Bahaya Menahan Kencing: Otot Lemah hingga Ginjal Rusak
Gambar atau konten salah?
Banyak orang menganggap sepele kebiasaan menahan buang air kecil. Padahal, para dokter spesialis urologi memperingatkan bahwa tindakan ini bisa berakibat serius dan merusak fungsi kandung kemih. Di tengah aktivitas kerja atau saat sedang sibuk, sebagian orang mungkin sering menunda pergi ke toilet. Kebiasaan ini ternyata menyimpan risiko yang tidak boleh diabaikan.
Dr Ankit Sharma, seorang konsultan urologi di Manipal Hospital, India, menjelaskan bahwa secara anatomi, kandung kemih manusia dirancang untuk menampung urine dalam jumlah tertentu. Saat organ ini sudah penuh, saraf akan mengirimkan sinyal ke otak bahwa sudah waktunya ke kamar mandi. Namun, jika sinyal tersebut terus-menerus diabaikan, berbagai masalah kesehatan bisa muncul.
Salah satu bahaya yang mengintai adalah otot kandung kemih yang melar dan melemah. Kandung kemih memiliki sifat elastis seperti balon. Jika terlalu sering menahan kencing dalam jangka panjang, otot-otot dinding kandung kemih akan meregang secara berlebihan hingga kehilangan elastisitasnya. Akibatnya, otot menjadi lemah dan kehilangan kemampuan untuk berkontraksi dengan kuat saat benar-benar ingin buang air kecil.
Masalah berikutnya adalah urine yang tersisa di dalam kandung kemih dan memicu infeksi saluran kemih (ISK). Karena otot kandung kemih sudah melemah, tubuh tidak lagi mampu mengeluarkan urine secara tuntas. Kondisi ini menyisakan genangan urine di dalam kandung kemih. Urine yang mengendap lama ini menjadi tempat paling sempurna bagi bakteri untuk berkembang biak dengan cepat, yang pada akhirnya memicu ISK yang menyakitkan.
Bahaya tidak berhenti di kandung kemih saja. Risiko kerusakan ginjal juga mengintai. Saat kandung kemih sudah benar-benar penuh dan tidak mampu lagi menampung cairan, urine bisa mengalami aliran balik atau reflux naik kembali ke saluran ureter hingga menuju ginjal. Penumpukan urine yang membawa bakteri ini berpotensi memicu infeksi ginjal serius hingga penurunan fungsi ginjal.
Kebiasaan menahan buang air kecil juga bisa mengacaukan sistem saraf di area panggul. Otak dan kandung kemih menjadi tidak sinkron dalam mengirimkan sinyal. Akibatnya, seseorang bisa mengalami sindrom kandung kemih overaktif (Overactive Bladder). Kondisi ini akan membuat seseorang merasakan dorongan mendadak untuk buang air kecil secara intens dan sangat sering, meskipun urine yang ada di dalam kandung kemih sebenarnya baru sedikit.
Dr Ankit Sharma menyarankan untuk tidak menunggu hingga kandung kemih terasa sangat penuh atau kebelet parah baru beranjak ke toilet. Idealnya, manusia buang air kecil setiap 3 hingga 4 jam sekali untuk menjaga kesehatan saluran kemih. Jika mulai merasakan nyeri di perut bagian bawah, anyang-anyangan, atau urine berwarna keruh, segera konsultasikan ke dokter untuk mendeteksi dini adanya gangguan pada sistem kemih.
Kebiasaan menahan buang air kecil memang terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa sangat serius. Mulai dari melemahnya otot kandung kemih, infeksi saluran kemih, hingga risiko kerusakan ginjal. Jangan menunggu sampai muncul gejala baru bertindak. Jadwalkan buang air kecil secara teratur setiap beberapa jam, meskipun tidak merasa kebelet. Ini adalah langkah sederhana untuk menjaga kesehatan saluran kemih dalam jangka panjang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahaya Menahan Kencing: Otot Lemah hingga Ginjal Rusak
Messi Berjalan 64% Waktu, Tetapi Jadi Top Skor Piala Dunia
ADI Desak Reformasi Dosen Jadi Prioritas Nasional
DJP Kirim 317 Ribu Email Imbauan Pembetulan SPT
IU Siapkan Album Baru Usai Drama
11 Tahanan Kabur dari Rutan Polres Kolaka Utara
Tanggul Lumpur Lapindo Bocor, Rel Kereta Terancam
Liburan Sekolah Mau Habis, Ini 12 Wisata Sehari