Bangkai Paus Antartika Buka Ekosistem Laut Dalam Kuno

Putri N. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 114 dibaca
Bisik.id
Bangkai Paus Antartika Buka Ekosistem Laut Dalam Kuno

Gambar atau konten salah?

Pada 01 Januari 2010, sekelompok ahli biologi kelautan melakukan penyelaman di kedalaman samudra yang sangat dingin di sekitar Antartika. Tanpa disengaja, mereka menemukan kerangka paus raksasa yang masih bersih, namun telah dilahap oleh organisme laut dalam.

Temuan ini tidak hanya menghasilkan identifikasi spesies baru, tetapi juga membuka pandangan baru tentang bagaimana ekosistem laut dalam dapat bertahan hidup di kondisi ekstrem. Laut dalam di Samudra Selatan, di sekitar Antartika, memiliki suhu di bawah titik beku. Tanpa cahaya, tumbuhan fotosintesis tidak dapat berfungsi. Organisme di sana harus mencari sumber nutrisi alternatif.

Salah satu cara mereka memperoleh nutrisi adalah melalui salju laut, yaitu hujan sisa bahan organik yang jatuh dari permukaan laut ke kedalaman. Cara lain adalah dengan bangkai paus yang tenggelam di dasar laut. Bangkai ini menjadi sumber makanan melimpah yang dapat bertahan berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan beberapa dekade.

Menemukan dan mempelajari bangkai di kedalaman samudra tidaklah mudah. Sebagian besar bangkai yang pernah ditemukan berada di perairan beriklim sedang atau tropis. Sampai saat itu, belum ada bangkai paus yang ditemukan di Antartika. Ekspedisi Inggris menggunakan kapal RRS James Cook pada 01 Januari 2010 akhirnya menemukan kerangka paus tersebut.

“Kami baru saja menyelesaikan penyelaman menggunakan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh milik Inggris, Isis, ketika kami melihat sekilas deretan bongkahan berwarna pucat di kejauhan, yang ternyata tulang belakang paus di dasar laut,” ujar Jon Copley, profesor eksplorasi laut University of Southampton.

Kerangka paus berukuran 10,7 meter terletak di kawah bawah laut di dekat Kepulauan South Sandwich pada kedalaman 1.444 meter. Ia diidentifikasi sebagai Balaenoptera bonaerensis, paus minke Antartika, yang merupakan paus balin paling melimpah di lautan dunia.

Tubuh paus tersebut sudah dalam tahap pembusukan sangat lanjut. Hampir tidak ada daging atau lemak tersisa. Pada fase ini, bakteri memecah lemak yang tersimpan di tulang paus, melepaskan energi kimiawi yang menopang kehidupan berbagai biota laut.

Berkat proses kemosintesis ini, tulang paus masih dipenuhi organisme pemakan bangkai. Di antaranya terdapat setidaknya sembilan spesies baru, termasuk spesies baru krustasea isopoda yang menyerupai kutu kayu bawah air, serta Lepetodrilus, sejenis siput laut yang belum pernah dideskripsikan.

Para peneliti juga mengidentifikasi cacing zombi pemakan tulang menakjubkan yang dikenal sebagai Osedax. Cacing ini dapat melarutkan tulang paus dengan zat asam untuk mengakses nutrisi. Di luasnya Samudra Selatan, makhluk-makhluk ini mampu menemukan bangkai yang sangat terpencil.

“Salah satu misteri biologi laut dalam terbesar yang masih tersisa adalah bagaimana invertebrata kecil ini dapat menyebar di antara habitat-habitat terisolasi yang ditopang bangkai-bangkai paus dasar laut,” tambah Adrian Glover dari Natural History Museum, London.

Penemuan ini menunjukkan bahwa ekosistem laut dalam memiliki mekanisme unik untuk memanfaatkan sumber daya yang sangat terbatas. Bangkai paus menjadi pusat kehidupan bagi banyak spesies, memicu proses pembusukan dan kemosintesis yang mendukung keberagaman biota di kedalaman samudra. Penelitian ini membuka peluang untuk memahami lebih lanjut tentang adaptasi organisme di lingkungan yang paling keras di planet ini.

bangkai pausAntartikaekosistem laut dalamkemosintesiscacing Osedaxorganisme mikrobaKepulauan South Sandwich

Komentar

Memuat komentar...