Penyerapan Zat Besi Kunci Cegah Anemia, Bukan Sekadar Asupan

Putri N. · 5 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Penyerapan Zat Besi Kunci Cegah Anemia, Bukan Sekadar Asupan

Gambar atau konten salah?

Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah gizi yang cukup serius di banyak negara, termasuk Indonesia. Selama ini, upaya pencegahan seringkali hanya berfokus pada memastikan asupan zat besi tercukupi. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Jumlah zat besi yang masuk ke dalam tubuh belum tentu semuanya bisa dimanfaatkan secara optimal. Proses penyerapan zat besi dan kondisi kesehatan saluran pencernaan ternyata memegang peranan yang sangat penting dalam upaya mencegah anemia.

Laurent Clément, yang menjabat sebagai Vice President Danone Research & Innovation untuk kawasan Asia Tenggara, menyampaikan bahwa tantangan dalam mengatasi anemia tidak hanya soal menyediakan zat besi yang cukup. Lebih dari itu, tantangan utamanya adalah memastikan mineral tersebut bisa diserap tubuh secara optimal tanpa mengganggu keseimbangan bakteri baik di dalam usus, atau yang dikenal dengan mikrobiota usus.

"Zat besi memang harus tersedia dalam jumlah yang cukup, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana tubuh dapat menyerapnya dengan baik," ujar Laurent dalam sebuah talkshow yang digelar di Pabrik Danone Spesialized Nutrition Prambanan, Jawa Tengah, pada Rabu, 08 Juli 2026.

Tingkat Penyerapan Zat Besi Berbeda Tergantung Sumber Makanannya

Laurent menjelaskan bahwa tidak semua sumber zat besi memiliki tingkat penyerapan yang sama. Zat besi yang berasal dari pangan nabati, seperti sayuran dan kacang-kacangan, umumnya lebih sulit diserap oleh tubuh jika dibandingkan dengan zat besi dari pangan hewani, seperti daging dan hati. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ada tidaknya senyawa lain yang bisa menghambat atau justru membantu penyerapan zat besi.

Menurut penjelasannya, zat besi dari makanan nabati yang tinggi kandungan fitat atau polifenol hanya bisa diserap oleh tubuh sekitar 2 hingga 5 persen saja. Sebaliknya, zat besi dari sumber hewani seperti daging merah bisa mencapai tingkat penyerapan sekitar 20 hingga 30 persen. Angka ini menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan.

"Perbedaan penyerapannya bisa sangat besar, mulai sekitar 2 persen hingga mencapai 30 persen, tergantung sumber zat besinya," kata Laurent.

Vitamin C Membantu, Fitat Justru Menghambat Penyerapan Zat Besi

Selain jenis makanannya, penyerapan zat besi juga sangat dipengaruhi oleh zat gizi lain yang dikonsumsi secara bersamaan. Vitamin C, misalnya, dikenal luas sebagai senyawa yang dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi, terutama zat besi non-heme yang berasal dari pangan nabati. Mengonsumsi makanan kaya vitamin C bersamaan dengan sumber zat besi nabati bisa menjadi strategi yang efektif.

Di sisi lain, senyawa seperti fitat yang banyak ditemukan dalam biji-bijian utuh dan kacang-kacangan, serta polifenol yang ada dalam teh dan kopi, justru dapat menghambat proses penyerapan zat besi. Oleh karena itu, strategi pencegahan anemia tidak bisa hanya berfokus pada meningkatkan asupan zat besi saja. Perlu juga diperhatikan kombinasi makanan yang dikonsumsi agar penyerapan zat besi bisa berjalan lebih optimal.

Zat Besi yang Tidak Terserap Bisa Mengganggu Keseimbangan Bakteri Usus

Salah satu hal yang menjadi perhatian para ahli adalah nasib zat besi yang tidak berhasil diserap oleh tubuh. Zat besi tersebut akan tetap berada di saluran cerna. Menurut Laurent, kondisi ini dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus, termasuk bakteri baik yang berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan secara keseluruhan.

"Yang tidak terserap akan tetap berada di usus. Karena itu, kita perlu memastikan penyerapan zat besi berlangsung optimal sekaligus menjaga keseimbangan mikrobiota," jelas Laurent.

Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa bakteri baik seperti Bifidobacteria memiliki peran penting dalam melindungi kesehatan usus. Apabila keseimbangan mikrobiota terganggu, bakteri patogen atau bakteri jahat dapat berkembang biak lebih banyak. Hal ini pada akhirnya dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan pencernaan maupun infeksi pada saluran cerna.

Inovasi Nutrisi: Menggabungkan Zat Besi, Vitamin C, dan Serat Prebiotik

Laurent mengatakan bahwa inovasi dalam produk fortifikasi atau penambahan gizi saat ini tidak lagi hanya berfokus pada penambahan zat besi semata. Pendekatan yang lebih modern adalah dengan mengombinasikan zat besi, vitamin C, dan prebiotic fibers atau serat prebiotik dalam satu formulasi. Tujuannya bukan hanya meningkatkan jumlah zat besi yang dikonsumsi, tetapi juga membantu penyerapannya dan sekaligus menjaga kesehatan saluran cerna.

Vitamin C berperan sebagai enhancer atau pendorong yang membantu meningkatkan penyerapan zat besi, terutama zat besi non-heme yang berasal dari pangan nabati maupun dari produk fortifikasi itu sendiri. Dengan penyerapan yang lebih baik, lebih banyak zat besi yang bisa dimanfaatkan oleh tubuh untuk membentuk hemoglobin. Hemoglobin adalah protein dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Proses ini sangat penting untuk membantu mencegah anemia defisiensi besi.

Peran vitamin C kemudian dilengkapi oleh prebiotic fibers. Serat jenis ini menjadi sumber makanan atau nutrisi bagi bakteri baik, terutama Bifidobacteria. Bakteri baik ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan mikrobiota usus. Mikrobiota usus yang sehat akan membantu mempertahankan fungsi pelindung saluran cerna dan sekaligus menekan pertumbuhan bakteri patogen yang bisa meningkatkan risiko infeksi.

Menariknya, prebiotic fibers tidak hanya menjaga keseimbangan bakteri usus, tetapi juga membantu meningkatkan penyerapan zat besi. Ketika difermentasi oleh bakteri baik di usus, prebiotic fibers menghasilkan asam lemak rantai pendek. Asam lemak ini menurunkan pH atau tingkat keasaman di dalam usus. Lingkungan usus yang lebih asam membuat zat besi lebih mudah larut, sehingga bioavailabilitas dan penyerapannya meningkat. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa mekanisme ini membantu tubuh memanfaatkan zat besi secara lebih optimal.

Pendekatan kombinasi ini menjadi sangat penting karena zat besi yang tidak terserap akan tetap berada di saluran cerna. Dalam jumlah yang berlebihan, zat besi yang tersisa di usus dapat mengubah komposisi mikrobiota usus. Zat besi tersebut bisa mendorong pertumbuhan bakteri patogen dan mengurangi dominasi bakteri baik. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko gangguan maupun infeksi pada saluran cerna.

"Tujuan kami bukan hanya meningkatkan penyerapan zat besi, tetapi juga melindungi kesehatan saluran cerna melalui keseimbangan mikrobiota usus," ujar Laurent.

Oleh karena itu, kombinasi antara zat besi, vitamin C, dan prebiotic fibers dalam produk fortifikasi dinilai sebagai salah satu pendekatan paling mutakhir untuk membantu mengatasi anemia defisiensi besi. Ketiga komponen tersebut bekerja saling melengkapi. Zat besi menyediakan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, vitamin C membantu meningkatkan penyerapannya, sedangkan prebiotic fibers mendukung proses penyerapan sekaligus menjaga keseimbangan mikrobiota usus.

Secara keseluruhan, pendekatan ini menunjukkan bahwa mengatasi anemia bukanlah perkara sederhana yang hanya bisa diselesaikan dengan menambah asupan zat besi. Kesehatan saluran cerna dan kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi secara optimal merupakan faktor yang tidak kalah pentingnya. Inovasi nutrisi yang menggabungkan beberapa komponen sekaligus menjadi langkah yang lebih komprehensif dalam menghadapi masalah gizi yang masih menjadi tantangan di Indonesia ini.

anemia defisiensi besipenyerapan zat besimikrobiota ususvitamin Cprebiotikbakteri baikzat besi non-hemefortifikasi

Komentar

Memuat komentar...