Antrean Solar Pekanbaru, Sopir Menginap Demi Isi BBM
Gambar atau konten salah?
Di Kota Pekanbaru, Riau, antrean panjang kendaraan terjadi di sejumlah SPBU yang menjual bahan bakar minyak (BBM) jenis bio solar. Situasi ini sudah berlangsung sejak lebih dari satu pekan terakhir. Para sopir bahkan rela menginap di SPBU hanya untuk mendapatkan bahan bakar.
Pantauan di lapangan menunjukkan, antrean kendaraan terlihat di beberapa titik. Di antaranya SPBU Jalan SM Amin, Jalan Soekarno-Hatta, Kubang Raya, dan beberapa SPBU lainnya. Untuk SPBU yang berada di Jalan SM Amin, tepat di sebelah kantor pajak, kendaraan mengantre hingga mencapai Tugu Songket di Jalan Tuanku Tambusai.
Kondisi paling parah terjadi di SPBU yang berada di jalan lingkar. Mayoritas SPBU di kawasan itu mengalami antrean panjang. Akibatnya, banyak kendaraan berat yang akhirnya masuk ke dalam kota untuk mencari solar. Kendaraan yang mendominasi antrean adalah truk CPO dan mobil Fuso.
Seorang pengendara mobil minibus bernama Heru menceritakan pengalamannya. "Antre panjang, berjam-jam baru dapat kita isi minyak solar," ujarnya pada Selasa, 14 Juli 2026.
Heru bukan satu-satunya yang mengalami kesulitan. Pengendara lain, Tampu, seorang sopir asal Sumatera Utara, terpaksa menginap di SPBU. Penyebabnya, bahan bakar mobilnya habis total. Ia harus menunggu hingga pagi hari karena SPBU di Jalan SM Amin itu tidak buka 24 jam.
"Terpaksa nginap, kalau enggak besok pasti ramai lagi antrian. Ini mau cari solar tempat lain takut enggak kebagian," kata Tampu.
Tampu tidak sendirian. Ia menginap bersama belasan kendaraan lain. Situasi ini jelas mengganggu perjalanan mereka. Mereka harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk antre BBM, bahkan sampai menginap di SPBU.
"Kena di operasional, nginap, makan, semua kan pakai biaya. Kalau dikejarkan siang juga enggak dapat. Kasian juga sama sopir-sopir lintas macam kami ini, habis waktu," keluh Tampu dengan nada kesal.
Antrean panjang ini menunjukkan bahwa pasokan bio solar di Pekanbaru belum mencukupi permintaan. Para sopir, terutama yang mengangkut barang lintas provinsi, menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka kehilangan waktu dan uang hanya untuk menunggu bahan bakar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
