Bamsoet: Cerutu Indonesia Belum Bisa Menembus Pasar Dunia

Tika M. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 78 dibaca
Bisik.id
Bamsoet: Cerutu Indonesia Belum Bisa Menembus Pasar Dunia

Gambar atau konten salah?

Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menegaskan bahwa industri cerutu Indonesia masih belum mampu menembus pasar dunia yang didominasi oleh negara‑negara seperti Kuba, Dominika, dan Nikaragua. Ia menyoroti bahwa, meski Indonesia memiliki kualitas tembakau kelas dunia, posisi negara ini masih tertinggal dalam hal branding, distribusi, dan penguasaan pasar premium global.

“Indonesia punya semua prasyarat untuk menjadi pemain utama cerutu dunia, mulai dari kualitas tembakau hingga tenaga kerja terampil. Tetapi kita masih tertinggal dalam membangun brand dan positioning di tingkat pasar dunia,” ujar Bamsoet pada saat pernyataannya, Senin (13 April 2026). Ia mengajak semua pihak untuk memperkuat citra Indonesia di kancah internasional.

Pernyataan tersebut muncul ketika Bamsoet menghadiri acara Halal Bihalal Omah Cerutu Nusantara di UNCLE Z Kopi Tiam Senopati Jakarta, Minggu (12 April 2026) malam. Acara tersebut menjadi ajang pertemuan para pelaku industri, pejabat pemerintah, dan tokoh masyarakat yang berkecimpung di dunia tembakau.

Menurut data yang diungkapkan, nilai pasar cerutu dunia mencapai puluhan miliar dolar AS. Pada 2025, permintaan global diperkirakan mencapai sekitar 58 miliar dolar AS, sementara ekspor Indonesia masih mengalami fluktuasi dan bahkan penurunan pada beberapa periode. Bamsoet menegaskan bahwa persaingan industri cerutu tidak hanya soal kualitas produk, melainkan juga strategi pasar dan kekuatan merek.

“Meskipun ekspor tembakau Indonesia terus tumbuh dengan rata-rata kenaikan sekitar 4,8 persen per tahun, posisi Indonesia dalam pasar dunia masih tertinggal. Indonesia baru berada di kisaran peringkat menengah sebagai eksportir tembakau dunia, sementara negara lain telah melompat jauh dengan mengembangkan industri hilir berbasis brand premium,” tambahnya.

Di sisi lain, Bamsoet menyoroti sejarah panjang industri cerutu nasional. Kabupaten Jember, misalnya, telah dikenal sejak era kolonial sebagai pusat tembakau cerutu berkualitas tinggi dan hingga kini tetap menjadi tulang punggung produksi nasional. Produk cerutu dari daerah ini telah menembus pasar Eropa, Asia, hingga Amerika, sekaligus menjadi bagian dari identitas ekonomi dan budaya daerah.

Data ekspor tembakau Jember pada 2023 menunjukkan volume lebih dari 3 juta kilogram dengan nilai devisa sekitar USD 31,9 juta. Beberapa produsen cerutu mulai menembus pasar global dengan merek sendiri, seperti ekspor ke Malaysia dan Thailand yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

“Ini bukti bahwa cerutu Indonesia sudah mulai diterima pasar internasional. Tinggal bagaimana kita meningkatkan skala, konsistensi kualitas, dan memperkuat narasi sebagai produk premium,” ungkap Bamsoet.

Di dalam negeri, sejumlah merek cerutu telah berkembang. Mulai dari BIN Cigar di Jember yang agresif menembus pasar ekspor, Taru Martani di Yogyakarta yang membawa warisan sejarah panjang, hingga berbagai produsen lain termasuk Djarum Cigarillos, Bamsoet Cigar, dan pelaku UMKM yang terus bertumbuh. Bahkan, dalam ekosistem nasional terdapat ratusan varian merek cerutu yang diproduksi, mencerminkan potensi besar industri ini jika dikelola secara terintegrasi.

Bamsoet menekankan bahwa kekuatan utama Indonesia sendiri terletak pada tembakau lokal seperti Besuki Na-Oogst, yang dikenal sebagai salah satu bahan wrapper terbaik dunia. Didukung kondisi tanah vulkanik dan iklim tropis, Indonesia memiliki karakter rasa yang unik dan berpotensi menjadi diferensiasi di pasar dunia.

“Saat ini pasar cerutu dalam negeri masih relatif kecil, hanya sekitar 20-30 persen dari total produksi atau sekitar 1-2 juta batang per tahun. Artinya masa depan industri cerutu Indonesia memang ada di pasar internasional. Karena itu strategi ekspor harus menjadi prioritas utama, termasuk dukungan diplomasi ekonomi dan promosi,” pungkas Bamsoet.

Acara tersebut juga dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, antara lain Menko bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Anggota BPK RI Bobby Rizaldi, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutarjo, Gubernur Sumatera Selatan, Gubernur Lampung, Gubernur Bangka Belitung, Gubernur Jambi, Bupati Blora Arief Rohman, serta pendiri Omah Cerutu Nusantara (OCN) Helmy Faishal Zaini dan Andi Rahmat. Para pemilik merek seperti Febrian Ananta Kahar (BIN Cigar), Perikhsa Charles Wicaksana (Bamsoet Cigar), dan Jeremy Thomas (JT Royale) juga hadir, bersama musisi Lilo KLA dan Katon Bagaskara.

Dengan semua pihak yang terlibat, dialog tentang potensi cerutu Indonesia di pasar global semakin intens. Fokus utama tetap pada peningkatan kualitas, konsistensi, dan penciptaan narasi merek yang kuat agar produk Indonesia dapat bersaing di panggung internasional.

Cerutu IndonesiaPasar GlobalTembakau Kelas DuniaBranding CerutuEkspor CerutuIndustri CerutuJember

Komentar

Memuat komentar...