AS Ekuasi Dua Anggota Kru F-15 Jatuh di Iran Selatan
Gambar atau konten salah?
Amerika Serikat berhasil mengevakuasi dua anggota kru dari jet tempur F‑15 yang jatuh di wilayah selatan Iran. Kedua prajurit tersebut berhasil melontar diri dari pesawat dan satu di antaranya diselamatkan terlebih dahulu.
Operasi penyelamatan tempur, atau CSAR, dikenal sebagai salah satu misi paling rumit. William Fallon, mantan perwira AL AS, mengatakan pada BBC bahwa pelaksanaan di malam hari kemungkinan besar menguntungkan. "Kegelapan lebih baik bagi pasukan kita karena terbiasa beroperasi malam hari," ungkapnya.
Setelah pesawat mendarat, pilot kemungkinan langsung mengumpulkan parasut dan menyembunyikannya. Ia dilatih untuk menyalakan sinyal suar, menuju dataran tinggi, menyembunyikan diri, dan menjalin komunikasi. Semua prosedur ini dirancang agar korban tetap dapat terhubung meski dalam kondisi ekstrem.
Pejabat menegaskan bahwa kru tersebut menghabiskan lebih dari 24 jam sendirian, sembunyi di pegunungan, dan mendaki bukit setinggi 2.000 meter. Presiden Donald Trump menambahkan bahwa lokasinya dipantau 24 jam sehari oleh pejabat yang merencanakan operasi. Setelah diselamatkan, ia diterbangkan ke Kuwait untuk dirawat.
Operasi ini diluncurkan dengan kombinasi intelijen real time dan alat pengawasan khusus, bersamaan dengan taktik pengelabuan CIA. "Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, tetapi dalam kasus ini, jarum tersebut adalah nyawa prajurit Amerika pemberani di dalam celah pegunungan yang takkan terlihat jika bukan karena kemampuan CIA," kata pejabat senior pemerintahan Trump.
Berkat beberapa perangkat canggih, kru tetap terhubung setelah melontar. Perangkat standar awak udara AS memancarkan sinyal marabahaya terenkripsi yang dapat dideteksi oleh pesawat dan satelit. Perangkat yang disimpan dalam rompi bertahan hidup menyala otomatis ketika pilot melontar, sehingga meski tak sadar atau dalam kondisi lebih buruk, ia tetap dapat ditemukan.
Perangkat kecil seperti PRC‑648 buatan Elbit Systems atau Combat Survivor Evader Locator dari Boeing memancarkan sinyal pemandu yang memungkinkan helikopter penyelamat mendeteksi lokasinya, kemudian dapat mulai berkomunikasi begitu helikopter dalam jangkauan.
Alat yang kokoh dan ringkas ini, dengan baterai ekstra panjang, terus-menerus mengirim koordinat militer presisi dan terenkripsi, komunikasi data, dan pesan singkat kepada pasukan teman melalui satelit militer. Perangkat ini juga tahan terhadap gangguan sinyal dan interferensi elektronik, serta berfungsi meskipun terendam air.
Operasi penyelamatan kemungkinan juga melibatkan citra satelit beresolusi tinggi dan sistem pengawasan rahasia lainnya yang mampu mendeteksi jejak panas atau emisi elektronik di daerah terpencil.
Setelah lokasi teridentifikasi, pihak Amerika melakukan ekstraksi cepat di bawah naungan kegelapan. Pasukan penyelamat beroperasi di bawah perlindungan kehadiran armada udara AS yang besar saat mereka menghadapi tembakan dari pasukan Iran.
Misi pencarian dan penyelamatan tempur umumnya mengandalkan helikopter operasi khusus yang dirancang untuk penerbangan dengan visibilitas rendah di lingkungan yang tidak bersahabat. Ia dilengkapi navigasi canggih dan avionik penglihatan malam yang memungkinkan kru terbang dekat permukaan tanah guna menghindari deteksi.
Laporan media menyebutkan berbagai pesawat AS dikerahkan dan memberikan dukungan langsung jika diperlukan. Radar atau komunikasi musuh pun dapat dipastikan diganggu selama proses evakuasi.
Operasi ini menyoroti koordinasi antara intelijen, pasukan khusus, dan aset penerbangan. Keterlibatan teknologi canggih, perlindungan malam, dan pengawasan real time menjadi kunci keberhasilan di wilayah yang sangat berbahaya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis