Anemia Ancam SDM, Bukan Cuma Masalah Kesehatan

Mira T. · 4 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Anemia Ancam SDM, Bukan Cuma Masalah Kesehatan

Gambar atau konten salah?

Anemia defisiensi besi selama ini lebih sering dianggap sekadar masalah kesehatan biasa. Tapi dampaknya jauh lebih luas dari sekadar tubuh gampang lelah atau hemoglobin yang menurun. Kondisi ini ternyata bisa memengaruhi prestasi belajar, kualitas sumber daya manusia, bahkan pertumbuhan ekonomi sebuah negara.

Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, PhD, dari Medical & Scientific Affairs Danone Indonesia, mengatakan anemia defisiensi besi sudah menjadi tantangan kesehatan di Indonesia sejak sebelum merdeka. Lebih dari 80 tahun berlalu, masalah ini masih ditemukan pada sekitar satu dari empat anak balita dan satu dari empat ibu hamil serta ibu menyusui.

"Yang ditakutkan dari anemia defisiensi besi pada anak bukan hanya masalah klinis atau masalah kesehatan," kata dr Ray dalam talkshow di Pabrik Danone Spesialized Nutrition Prambanan, Jawa Tengah, pada Rabu, 08 Juli 2026.

Dampaknya Bisa Terasa Hingga Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja

Dr Ray menjelaskan kekurangan zat besi pada masa awal kehidupan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik. Perkembangan otak anak juga ikut terpengaruh. WHO dan UNICEF sudah menunjukkan bahwa anak dengan anemia defisiensi besi berisiko mengalami penurunan prestasi akademik dibandingkan anak dengan status zat besi yang baik.

Hal ini terlihat dalam penelitian yang dilakukan bersama sejumlah peneliti di Indonesia. Hasilnya, anak sekolah dasar yang mengalami anemia defisiensi besi memiliki working memory score yang lebih rendah. Working memory adalah kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi dalam waktu singkat. Kemampuan ini penting dalam proses belajar, memahami pelajaran, memecahkan masalah, hingga mengambil keputusan.

"Kalau working memory anak terganggu, proses belajarnya juga ikut terganggu. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan memengaruhi kualitas sumber daya manusia dan produktivitas ketika mereka memasuki usia kerja," ujar dr Ray.

Mengapa Anemia Bisa Memengaruhi Ekonomi Negara?

Menurut dr Ray, tingginya angka anemia defisiensi besi bukan hanya persoalan individu. Ini juga persoalan pembangunan bangsa.

"Anemia defisiensi besi adalah juga masalah ekonomi. Kalau suatu negara masih tinggi angka anemia defisiensi besinya, maka ancaman terhadap kemajuan ekonomi menjadi lebih besar," ujarnya.

Semua ini berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia. Ketika banyak anak mengalami gangguan perkembangan akibat kekurangan zat besi, kemampuan belajar, produktivitas, dan kualitas tenaga kerja pada masa depan ikut terdampak. Pada akhirnya, kondisi ini bisa menurunkan kualitas human capital yang menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Tiga Pilar untuk Mengatasi Anemia Defisiensi Besi

Pencegahan anemia defisiensi besi tidak bisa menunggu hingga anak menunjukkan gejala. Risiko kekurangan zat besi sebenarnya sudah bisa dimulai sejak masa kehamilan.

Ibu hamil yang mengalami anemia memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan anak mengalami kekurangan zat besi sejak awal kehidupan, sehingga berisiko mengalami anemia pada masa berikutnya.

Untuk membantu menurunkan angka anemia defisiensi besi di Indonesia, dr Ray menjelaskan para pakar bersama berbagai organisasi kesehatan telah menyusun tiga pilar utama sebagai pendekatan yang bisa diterapkan secara berkelanjutan. Ketiga pilar tersebut meliputi:

  • Peningkatan edukasi
  • Penguatan penelitian dan inovasi
  • Perluasan skrining atau deteksi dini

Pilar pertama adalah membangun awareness atau meningkatkan edukasi masyarakat. Pengetahuan mengenai pentingnya zat besi, pola makan bergizi, pemeriksaan kesehatan selama kehamilan, hingga deteksi dini menjadi fondasi utama untuk mencegah anemia sejak awal.

"Pengetahuan kesehatan yang baik memastikan lebih banyak orang hidup lebih sehat. Karena itu, awareness menjadi pilar pertama untuk memastikan Indonesia dapat mengatasi anemia defisiensi besi," jelas dr Ray.

Pilar kedua adalah memperkuat penelitian dan inovasi. Setelah puluhan tahun anemia masih menjadi masalah kesehatan, diperlukan pendekatan baru yang didukung riset untuk menemukan teknologi, metode edukasi, maupun strategi pencegahan yang lebih efektif. Hasil penelitian tersebut diharapkan bisa menjadi dasar dalam menyusun kebijakan maupun praktik penanganan anemia di Indonesia.

Pilar ketiga adalah memperluas skrining atau deteksi dini. Saat ini cakupan skrining anemia defisiensi besi pada anak di Indonesia masih rendah. Banyak kasus tidak terdeteksi. Karena itu, diperlukan metode skrining yang lebih mudah diakses, tidak invasif, dan bisa dilakukan lebih luas agar anak yang berisiko dapat dikenali sebelum mengalami anemia.

Kontribusi Danone terhadap Tiga Pilar dalam Mengatasi Anemia

Menurut dr Ray, penyelesaian anemia defisiensi besi tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, organisasi profesi, industri, hingga media menjadi kunci agar ketiga pilar tersebut bisa berjalan bersamaan.

Pada pilar pertama, Danone Indonesia bekerja sama dengan Ikatan Bidan Indonesia melalui program edukasi berbasis digital. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu hamil dan keluarga mengenai pentingnya pemenuhan zat besi serta deteksi dini anemia. Melalui program tersebut, edukasi dan skrining berhasil menjangkau lebih dari satu juta ibu dan balita dalam satu tahun.

Di bidang penelitian, Danone Indonesia berkolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi dan peneliti di Indonesia. Hasilnya, lebih dari 40 publikasi ilmiah mengenai nutrisi dan anemia defisiensi besi telah dihasilkan. Sejumlah hasil penelitian tersebut juga menjadi salah satu referensi dalam upaya pencegahan anemia di tingkat sekolah.

Sementara pada pilar skrining, Danone bersama para peneliti mengembangkan Iron Calculator. Alat skrining berbasis digital ini membantu mengidentifikasi risiko anemia defisiensi besi secara non-invasif. Menurut dr Ray, pendekatan ini telah digunakan untuk melakukan lebih dari satu juta skrining dan ditargetkan bisa menjangkau hingga 30 juta skrining secara global pada tahun 2030.

Penerapan ketiga pilar tersebut secara konsisten diharapkan dapat menurunkan angka anemia defisiensi besi sekaligus meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Anemia defisiensi besi bukan sekadar masalah kesehatan individu. Dampaknya merembet ke pendidikan, produktivitas tenaga kerja, hingga ekonomi nasional. Penanganan yang serius dan berkelanjutan menjadi kunci agar Indonesia tidak kehilangan potensi sumber daya manusianya.

anemia defisiensi besidampak pendidikankualitas SDMpertumbuhan ekonomitiga pilar pencegahanskrining digitaledukasi masyarakat

Komentar

Memuat komentar...