujung bayangannya harus berpotongan di satu titik hilang. Bayangan buatan AI seringkali bertabrakan dan arah cahayanya tidak logis.
Alat pendeteksi AI otomatis masih belum dapat diandalkan sepenuhnya. Meski kadang lebih akurat daripada mata manusia, alat tersebut sering kebingungan ketika diberi gambar dengan gaya visual di luar data pelatihannya. Para peneliti belum tahu kapan model generatif akan mengatasi kesalahan fisika ini.
Peneliti juga memperingatkan pengguna agar tidak sepenuhnya bergantung pada software deteksi AI. Kadang-kadang, alat tersebut salah menafsirkan gambar yang tidak pernah dilatih sebelumnya. Oleh karena itu, pemeriksaan manual tetap penting.
Ironisnya, studi terpisah menegaskan bahwa memverifikasi foto asli kini terasa lebih sulit daripada menangkap foto palsu. Semakin lama seseorang meneliti gambar dan gagal menemukan kesalahan fisika—seperti bayangan atau titik hilang—semakin besar kemungkinan gambar itu asli. Ketiadaan eror menjadi satu-satunya bukti kuat keaslian di era deepfake.
Sabtu, 9 Mei 2026
Dalam era deepfake, memahami hukum fisika tetap penting untuk mengidentifikasi gambar palsu. Teknologi AI terus maju, namun ketidaktahuan tentang cahaya dan perspektif memberi peluang bagi pakar forensik untuk menilai keaslian gambar dengan cara yang sederhana namun efektif.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ahli Bantah Gempa California dan Jepang Saling Terkait
Registrasi SIM Card Wajib Pindai Wajah Mulai Juli 2026
Operator Seluler Tunggu Aturan Turunan PP Tunas
Telkomsat Ubah Data Kapal Jadi Intelijen Bisnis
Pemerintah Uji Coba AI untuk Salurkan Bansos di Banyuwangi
Kakao Map Bocorkan Data Rahasia Korea Utara
Berita Terbaru
Yamaha Fazzio Hybrid: Dari Kanvas Kreatif hingga Motor Fungsional
Rektor ITB Usulkan Mahasiswa Tahu Nilai UTBK Dulu Sebelum Daftar Kampus
Toyota Fortuner Pelat Merah Dilelang, Pajak Cuma Rp 1,8 Juta
Tecno Rilis EllaClaw, Agen AI yang Bisa Otomatiskan Tugas Ponsel
Ahli Bantah Gempa California dan Jepang Saling Terkait
Jepang Kembali Gagalkan Tim Eropa, Lolos ke 32 Besar Piala Dunia