Angkringan: Sebuah Warung Biasa Berawal dari Desa Ngerangan
Gambar atau konten salah?
Angkringan, warung kecil yang menawarkan makanan ringan dan minuman, tersebar di hampir semua kota besar di Jawa. Namun, asal-usulnya tidak berasal dari pusat kota, melainkan dari desa pelosok bernama Ngerangan, di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.
Desa Ngerangan terletak di ujung selatan Klaten, berhadapan dengan Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Jaraknya dari pusat kota Klaten sekitar 12 kilometer ke selatan. Luas wilayah desa mencapai 294.785 hektare, didominasi oleh perbukitan dan lahan pertanian tadah hujan. Menurut data demografis, desa ini dihuni oleh 5.892 jiwa, tersebar di 13 RW dan 19 pedukuhan.
Di salah satu dukuh, yaitu Dukuh Sawit, terdapat museum angkringan dan gapura kampung yang menjadi penanda sejarah awal warung ini. Museum tersebut menandai kisah yang tidak terpisah dari nama Karso Jukut, warga Dukuh Sawit.
“Sejarah angkringan itu dimulai tahun 1938 berawal dari Mbah Karso Jukut, warga Sawit. Jukut muda saat usia 14 tahun ditinggal ayahnya meninggal, Jukut anak tertua dari empat bersaudara,” kata Suwarna, Ketua Pokdarwis Sumunar dan Bumdes Terang Jaya Desa Ngerangan.
Menjelaskan latar belakang, Suwarna menyebutkan bahwa Jukut, sebagai anak tertua, harus membantu menghidupi keluarganya. Sumber daya alam di desa tidak menjanjikan, sehingga ia memutuskan merantau. Ia berjalan kaki dari Sawit menuju Solo, mencari pekerjaan.
“Jukut berjalan kaki dari Sawit ke Solo dengan tujuan mencari pekerjaan, dan berhenti di perempatan Kerten (Laweyan, Solo) tetapi ada keributan sehingga Jukut yang takut dan bersembunyi. Setelah itu Jukut bertemu Mbah Wono dan mengatakan sedang mencari pekerjaan,” ungkap Suwarna.
Di Solo, Jukut mendapat pekerjaan menggarap sawah di daerah Kerten. Karena sifatnya yang rajin dan ulet, ia dipercaya untuk mengurus jualan nasi, tempe, dan tahu. Ia diberi alat berupa tumbu, wadah anyaman bambu, untuk berkeliling kampung ke kampung.
“Jukut ditugaskan berjualan dan bersedia sehingga dibuatkan alat berupa tumbu (wadah anyaman bambu) keliling kampung ke kampung. Tapi karena pembeli banyak minta minum, akhirnya Jukut punya ide, lalu membeli kayu dan membuat angkringan pikulan tahun 1942 yang ada tempat minumnya,” jelas Suwarna.
Seiring waktu, Jukut mengembangkan dagangan dengan membungkus nasi segitiga berisi sedikit nasi, sambal, dan ikan teri. Produk ini segera menjadi laris manis.
“Di situ mulai laris dan semakin laris. Suatu saat Jukut izin pulang kampung ke Desa Ngerangan tapi baliknya ke Solo mengajak Mbah Jeman untuk ikut jualan, Mbah Jeman meninggal baru sekitar tahun 2020 lalu dengan usia 97 tahun, dia saksi sejarah angkringan,” tambah Suwarna.
Setelah sukses, Jukut diambil sebagai menantu Mbah Wono. Ia dibelikan tanah bekas kandang di Kerten untuk tinggal. Kemudian ia membangun tempat menampung tetangga dari Desa Ngerangan yang ikut jualan. Jeman, yang ahli membuat teh dan jahe, turut mengembangkan penjualan nasi dan berbagai minuman.
“Jukut diambil menantu Mbah Wono dan dibelikan tanah bekas kandang untuk tinggal di Kerten. Kemudian dibangun tempat menampung tetangga dari Desa Ngerangan yang ikut jualan dan ternyata Jeman ternyata ahli membuat teh dan jahe sehingga berkembang jualan nasi dan berbagai minuman,” ujar Suwarna.
Seiring berjalannya waktu, jumlah warga Desa Ngerangan yang ikut berjualan semakin banyak. Bahkan, dari desa lain, sekitar 25–30 orang bergabung. Awalnya, nama kuliner ini konon bukan angkringan, melainkan nasi hik.
“Namanya bukan angkringan tapi nasi hik. Karena saat keliling penjual meneriakkan 'hik turr' sebagai penanda. Dari keliling dipanggul, angkringan berubah tahun 1974 menjadi gerobak dorong yang punya ide adalah Mbah Medi Midin, anak buah Mbah Jukut,” jelas Suwarna.
Hik atau angkringan gerobak dorong terus berkembang. Pada tahun 1980–1990, ia mulai mangkal di titik tertentu. Hik atau angkringan juga menyebar ke Jogja. Pada tahun 1970-an, ada yang berjualan ke Yogyakarta, namun kadang belum laku sehingga mereka pindah ke Solo. Akhirnya, angkringan diterima di Yogyakarta dan dikenal lebih luas sebagai warung koboi.
Wakiman, keponakan dan bekas anak buah Jukut, menceritakan bahwa ia ikut berjualan selama 15 tahun. Saat itu, belum ada gerobak dorong atau mangkal. Ia masih menggunakan pikulan kayu.
“Dulu saya ikut jualan dari tahun 1970 dan masih pikulan kayu, pakai angkringan kayu, keliling. Dulu di Kerten depan Lokananta rumahnya (rumah Jukut),” ungkap Wakiman.
Menurut Wakiman, ketika ia ikut berjualan hik keliling, Jukut memiliki anak buah sekitar 30 orang, termasuk dirinya. Nama hik masih berupa pikulan keliling kota Solo.
“Saya keliling Solo, ya nasi teri tapi terus ada gorengan, lauk dan lain sebagainya. Jukut itu paman saya keseharian senang puasa ngrowot,” tutur Wakiman mengenang.
Angkringan yang bermula dari sebuah pikulan kayu di Desa Ngerangan kini telah menjadi bagian penting dari budaya kuliner Jawa. Dari satu keluarga kecil, warung ini menyebar ke kota-kota besar, membawa cita rasa sederhana namun tetap autentik. Perjalanan Jukut dan para pengikutnya menunjukkan bagaimana usaha kecil dapat tumbuh menjadi tradisi yang dikenang oleh banyak orang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SPMB Jateng 2026: Pendaftaran Murid Baru Buka Resmi
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai
SPMB SMA/SMK 2026: Kuota 5% Domisili Desa dan 2% ATS Jateng
Berita Terbaru
Tantangan Menemukan Angka Tersembunyi dalam Foto 7 Soal
One Satrio Jadi Destinasi Kuliner Jakarta Selatan Penuh
MBG Teriak Korupsi: BGN Diputar, Prabowo Tetap Optimis
Pasangan Ganda Indonesia Kalah di Indonesia Open, Siap Dunia
Harga Emas Antam Palembang Turun Rp2,759.000 per Gram
Harga Emas Antam Medan Turun Rp15.000 per Gram di Medan
Sekolah Jember Siapkan Lapangan Sepak Bola Internasional
Kementerian Sosial Buka 5.127 Posisi PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026
