Anak Gajah Sakda Pulih, Kembali ke Kelompok Liar
Gambar atau konten salah?
Seekor anak gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) bernama Sakda perlahan pulih. Gajah jantan berusia 15 bulan itu sebelumnya terjerat sling baja di kaki kiri depannya selama dua pekan di kawasan Bentang Alam Bukit Tigapuluh, Tebo, Jambi.
Sekarang, Sakda sudah bergabung kembali dengan kelompoknya. Ia bahkan mulai menjelajah jauh bersama kawanan. Tim gabungan dari BKSDA Jambi yang menerima laporan tentang jeratan itu langsung turun tangan. Mereka melakukan penyelamatan dan pengobatan.
Kepala BKSDA Jambi, Himawan, mengatakan bahwa sejak pengobatan diberikan saat tim melepas jerat, pihaknya terus memantau anak gajah dari kelompok Wardani itu. "Masih dipantau, sudah bersama kelompok besar (gabungan)," kata Himawan pada Rabu, 08 Juli 2026.
Himawan menjelaskan bahwa kondisi Sakda berangsur membaik. Gajah kecil itu sudah bisa berjalan sendiri bersama kelompoknya. Sebelumnya, ia sempat berjalan pincang akibat jeratan. "Berangsur pulih, sudah mulai bisa menapak dan jalan sendiri," ujarnya.
BKSDA Jambi memantau pergerakan gajah-gajah ini menggunakan GPS Collar yang dipasang pada ketua kelompok. Hingga saat ini, ada enam kelompok gajah yang telah dipasangi alat pelacak tersebut. Semuanya tersebar di bentang alam Bukit Tigapuluh. "Kelompok sudah berjalan cukup jauh dari seperti semula," ungkap Himawan.
BKSDA Jambi mencatat ada sekitar 120 gajah liar dari enam kelompok di bentang alam Bukit Tigapuluh. Dari jumlah itu, 15 ekor di antaranya masih anakan. Usia mereka berkisar antara 5 bulan hingga 2 tahun.
Proses penyelamatan Sakda bermula ketika petugas memantau adanya perlambatan pergerakan kelompok gajah melalui GPS Collar pada Minggu, 14 Juni 2026. Setelah dilakukan survei lapangan, mereka menemukan anak gajah jantan berusia 15 bulan yang terluka. Gajah itu berasal dari kelompok bernama Wardani. "Kita monitor lewat GPS Collar dan satelit serta survei lapangan, diketahui ada anak gajah berjalan pincang," kata Himawan pada Senin, 29 Juni 2026.
Setelah mengetahui ada anak gajah terluka, petugas BKSDA membentuk tim penyelamat. Mereka memberikan pengobatan pada anak dari kelompok mamalia besar itu. Petugas kemudian menjelajahi lokasi untuk menemukan anak gajah yang terluka tersebut.
Himawan menyebut bahwa Sakda mengalami luka jerat di kaki depan sebelah kirinya. Sling baja masih menempel di kaki itu saat petugas berupaya mengobatinya. Tim medis dan personel BKSDA melakukan penanganan. Mereka melepas jeratan dan memastikan kondisi kesehatan satwa tersebut. "Lukanya perkiraan sudah 2 minggu. Beruntung tulangnya belum luka remuk, baru luka terbuka. Kita upayakan pengobatan dan memberi bius," ujarnya.
Anak gajah sumatera yang selamat dari jeratan ini menjadi salah satu dari puluhan gajah liar yang hidup di bentang alam Bukit Tigapuluh. Populasi gajah di sana tergolong kecil, dan setiap individu yang selamat dari ancaman seperti jeratan sangat berarti bagi kelangsungan spesies ini. Pemantauan menggunakan GPS Collar menjadi alat penting bagi BKSDA Jambi untuk melacak pergerakan dan kondisi gajah-gajah liar di kawasan tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tim Jhon Kei Juara E-Sport Kapolda Cup, Siap ke Jakarta
88 Hotspot di Sumsel, Tertinggi Sebulan
Tokoh Mesuji Serahkan 6 Senpi Rakitan ke Polisi
Warga Muratara Perbaiki Jalan, Pemerintah Klaim Sudah Bergerak
Empat Ikon Palembang Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya Nasional
Lampung Luncurkan SMA Jarak Jauh dan SMA Terbuka
Berita Terbaru
Anak Gajah Sakda Pulih, Kembali ke Kelompok Liar
Gagasan Rektor UMI Jadi Mukadimah RUU Listrik
Parkir Liar di Tunjungan Ditutup, Wali Kota Eri Murka
Xhaka Bantah Rumor ke Chelsea, Tegaskan Setia di Sunderland
Utang Pemerintah ke Taspen Capai Rp25,8 Triliun
Guardiola: Cedera Hambat Yamal di Piala Dunia
Harga RAM Ancam Hilangkan Ponsel Murah dari Pasaran
OJK Usul Entitas Baru di PFII, Bukan dari Perusahaan Nasional
